Di
saat hujan sedang gemar menyapa pemujanya. Kamu justru bertengkar hebat
denganya demi dia, pria yang membuatmu gusar, pria yang tidak memiliki hubungan
intim secara ikatan. Namun, diam-diam kamu dan dia saling mengikat mesti tak
ada tali sebagai penguat. Dan di detik berikutnya terdengar doa yang berisi
supaya kamu dan dia benar nyata adanya.
Kali
ini kamu bukan wanita hujan, karena kamu dan hujan sedang gemar berseteru
perihal mengapa datang tak tepat waktu. Dengan wajah sendumu itu, tak akan
membuat langit merasa iba. Jangan hanya terduduk dikamar menunggu pesan dari
seseorang yang mungkin tak peduli kamu sedang dirundung kecemasan saat hujan
datang menemai dia yang sedang dalam perjalanan.
Langit
justru kesenangan melihat kamu gusar dengan segala pikiran yang kacau.
Detik
selanjutnya kamu mendapati dia terserang luka. Luka tanpa darah yang menyerang
kepala akibat langit yang tertawa sampai menangis.
Kamu
membohongi diri untuk tidak ikut mengeluarkan tangis, namun sayangnya, di detik
ke sekian hatimu lah yang terluka. Khawatir akan dia yang lagi-lagi kalah dari rasa
sakit yang menjarah.
Sial!
Memang dasar pria yang tak mengerti gusar dari wanita pemujanya. Diujung sana
dia justru tertawa mendapati kamu yang berlebihan mengartikan luka. Jangan
khawatir katanya, dia merasa sok baik-baik saja.
Saat
hujan datang dia seharusnya berteduh bukannya diam di jalan dengan sejuta
pikiran mengambang yang tak pernah kamu bayangkan, sedang kamu dipinggir
jendela kamar justru diam-diam mengeluh supaya hujan cepat habis meluruh
kemudian usai. Saat hujan datang dia seharusnya tidak pulang, tetap disana
dengan kesibukan yang esok menjelang. Menjaga raga diri dan rasa orang yang
dicintai. Bukan mengirim getir yang menimbulkan khawatir.
#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-12
Komentar
Posting Komentar