Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2016

Surat di Hari Terakhir

Hai kak ikavuje. Surat terakhir ini saya ingin curhat banyak kak tentang banyaknya tentang untuk seseorang yang ada di hati saya. Ada seorang pria yang dengan nyata mencintai saya dengan baik. Memperlakukan saya penuh hormat. Selalu menjadikan saya prioritasnya. Saya begitu senang di perlakukan layaknya seorang ratu. Wanita mana yang tidak bahagia di sanjung setiap hari. Namun, ada rahasia dalam hati saya yang akan menyakitinya. Sudah berulang kali saya katakan saya tidak bisa padanya. Dia tetap teguh dan enggan menyerah. Rahasia dalam hati saya adalah seorang pria, kak. Ada pria yang hidup dalam hati saya. Yang selalu saya usahakan untuk selalu bahagia. Saya sudah menerima pria itu meski hanya di dalam hati. Karena dia hanya ditakdirkan ada di hati saya bukan di hidup saya. Saya sudah cukup bahagia mencintai nya seperti ini. Tapi, saya selalu merasa bersalah sudah membuat hati yang lain dengan sengaja patah. Hal ini selalu mengganggu saya. Saya belum bisa membiarkan orang l...

Ikavuje

Hai tukang pos kesayangan. Pasti sedang senang sekali ya, dapat banyak surat hari ini. Saya senang sekali bisa ikut menulis surat cinta tahun ini. Ini tahun kedua saya mengikuti evemt ini. Awalnya saya sangat tidak semangat karena saya baru saja patah hati. Apa yang mau saya tulis. Kepada siapa pula surat ini akan saya sampaikan. Membaca pembagian tukang pos, saya mulai tertarik karena nama tukang pos saya lucu. Mulailah dari hari itu saya mencari tahu semampu saya tentang kak ikavuje. Saya tidak tahu itu nama asli atau bukan. Yang jelas saya suka nama itu. Saya juga pernah membaca suatu quotes bahwa kita tidak perlu bingung mencati imajinasi. Kita hanya perlu memberi nyawa pada benda mati dan mematikan yang hidup. Terima kasih kak untuk selalu memberi komentar. Seperti dihargai usaha menulis saya selama ini. Semoga kakak selalu bahagia. Terima kasih sudah menyampaikan rasa. Pengantar pesan yang baik. Terima kasih banyak kak. Maaf jika sudah banyak merepotkan. Love you tuka...

Rindu dan Ego

Hai Re,  Apa kabar? Masihkah kebencian kamu kembang biakan? Saya harus bagaimana supaya maaf saya kamu terima. Hari ini saya ingin sekali pergi keluar. Menikmati jalanan. Berkeliling.  Tapi, saya tidak mau sendiri.  Seandainya kamu sedang tidak marah tentu saja kita sudah berada di tepi pantai saat ini. Kenyataannya, dari pagi hingga detik saya menuliskan surat ini, saya masih berada di ruangan 4×4 yang begitu dingin. Saya berlindung di bawah selimut, padahal cuaca di luar sedang bersenang-senang.  Demam kali ini menyebalkan sekali, dan kamu salah satu penyebabnya.  Saya tidak tahu kamu sekarang dimana. Sedang apa. Memikirkan saya atau tidak. Atau memang saya sudah tidak ada artinya di hidupmu. Menyedihkan melihat foto kita berdua. Senyum yang biasanya selalu ada, kini tenggelam di lautan paling dalam. Bahkan untuk menghubungimu pun saya mulai takut. Ternyata kehilangan kamu lebih menyakitkan di banding ketiadaan seseorang yang selalu saya ceritaka...

B.A.P.E.R

Surat ini saya tujukan untuk pencetus kata "baper". Kesal sekali saya mendengar kalimat itu. Menurut saya kata-kata itu sangat jahat. Apa salah nya jika setiap dari diri kita membawa perasaan dalam banyak hal. Memangnya kita batu?  Memangnya hati kita tidak boleh bekerja? Tidak boleh merasa?  Tidak ada yang ingin merasa jatuh cinta begitu saja, merasa kesal tiba-tiba. Tapi, kita tidak bisa memilih untuk jatuh dan bangkit lagi pada siapa. Perasaan itu tidak bisa kita paksa. Tidak tepat waktu datangnya.  Maka, biarkanlah masing-masing dari diri kita membawa perasaan dalam segala hal. Karena rasa juga perlu dilatih, juga perlu di asah. Supaya tidak mati sia-sia. #30HariMenulisSuratCinta

Maaf di Bawah Langit

Hai Re Katakan apa yang harus saya lakukan supaya kamu datang dan memaafkan saya.  Sejak pagi langit mendung sekali. Berkabut di ikuti gerimis.  Suasana pagi terlihat sedih. Saya malas sekali ke kampus hari ini. Jika ada yang membuat saya terbangun dan segera mandi, itu karena tugas kuliah yang maha dahsyat.  Kenapa Re, kenapa selalu seperti ini. Saat ada masalah satu yang datang,  masalah yang lain selalu susul-menyusul di belakang.  Apa saya sudah keterlaluan, hingga sulit sekali kamu maafkan? Perjalanan ke kampus jadi begitu jauh. Seperti menuju kamu.  Saya tidak suka berjalan di bawah gerimis. Langit seperti mengolok-olok kesalahan saya.  Saya harus bagaimana, Re? Saya butuh kamu sekarang juga. Langit masih gerimis, tidak kunjung hujan deras.  Saya tahu ini menyakiti diri saya sendiri. Tapi saat ini saya hanya butuh kamu. Re, maafkan saya. #30HariMenulisSuratCinta

