Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2016

Hal Paling Biasa

Tuan yang begitu saya ah sudahlah, saya lelah sekali kali ini mengatakan betapa saya menginginkan kamu, apa yang kamu lihat? Saya tidak ada disana, tuan. Saya berada begitu dekat dengan mu. Di tempat yang begitu hangat. Di hatimu. Dibalut pakaian hangat yang kamu kenakan, tempat ini jadi semakin nyaman. Saya sudah betah. Dan saya sudah berjanji tidak akan meninggalkan tempat ini. Meski berulang kali kamu mengusir saya dengan berbagai cara. Kamu masukkan perempuan lain kedalamnya, tapi tidak ada yang lebih tegar menerimamu selain saya. Saya selalu menang melawan perempuan-perempuan palsu itu. Kamu berusaha keras mencari kunci untuk saya yang begitu teguh, yang saya lakukan hanya memandangmu dan hujan yang sibuk mengeluarkan saya dari tempat ini. Saya hanya ingin tetap istiqomah. Mencintai kamu semampu saya. Saya belum ingin menyerah. Maka, nyamankanlah tempat ini tuan, rasakan hangatnya juga. Lalu, kamu perhatikan ada saya yang begitu berhati-hati merawatnya. Tidak akan saya biarka...

Cukup

Rasakan apapun yang kamu ingin. Rasakan aku yang perlahan-lahan hadir. Nikmati semilir angin. Pejamkan mata mu lalu hadirkan aku. Aku selalu menikmatimu dari sini. Dari tempat yang tidak pernah kamu tahu. Dari tempat yang begitu jauh dari mu saat itu. Tubuhmu yang semakin kurus. Rambutmu yang semakin memanjang. Kamu berantakan. Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku menyukainya. Namun, aku selalu tahu bahwa itu dirimu dan aku entah bagaimana bisa selalu mencintai itu. Sesekali lihat lah kebawah saat sudah di tempat setinggi itu. Aku selalu melihat ke atas untuk memandangmu. Berharap ada senyum untuk lelahku menunggumu. Tapi, siapa aku? Kau selalu tahu bukan, aku hanya wanita yang ditakdirkan untukmu. Menunggu kepulangan dari perjalanan yang mengagumkan. Yang tidak pernah ada aku kamu sertakan. Tapi, mungkin seperti inilah takdir. Aku tetap mencintai apa yang aku lakukan. Menunggu kepulangan tanpa kabar dan jawaban. Hanya cukup senang dengan tahu bahwa kamu baik-baik saja hingga...

Gigil

"Digigilkan apa aku ini?" Tanyamu. Rinduku yang menjelma angin menelusuri jejakmu hingga ke bukit itu. Sakit rumput yang terinjak. Angin dingin yang mengiringi langkah lelahmu. Kunang-kunang malam menghiasi jalan kelam. Awan gelap yang bersaing dengan bintang, menutupi aku yang selalu meneduhkan. Lalu aku berbuat dosa,    membiarkan rindu menjelma dendam yang harus dibayar. Membiarkan rindu menusuk tubuhmu. Menciptakan dingin penyebab gigilmu. Tapi, aku tak mau mendosa karena kau. Kuleburkan dendam. Lalu kubiarkan gigil menghilang perlahan. Namun, selama rindu ku ini masih kau, selama itu lah gigil memelukmu. Aku belum bisa menghentikan gigilmu, maka nikmatilah selagi rindu belum pernah bosan mengunjungimu. Seperti katamu, lebih takut tak bisa rindu dibanding tak bisa tidur. Aku menyukai itu. Sesekali rindu padaku. Biarkan aku sesekali menjadi bagian dari perjalanan yang tak pernah kamu libatkan. Supaya rasa gigil sesekali datang. Aku merindukan mu. Selalu. Dan...