Langsung ke konten utama

Postingan

Memeluk Kesedihan

"Aku minta maaf atas semua khilaf di masa lalu" Tentu saja kamu tidak bersalah atas apapun. Atas semua perasaan yang selalu hidup. Perasaan yang selalu menyenangkan bagiku dan mengganggu untukmu. Perasaan ini membawa kita begitu jauh.Sangat jauh. Jujur saja, aku tidak sudi berteman denganmu. Kamu sangat tidak cocok menjadi temanku. Mungkin saja karena selera musik, makanan dan perasaan kita memang berbeda. Dari semua pertemuan ini, apakah kamu merasa perasaan mu pernah berubah? Merasa aku tiba-tiba saja menjadi penting untukmu? Memikirkan apa mungkin sebaliknya memulai sesuatu denganku? Melihatku dari sudut yang lain. Dari sudut yang paling kamu sukai. Lalu, maaf mu itu untuk yang mana? Bukan kah permintaan maaf harus jelas ditujukan untuk apa? Kamu tidak bersalah sama sekali.  Aku yang saat itu menempatkan kamu sebagai orang yang begitu jahat. Padahal kamu sudah hidup dengan sangat baik. Tidak melakukan kesalahan apapun, tidak menyakiti aku sedikitpun. Jangan. Jang...
Postingan terbaru

Move On

“Halo Zek, kenapa whatsapp gue ngga di bales sih?” “Baru liat Sil, ini baru mau di bales. Iya lu tenang aja deh. Bawel banget. “Jangan ikut coret-coret ya besok inget kan janji kita apa?” Ujar Silver mengingatkan. “Iya Sil, bawain gue bekal ya besok.” Pinta Zaki penuh harap. “Kalau sempet. Tuan putri tidur ya. Bye superman.” Percakapan yang diakhiri dengan tawa ringan dari Silver. Rasanya sudah lama sekali Zaki tidak bicara banyak dengan Silver. Sahabat nya itu sudah mulai menemukan cinta pertama.  Pagi-pagi sekali Zaki sudah sampai di sekolah dan menunggu Silver. Dia melihat mobil Art tapi tidak ada Silver. Zaki justru melihat Meisya. Teman sekelas nya yang menjadi idola di sekolah. Model majalah dan bintang iklan. Tapi itu tidak penting. Yang dipikirkan Zaki saat ini adalah di mana Silver. Harus nya dia bersama Art. Bel pertama tanda peserta ujian harus memasuki ruangan sudah berbunyi. Silver belum juga tiba. Zaki sudah diperingatkan pengawas ujian untuk segera ma...

Move On

Zaki masih menggenggam handphone nya dengan gusar. Tidak ada tanda-tanda bahwa Silver akan menghubunginya. Tangan nya sudah gatal ingin menelepon tapi tindakan itu akan membuat Silver marah. Zaki akhirnya melempar handphone nya ke kasur berusaha tidak peduli, tapi itu hanya bertahan sebentar, diraih kembali handphone nya dan dia memutuskan pergi ke rumah Silver. Dia tidak bisa menahan diri untuk Silver. Berkali-kali Zaki berhenti tapi tidak pernah berniat untuk pulang. Dia hanya ingin bertemu Silver.  “Sial, gue kenapa sih?” Racau Zaki pada dirinya sendiri. Ia kemudian malanjutkan perjalanan dan melihat mobil Art terparkir di depan rumah Silver.  “See, dia baik-baik aja.” Ujar nya lagi-lagi pada diri sendiri dengan helaan nafas yang berat. Handphone Zaki tiba-tiba berdering, Silver memanggil heboh.              “Halo Zek, sepuluh menit gue tunggu di rumah ya, bye.” Hanya Silver yang mampu memperlakukan...

Move On

Bel pulang sekolah sudah berdering sepuluh menit yang lalu tapi Zaki belum juga pulang. Dia setia menemani Silver yang sedang menunggu Art di parkiran. Silver sudah berulang kali menyuruh nya untuk pulang tapi Zaki tetap diam tak bergeming.              “Zek, pulang deh, gue udah ada Art lu tenang aja.”             “Nanti sampai Art dateng baru gue pulang.” Jawab Zaki tidak peduli dengan wajah kesal Silver. Zaki mulai merasa ada yang aneh. Dia sudah tahu bahwa perasaan nya untuk Silver sudah berubah bukan lagi kadar untuk sahabat. Tapi melihat Silver terlalu bersemangat pulang dengan Art, perasaan Zaki mulai tidak bisa dikendalikan. Zaki ingin memiliki Silver. Tapi tidak ingin terlihat. Tiga puluh menit Art mulai terlihat berjalan ke arah parkiran dengan bola basket di tangan.             “Zek, tuh Art udah ...

Move On

Dulu “Zek, lu udah ngerjain tugas biologi belum, liat dong?” Sambil mengeluarkan senyum manis Silver bergelayut manja di lengan Zaki. Bukan nya kesal Zaki justru senang melihat tingkah Silver yang selalu manja dengan nya. Tapi, seperti kebanyakan pria, Zaki akan selalu berusaha untuk tidak terlihat. “Nih bawa, gue mau ke kantin.” Ujar Zaki sambil menyerahkan buku tugas biologinya pada Silver. Mereka berdua sudah bersahabat sejak awal masuk Sekolah Menengah Pertama. Silver pernah menyelamatkan Zaki saat masa orientasi karena tidak membawa topi. Sejak saat itu baginya Silver adalah penyelamat nya. Semua kesialan dalam hidup Zaki akan selalu di selamatkan oleh Silver. Awal masuk Sekolah Menengah Atas mereka kembali dipertemukan di kelas yang sama hingga kelas dua belas. Hal itu membuat Zaki dan Silver seperti kaos kaki. Selalu berpasangan dan tidak ada fungsinya jika yang satu hilang. Seperti saat mereka kelas sepuluh SMA, Zaki sakit demam berdarah dan harus istirahat di rumah s...