“Halo
Zek, kenapa whatsapp gue ngga di bales sih?”
“Baru liat Sil, ini baru mau di
bales. Iya lu tenang aja deh. Bawel banget.
“Jangan ikut coret-coret ya besok
inget kan janji kita apa?” Ujar Silver mengingatkan.
“Iya Sil, bawain gue bekal ya
besok.” Pinta Zaki penuh harap.
“Kalau sempet. Tuan putri tidur ya.
Bye superman.” Percakapan yang diakhiri dengan tawa ringan dari Silver. Rasanya
sudah lama sekali Zaki tidak bicara banyak dengan Silver. Sahabat nya itu sudah
mulai menemukan cinta pertama.
Pagi-pagi sekali Zaki sudah sampai di
sekolah dan menunggu Silver. Dia melihat mobil Art tapi tidak ada Silver. Zaki
justru melihat Meisya. Teman sekelas nya yang menjadi idola di sekolah. Model
majalah dan bintang iklan. Tapi itu tidak penting. Yang dipikirkan Zaki saat
ini adalah di mana Silver. Harus nya dia bersama Art. Bel pertama tanda peserta
ujian harus memasuki ruangan sudah berbunyi. Silver belum juga tiba. Zaki sudah
diperingatkan pengawas ujian untuk segera masuk kelas. Saat soal ujian mulai
dibagikan Silver datang dengan nafas terburu. Pandangan Zaki tidak lepas dari Silver
berusaha meminta penjelasan. Dengan tanpa suara Silver berusaha menjelaskan
kepada Zaki bahwa dia terkena macet. Bel kedua tanda peserta ujian harus
mengerjakan soal berbunyi. Silver dan Zaki harus sama-sama saling menahan diri.
Semua siswa saling bersorak dan
berpelukan saat ujian terakhir telah berakhir. Bahkan sudah ada yang
coret-coret seragam sekolah meski belum ada pengumuman kelulusan. Tradisi yang
membingungkan. Zaki setia menunggu di depan toilet wanita dan akan langsung
menyergap Silver saat dia muncul. Benar saja, saat Silver baru satu langkah
dari toilet Zaki langsung menarik tangan Silver dan membawa nya ke kantin.
Silver tahu, Zaki akan mengomel tiap kali Silver terlambat.
“Gimana bisa?” Sergap Zaki langsung
“Kesiangan.” Jawab Silver singkat.
Silver sedang tidak ingin dimak-maki Zaki. Dia berusaha menghindar. Ada badai
dalam hati nya. Dan Silver tidak ingin Zaki tahu.
“Ikut gue.” Zaki menarik paksa
tangan Silver mengajak nya ke belakang sekolah di bawah pohon cemara laut.
Tempat favorit mereka. Zaki sudah sangat tahu, bahwa di bawah pohon ini Silver
akan merasa selalu baik-baik saja. Katanya, Silver jatuh cinta dengan cemara
sejak Zaki menghadiahi nya pohon ini. Hanya Zaki satu-satu nya pria yang
memberikan hadiah berupa pohon yang sudah bertahun-tahun tumbuh di belakang
sekolah. “Kenapa?” Tanya Zaki memaksa. Zaki tahu sedang ada yang Silver
sembunyikan.
Silver
masih diam dan tidak memperhatikan. Dia menatap kosong teman-teman nya yang
saling bahagia selepas ujian. Sesekali dia melihat ke arah Zaki yang setia
menunggu nya bercerita. “Kita nggak akan kemana-mana sampai lu cerita.” Tegas
Zaki mantap.
“Tadi pagi Art bilang nggak bisa
berangkat bareng gue, katanya ada yang urgent. Dan lu tahu nggak apa yang
urgent. Meisya. Meisya butuh tumpangan ke sekolah.”
“Lu bego banget ya Sil.” Ujar Zaki
kesal. “Cuma gara-gara itu lu telat.”
“Bukan cuma itu. Tapi juga karena
ini.” Silver mengeluarkan kotak bekal dari tas nya dan memberikan nya pada
Zaki. “Gue kan udah janji. Ini hadiah buat superman karena udah selesai ujian.”
Silver masih menunduk. Zaki merasa bodoh.
“Superman makan nasi goreng?” Tanya Zaki
berusaha mencairkan suasana.
“Itu tadi nya buat sarapan sebelum ujian
tapi, gue kesiangan.”
“Superman makan telur ceplok nggak jadi
nih?” Ujar Zaki meledek Silver.
“Lu nggak ada makasih-makasih nya ya
Zek, sini balikin.” Silver merebut kotak bekal dari tangan Zaki. Hal itu entah bagaimana bisa justru membuat
Zaki tersenyum. “Gila kali lu ya?” Silver bergidik melihat tingkah laku Zaki.
“Superman butuh nasi goreng sama telor
ceplok gagal. Sini.” Pinta Zaki merebut kotak bekal. Zaki makan dengan lahap.
Ini hadiah ujian paling baik baginya. Masakan Silver memang tidak termasuk
katagori lezat. Tapi, melihat usaha Silver hingga harus kesiangan ini lebih
dari cukup untuk menghilangkan rasa aneh pada masakan nya. Dan Zaki menyukai
nya. Nasi goreng juga si pembuat nya. “Minum nggak ada?” Tanya Zaki dengan
mulut penuh.
“Nggak tahu diri banget lu emang.” Jawab
Silver dengan senyum tipis. Tidak habis pikir dengan tingkah sahabatnya. “Kalau
nggak habis bisulan lu dua tahun.” Ancam Silver. Gelak tawa lalu mengalir
begitu saja di antara keduanya. Zaki sangat merindukan Silver tapi dia tahu dia
tidak bisa mengatakannya. Silver dan Zaki saling memahami bahwa mereka akan
selalu merasa baik-baik saja jika berdua.
#Bersambung
Komentar
Posting Komentar