Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2017

Luar Angkasa

Kereta malam ini lengang sekali tapi hati saya sesak. Meskipun hal baik datang, hal buruk belum mau terlupakan. Saya masih memandang foto pria yang begitu terang-terangan menyakiti hati saya. Masih terselip harapan semoga dia kembali dan berubah pikiran. Saya tahu, itu akan menjadi hal bodoh. Tapi jika saya merelakan nya apakah saya dulu tidak sungguh-sungguh mencintai nya? Banyak sekali pertanyaan yang menunggu untuk di jawab. Saya hanya tidak siap mengeluarkan jawaban yang berbeda dengan kenyataan. Saya masih termenung. Perjalanan sebentar lagi usai, hanya tinggal tiga stasiun dan saya bisa menangis kuat untuk yang terakhir kali nya. Saya sudah tidak mau merasakan nyeri ini lagi. Malam ini semuanya harus selesai. Getar ponsel genggam menahan air mata saya yang sudah hampir tidak bisa ditahan. Nama Fauzan yang tertera pada layar ponsel. Jika ini masalah pekerjaan, sungguh saya akan mengutuk Fauzan. “Vi, jadi mau ikut ke Jogja nggak? Gue udah dengar kabar dari pak Rizal ni...

Luar Angkasa

Suara langkah kaki terdengar mulai ramai menuju ruangan. Saya segera menghilangkan wajah Art dari layar. Jantung saya berdegup cepat sekali seperti orang yang ketakutan. Saya menarik napas panjang menenangkan diri. Art menyebalkan sekali, bagaimana bisa membuat saya melakukan hal bodoh di tengah rasa patah hati. Semua sibuk kembali dengan layar monitor. Sesekali suara telepon memecah keheningan lalu kembali diam. Saya sudah mulai gelisah karena waktu kerja yang berjalan lambat. Semoga tidak ada pekerjaan dadakan di waktu-waktu akhir seperti ini. Saya benar-benar ingin menidurkan perasaan.  Saat saya mulai sibuk merapikan meja, telepon dengan nomor 300 memanggil. Pak Rizal, atasan pertama yang saya miliki. Manusia baik yang pantas mendapatkan posisi nya saat ini. “Villa, bisa ke ruangan saya sekarang?” Tanya sekaligus perintah Pak Rizal. Saya rasa Pak Rizal akan membicarakan masa magang yang sebentar lagi akan selesai. Helaan napas saya cukup keras hingga membua...

Saling Menjaga Setia

Untuk calon pasanganku kelak, Malam ini hujan dan aku rindu. Tapi,  aku tidak ingin bertemu denganmu.  Aku ingin kita menjaga diri satu sama lain. Pertemuan saat ini hanya akan membuat perasaan ku tidak terkendali. Merasa ingin memilikimu, padahal kamu sepenuh nya milik Allah.  Untuk calon pemimpin di hidupku kelak, Aku tidak bisa menjanjikan apapun k arena Allah sebaik-baiknya perencana. Aku hanya bisa berusaha untuk selalu menjadi pendamping yang selalu menguatkan mu. Aku hanya bisa menjadi makmum yang nanti nya akan selalu berdiri di belakangmu untuk berlindung sekaligus pelindung. Untuk calon pasangan ku kelak, Aku mungkin bukan seorang guru yang baik.  Aku mungkin bukan seorang koki yang handal. Aku juga mungkin bukan seseorang yang selalu bisa membuat mu tenang.  Tapi,  aku selalu berusaha untuk menjadi wanita yang selalu bisa kamu amanatkan untuk menjaga perasaan. Tentu saja akan banyak godaan dari sisiku dan sisimu. Tapi kepercayaan adal...

Luar Angkasa

“Ada anak baru ya?” Suara Iva terdengar samar diantara ratusan jari yang saling beradu dengan keyboard. Saya langsung membuka email untuk semua staff, karena di kantor ini semua pengumuman akan disampaikan melalui email. “Hello semua, kita ada tambahan keluarga baru nih, untuk kantor cabang Surabaya ya sebagai Service Engineer. Berikut biodata nya Nama  : Muhammad Artla (panggil nya Art) Tempat/tanggal lahir : Bengkulu, 2 Mei 1995 Mohon bantuan nya supaya Art betah dan dapat bekerja dengan baik.” Diakhir email, foto pria itu dengan jaket almamater merah tersenyum manis. Saya ikut tersenyum melihat tanggal lahir kami hanya terpaut dua puluh hari. Saya hanya bisa menghela napas melihat foto pria itu di layar monitor. Dia beruntung sekali mendapat pekerjaan saat saya sebentar lagi hengkang. Saya beranjak keluar dan bergabung dengan rekan lain nya untuk mulai kebingungan memilih makan siang. Art menjadi pembicaraan hangat saat makan siang. Dari mulai penampilan Art...

Luar Angkasa

Sekitar April... Hari ini tepat satu minggu setelah saya tahu seorang pria yang saya cintai dengan begitu sungguh selama dua tahun mencintai wanita lain. Saya tentu saja hancur. Hidup memang selalu tahu bagaimana cara nya menegur saat saya sudah keterlaluan dengan perasaan. Layar monitor berkali-kali masih terlihat buram oleh air mata. Saya tidak bisa melupakan dia begitu saja. Suasana kantor yang ramai mulai menyebalkan. Padahal biasa nya menjadi sumber keributan saat bekerja cukup menyenangkan. Hari ini juga tepat satu minggu sebelum posisi saya sebagai anak magang di kantor berakhir. Sungguh, rasa nya saya hanya ingin kembali ke rahim ibu. Sedari pagi, suara Raisa mengisi keheningan di ruangan kantor yang cukup besar. Menambah nyeri di dada. Mulai ada senior yang berkeliling ke tiap meja hanya untuk sekedar bergurau atau bahkan diam saja. “Vi, lo mau ikut gathering ke Jogja?” Suara seorang pria yang sudah mulai saya hafal. Fauzan, Product Manager yang bertugas mendata s...