Kereta malam ini lengang sekali tapi hati saya sesak. Meskipun hal baik datang, hal buruk belum mau terlupakan. Saya masih memandang foto pria yang begitu terang-terangan menyakiti hati saya. Masih terselip harapan semoga dia kembali dan berubah pikiran. Saya tahu, itu akan menjadi hal bodoh. Tapi jika saya merelakan nya apakah saya dulu tidak sungguh-sungguh mencintai nya? Banyak sekali pertanyaan yang menunggu untuk di jawab. Saya hanya tidak siap mengeluarkan jawaban yang berbeda dengan kenyataan. Saya masih termenung. Perjalanan sebentar lagi usai, hanya tinggal tiga stasiun dan saya bisa menangis kuat untuk yang terakhir kali nya. Saya sudah tidak mau merasakan nyeri ini lagi. Malam ini semuanya harus selesai. Getar ponsel genggam menahan air mata saya yang sudah hampir tidak bisa ditahan. Nama Fauzan yang tertera pada layar ponsel. Jika ini masalah pekerjaan, sungguh saya akan mengutuk Fauzan. “Vi, jadi mau ikut ke Jogja nggak? Gue udah dengar kabar dari pak Rizal ni...
Masih jatuh pada hujan dan cinta padamu