Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2015

Bukan surat terakhir

Hai kak Iit, semoga selalu dalam keadaan baik ya. Hari ini rasanya sedih, karena ini hari terakhir #30HariMenulisSuratCinta, bisa ditambah sepuluh hari lagi kak? Kak Iit, aku ingin memberitahu sesuatu, aku sedang kehilangan yang sebelumnya memang bukan milikku kak, hanya saja aku yang senang mengaku-ngaku bahwa dia milikku. Tiba-tiba kak dia menghilang. Sebelumnya dia sudah sangat dekat berkat tumpukan surat yang kubuat, dan menjelang hari terakhir aku dan dia seperti ikutan berakhir. Kak Iit mau tahu kenapa aku tidak pernah berani mention dia di twitter? Karena memang aku bukan siapa-siapa kak, aku hanya satu dari jutaan wanita dipikirannya. Aku hanya satu dari banyaknya bintang dilangitnya. Satu dari jutaan rintik yang dijatuhkan padanya. Tapi ini rasa, yang aku tak bisa meminta untuk dijatuhkan kepada siapa. Tolong kak, berikan aku cara untuk tetap bisa tetap ada didekatnya. Tetap berada di setiap sudut pikirannya, aku ketakutan kak jika dia benar tidak ada. Aku selalu ...

Aku enggan ini berakhir

Teruntuk rindu yang bisu, mulailah terbata karena dia tak akan selamanya disana. Dia bisa saja pergi menjelajah dunia. Bagaimana lagi kungkapkan segala rindu dan luka jika media pos ini tidak ada. Sedang kamu lagi-lagi bukan pria yang peka. Aku ketakutan, bingung menyerang saat sadar ini semua akan segera usai. Sudah tak ada lagi yang bisa kupercaya menyampaikan rasa selain melalui surat ini, melalui langit, dan doa. Sayangnya, langit sedang sakit belakangan ini, dia murung hingga sering menangis. Sedang doa tak akan pernah usai untukmu, untuk rindu yang   katamu selalu tergugu. Masihkah kamu menunggu di depan jendela yang menganga? Termenung sesaat untuk kemudian menertawakan aku yang gila karena rasa. Sungguh, tak ada sekalipun aku merasa pada rindu selain kamu. Jika purnama, bisakah menjelma sebagai dia, menghilangkan sedikit saja, rindu yang melulu tak pernah bisa bertamu kerumahmu. Aku tak mau mengakhiri ini, karena sesungguhnya rindu ini pun enggan usai. Jika...

Aku tahu, rasanya seperih itu

Teruntuk @ucinesia Sebelumnya salam kenal teruntuk kamu yang telah menuliskan surat paling haru menurutku. Saat aku membaca suratmu yang berjudul “Seperih apa kita saling melupakan?” tiba-tiba ada air biasa yang dicampur rasa kecewa mengalir dari mata. Karena aku sedang merasakan apa yang kamu tuliskan. Ya, bagiku suratmu mampu menggambarkan dengan jelas betapa perihnya jika kita bukan pelupa yang hebat. Mampu mengingat jutaan kenangan dan luka yang menyesakkan. Yang aku tahu selama ini, perempuan memang selalu menang jika ditakdirkan harus menunggu seseorang, karena seperti yang kau tuliskan disuratmu tiada yang lebih pilu menjadi perempuan yang lemah perihal melupakan. Karena sesunggunya kita hanya harus berdamai dengan kenangan. Membiarkannya tetap disana, berjalan mendampingi kita dan membuat kita dewasa pernah ada bersamanya. Tetaplah menulis untukmu, tetap mengagumkan seperti kata dalam suratmu. #30HariMenulisSuratCinta Hari ke-28

Puan yang sabar menunggu

Teruntuk puan yang di hatinya hanya ada satu tuan, satu cinta dalam diam. Yang tiap malam hanya menunggu waktu menggugukan rindu. Cinta itu berbagi hati bukan? Jika kamu membaginya dan tuan tidak, itu tetap cinta, puan. Sekalipun kamu menguburnya dalam-dalam, tetap saja itu namanya cinta. Biar saja para pujangga tak bernama menyebut kamu bodoh, hanya karena mencintai satu nama. Kamu tak perlu sadar dari lamunan tentang dia, kamu hanya perlu menunggu sedikit lebih lama. Nanti, di waktu yang telah di sangsi, dia akan datang dengan membawa segurat senja yang kamu mimpikan, itu bila kamu masih sabar. Jika tidak, mungkin kamu akan pergi dan dia menghilang, esoknya tuan dan puan kembali bukan untuk saling menggenggam, sebatas berpapasan tanpa tahu ada rasa yang pernah sangat ingin disandingkan. Sabarlah sedikit lagi puan, aku yakin dia akan datang. Jika tidak, mungkin hanya lupa. Sesederhana itu, lupa. Meski terlalu menyakitkan, tak datang karena dilupakan. Jangan seli...

Tuan yang gemar menghilang

Hai tuan, apa kabar? Mengapa begitu sering kau menghilang sekarang, membuat aku, yang bukan siapa-siapa mu ini kebingungan. Menunggumu? Sudah pasti itu aku lakukan, tapi tetap saja tak pernah ada jawaban. Kau tetap disana dan tak ada kabar. Berbagai kemungkinan muncul dibenakku tiap malam, apakah kamu sedang sibuk dengan berbagai kegiatan disana? Apakah kamu bertemu dia, seseorang dari masa lalu yang membuatmu belum bisa memindahkan sesuatu, hati. Apakah kamu sengaja menghilang untuk dicari. Atau, memang kamu tidak berkewajiban memberiku kabar setiap hari, mengingat kita hanya sebatas gurauan, hanya sebatas persahabatan yang dilebih-lebihkan, hanya sebatas aku mempercayakan sesuatu padamu dan kamu tidak tahu. Karena tiap hati punya kapasitas penampung rindu dan rasa, pun benci. Jika sudah meluap aku tak bisa apa-apa selain menulis surat ini. Disini, titik lelahku mencintai kamu seperti ini, seperti orang bodoh, dalam diam dalam waktu yang tak akan pernah bisa kamu ba...