Langsung ke konten utama

Teruntuk pria yang pertama kucinta


Apa kabar Irian Jaya dengan segala surga tersembunyi di dalamnya.
Aku harap baik dan akan selalu baik, karena ada satu pria disana yang menggantung berjuta harapan untuk masa depan empat wanita yang dia cinta. Papa. Sudah satu bulan lebih sejak Papa berpamitan untuk bertugas disana. Banyak hal yang ingin aku ceritakan. Tentang liburanku. Tentang pertengkaranku dengan Ajeng dan Cerya. Tentang perdebatanku dengan Mama menentukan warna cat rumah. Tentang aku yang mulai mengerti sesuatu, sebuah rasa.
Pa, sedang apakah? Sibuk bekerja? Atau beristirahat? Atau tidur untuk menghilangkan jutaan penat?
Astaga Pa, aku baru menyadarinya, bahwa Irian Jaya begitu jauh dan tak mudah untuk direngkuh. Biarpun tiap malam selalu memberi kabar tetap saja janggal jika tidak diimbangi dengan kehadiran. Mungkin rinduku ini tidak ada seperseribu dari rindu Mama untuk Papa.
Pa, kadang rindu hadir dari hal kecil yang tak pernah terpikir. Aku rindu duduk bersisian denganmu di teras rumah menghabiskan sore dengan segelas kopi hitam dingin kesukaanmu sambil menciptakan obrolan hangat hingga kau dan aku melebur dalam sebuah tawa. Aku rindu saat Papa meledekku karena ponselku yang berdering tapi aku tak bergeming, aku ingat kata Papa, hidup tak melulu soal cinta dan pertengkaran, tapi juga maaf dan rasa menyesal.
Bahkan kini aku rindu saat Papa mengeluarkan banyak komentar untuk nilaiku diakhir semester. Rindu melihat Papa begitu serius memperhatikan kartu hasil studiku yang kubawa pulang saat libur semester menjelang. Rindu saat Papa terlihat bingung melerai ketiga anak gadis yang setiap hari hanya bertengkar, karena tak ingin melukai salah satu diantara kami. Rindu melihat Papa menggoda Mama yang kebingungan dengan ponsel barunya.
Semua hal itu terdengar lucu Pa, namun tak berarti jika Papa tidak disini. Kini, anak gadismu yang paling cantik sedang jatuh hati. Pria itu tinggi dan , ehm, baik hati. Dia sudah beberapa kali datang untuk beramah tamah sayangnya Papa selalu tidak dirumah.
Mama pasti sudah cerita banyak kan?
Jaga kesehatan disana, Pa. Kami disini, empat wanitamu yang cantik-cantik hanya bisa berdoa. Semoga segala usaha yang Papa kerjakan untuk masa depan selalu dalam ridho dan lindungan Tuhan. Semoga segala yang baik selalu memeluk Papa.
Cepat pulang Pa, karena tak ada yang bisa mengobati rindu selain temu dan tawa hangat darimu.

#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-11

Komentar

  1. Aku kebalikannya kak, waktu kuliah disemarang papa yg paling sering khawatirin nyuruh2 pulang tiap minggu :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sembunyikan Saya

Kepada mu yang masih menyembunyikan saya dari seluruh dunia. Kita pernah sama-sama saling bersilang jalan. Pernah saling bersisian. Pernah saling pergi. Tapi, apa yang semestinya jadi satu pasti akan kembali.  Kita pernah pula saling melewatkan. Pernah juga dengan berat hati melepas genggaman. Tapi, apa yang semestinya jadi milik kita akan datang tanpa pernah memberi tahu. Kini, saya senang berada disini. Di tempat yang ingin saya tetapkan menjadi rumah. Tempat saya pulang dari segala lelah. Tempat yang tidak seorang pun tahu, karena kamu dengan begitu tenang menempatkan saya dengan begitu rahasia di situ. Di hatimu.  Maka dengan surat ini, kamu harus bertanggung jawab karena sudah membuat saya betah. Kamu harus menjaga saya agar tetap berada di sisimu. Meyakinkan saya untuk tidak membuka pintu. Membuat saya jatuh hati setiap hari padamu. Sebagai hadiah, kamu dapat menikmati senyum saya yang manis semau mu😄 #30HariMenulisSuratCinta

Thank You Mozaik

Hai, Mozaik Al Isamer, putra sulung Bapak Insan Asyik.  Sekitar tiga hari yang lalu aku berkunjung ke typoganteng.com dan membaca tulisan yang berjudul "Ayah, Kau Terbaik!". Dan karena ulahmu menuliskan itu berhasil membuatku menangis dan merindukan ayahku.  Yang paling bisa buat mata berkaca-kaca di bagian yang ini, "Gue anak nggak berguna, kalau dia nggak bisa nikmatin masa tua nya." Aku rasa apapun yang berhubungan dengan orang tua akan selalu bersinggungan dengan air mata.  Sebelumnya, aku akan memperkenalkan diri dengan sejelas-jelasnya karena ini bukan surat kaleng. Namaku Vici Kurnia Ayuningtyas, putri sulung Bapak Muazin. Kelahiran Lampung, 22 Mei 1995. Seperti yang kamu tuliskan sebelumnya bahwa setiap Ayah akan selalu punya "keren" nya masing-masing. Tapi, pandangan anak perempuan dan laki-laki tentang Ayah akan sangat berbeda menurutku. Seperti nama Ayahku; Muazin, yang katanya arti nama itu adalah pria yang mengumandangkan adzan. Ta...

Menyukai Seseorang

Bukankah menyukai seseorang adalah hal yang mudah? Hanya cukup dengan menyukai nya, tanpa perlu tahu siapa mantan kekasihnya, pekerjaannya, apa yang sedang ada dalam pikiran nya. Hidup akan baik-baik saja sepertinya. Hari-hari hanya akan ada perasaan baik, mendoakan, mengharapkan. Dalam menyukai kita selalu diperbolehkan berharap, tidak ada yang bisa membatasi rasa dan harapan itu karena semuanya milikmu. Rasa ingin tahu tentang nya adalah yang paling menguasi pikiran mu. Tentang hobi nya,  makanan dan film favorit nya, tipe pasangan yang menjadi impian nya. Padahal rasa ingin tahu itu bisa melukai. Tapi, tiap kali kamu menyukai seseorang seolah kamu merasa jadi manusia yang paling bisa menahan rasa sakit. Kamu merasa baik-baik saja saat orang yang kamu sukai muncul di timeline mu.  Hadir sesekali lewat instastory. Hanya dengan itu kamu merasa jadi yang paling tahu tentang diri nya. Kamu merasa hari mu dipenuhi tawa dengan melihat foto nya yang sedang tersenyum,...