Hai
tuan, apa kabar?
Mengapa
begitu sering kau menghilang sekarang, membuat aku, yang bukan siapa-siapa mu
ini kebingungan.
Menunggumu?
Sudah pasti itu aku lakukan, tapi tetap saja tak pernah ada jawaban. Kau tetap
disana dan tak ada kabar.
Berbagai
kemungkinan muncul dibenakku tiap malam, apakah kamu sedang sibuk dengan
berbagai kegiatan disana?
Apakah
kamu bertemu dia, seseorang dari masa lalu yang membuatmu belum bisa
memindahkan sesuatu, hati.
Apakah
kamu sengaja menghilang untuk dicari.
Atau,
memang kamu tidak berkewajiban memberiku kabar setiap hari, mengingat kita
hanya sebatas gurauan, hanya sebatas persahabatan yang dilebih-lebihkan, hanya
sebatas aku mempercayakan sesuatu padamu dan kamu tidak tahu.
Karena
tiap hati punya kapasitas penampung rindu dan rasa, pun benci. Jika sudah
meluap aku tak bisa apa-apa selain menulis surat ini. Disini, titik lelahku
mencintai kamu seperti ini, seperti orang bodoh, dalam diam dalam waktu yang
tak akan pernah bisa kamu bayangkan.
Ini bukan salah
ku
kan?
Tak
ada yang pernah tahu dan mau rasa seperti ini datang bersarang. Begitu
menyiksa, aku harus sendiri melewati rindu-rindu saat purnama sedang kamu entah
memikirkan siapa.
Setelah
kamu membaca surat ini, aku ingin kamu bersikap seperti biasa, tak perlu
pura-pura menumbuhkan rasa, karena aku tahu kamu tidak akan bisa. Aku hanya
senang tiap kali di dekatmu, menikmati wajahmu, tanpa rasa cemburu tanpa kamu
harus tahu.
Tapi
mungkin aku sudah tidak ingin seperti itu, aku sudah berusaha memantaskan diri,
namun kamu juga tak kunjung disini. Aku hanya sudah tidak ingin lagi hanya
menjadi tempat singgah, aku ingin kau akui sebagai rumah. Tapi mungkin di dalam
sana, dihatimu itu masih ada penunggu yang tak mau ada aku. Dan aku, mungkin
sudah kehabisan waktu.
#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-26
Komentar
Posting Komentar