"Digigilkan apa aku ini?" Tanyamu.
Rinduku yang menjelma angin menelusuri jejakmu hingga ke bukit itu. Sakit rumput yang terinjak. Angin dingin yang mengiringi langkah lelahmu. Kunang-kunang malam menghiasi jalan kelam. Awan gelap yang bersaing dengan bintang, menutupi aku yang selalu meneduhkan. Lalu aku berbuat dosa, membiarkan rindu menjelma dendam yang harus dibayar. Membiarkan rindu menusuk tubuhmu. Menciptakan dingin penyebab gigilmu.
Tapi, aku tak mau mendosa karena kau. Kuleburkan dendam. Lalu kubiarkan gigil menghilang perlahan. Namun, selama rindu ku ini masih kau, selama itu lah gigil memelukmu.
Aku belum bisa menghentikan gigilmu, maka nikmatilah selagi rindu belum pernah bosan mengunjungimu. Seperti katamu, lebih takut tak bisa rindu dibanding tak bisa tidur. Aku menyukai itu.
Sesekali rindu padaku. Biarkan aku sesekali menjadi bagian dari perjalanan yang tak pernah kamu libatkan. Supaya rasa gigil sesekali datang.
Aku merindukan mu. Selalu. Dan kau tahu itu. Saya masih mencintai kau yang gigil.
Komentar
Posting Komentar