Pembaca Setia

Kepadamu yang mengaku sebagai pembaca surat yang setia.  Hanya suratku atau surat milik yang lain juga? Apa pun itu, terima kasih. Pengakuan mu malam tadi membuat ku merasa diistimewakan. Merasa selalu kamu perhatikan, dari arti yang lain.  Karena kita memang sesuatu yang lain, bukan dua perasaan yang ingin menyatu. Disisi ku perasaan ini begitu besar namun mati-matian ditahan. Sedang disisimu, ada perasaan yang mati-matian kamu lawan. Harusnya kamu juga menuliskan sebuah surat. Supaya aku bisa menjadi bagian dari setiamu itu.  Mendengarkan keluh mu seperti malam tadi. Menertawakan sedihmu yang begitu lucu. Menahan tawa untuk sayembara konyol itu. Memberi semangat yang tidak akan pernah kamu tahu.  Sudah lama sekali rasanya kita tidak seperti itu. Berkali-kali mengusir ku untuk tidur namun tetap saja aku betah terjaga jika kamu ada. Ah, senang sekali membaca chat history itu berulang-ulang.  Ada beberapa yang menjadi favorit saya dari percakapan s...

Terima kasih.

Terima kasih sudah mengingatkan saya hari ini.  Surat hari ini, saya pastikan untuk kamu. Belakangan ini display picture mu kembali saya koleksi.  Saya kembali menekuni hobi lama saya. Mengabadikan kamu di sini. Di sudut hidup saya.  Ah sudahlah, sudah saya katakan berulang-ulang saya sudah tidak tahu lagi dengan apa memintamu.  Terima kasih untuk menerima saya dengan arti yang lain. Terimakasih mengijinkan saya mencintai kamu. #30HariMenulisSuratCinta

Mantra

Hai tuan.  Semalam aku bermimpi, berdoa memintamu disini. Sedang kau berdoa meminta dia disana. Aku tahu, jelas saja Tuhan pusing. Lalu aku mendapati kopi di meja ikut mencibir. Kemudian aku terbangun dengan rahasia di bawah bantal. Namun, tidak ada apa-apa tuan. Hanya ada beberapa tetes air mata dan kamu yang berantakan. Malam selanjutnya kamu mempublikasikan sebuah mantra. Lalu, aku curi mantra itu. Kusimpan dan aku menunggu. Katamu, "mungkin ini mantra jika kau rindui aku". Pulanglah Pulanglah Pulanglah Aku masih menunggu. Kamu datang, Tapi katamu, mantra itu bukan untuk ku. #30HariMenulisSuratCinta

Yang Maha Segalanya

Kepada Yang Maha Mempermudah Segala Urusan dan Yang Maha Mengabulkan Harapan Selamat sore Tuhan,  Tolong jadikan saya wanita yang tidak pernah lupa untuk bersyukur.  Hari ini saya ingin menuliskan sebuah surat elektronik, yang saya yakin akan sampai padaMu. Hari ini ada sesuatu yang mengganjal hati saya, Tuhan. Ada resah yang saya tidak tahu berasal dari mana. Saya sudah berkali-kali membaca doa menenangkan hati. Tuntas tapi muncul kembali.  Lewat surat ini, Tuhan, saya ingin menyampaikan banyak hal. Semoga apa-apa yang saya semogakan segera Tuhan kabulkan. Amin. Tuhan, saya mohon jaga selalu senyum orang tua saya. Bahagia mereka penghargaan terbesar untuk saya. Bantu saya untuk terus mampu manjadi anak wanita yang selali dapat mereka banggakan. Menjadi anak wanita yang dengan menyebut nama saya sudah membuat senyum mereka mengembang.  Bantu saya melewati masa-masa sulit ini. Masa dimana saya selalu berkeinginan untuk menyerah. Bantu saya menyelesaikan tug...

Selamat Kopi

Selamat pagi, tuan kopi. Tidur malam mu nyenyak bukan?  Mau kubuatkan kopi secangkir. Supaya saat kau berkunjung ke kenangan, kau masih hafal jalan pulang. Seperti aku yang selalu ingin pulang pada hati mu sebagai rumah.  Aku pun tak ingin pergi. Ingin menikmati secangkir kopi di beranda depan. Ingin menjadi wanita yang dapat memberi secangkir kopi mu pasangan. Tapi, selalu saja. Kamu tiba-tiba pamit pulang.  Hati ku ini bukan rumah mu kah, tuan? Lalu, siluetmu hadir di mimpiku dua hari yang lalu.  Dalam harap dan semoga, punggung milikmu itu aku semogakan jadi tempat segala kesedihan dan bahagia bermuara. Menjadi suatu hal yang dapat kupandang lebih lama dari biasanya.  #30HariMenulisSuratCinta

Sepasang Mata

Hai tuan pemilik mata penuh rindu.  Sepasang mata milik mu itu, entah bagaimana bisa, namun melihatnya sebentar saja aku merasa seperti dirumah. Menyimpan tatapan itu dalam ingatan. Mengingatnya jika aku rindui pulang. Setelahnya selalu saja, bibirku melengkung sempurna.  Senyum-senyum sendiri berharap sepasang mata milik mu itu menatapku di pagi hari.  Sore itu, aku melihat mu dari balik meja kerja. Menatap ke arah jendela. Namun, apa yang membuatmu begitu. Tertegun dengan tatapan yang paling bisa ku rindu.  Tidak, tuan.  Jangan seperti itu. Kesehatan ku terganggu karena rindu kamu. Lalu, apa yang kau pandangi itu.  Hiruk pikuk? Kepadatan? Kemacetan?  Atau aku yang sekelebat lewat dalam bayang-bayang.  Ah, tidak tuan. Aku tidak ingin jadi sekelebat. Aku ingin menjadi penuh--utuh pada apa-apa yang membuatmu merindu. Sudah tuan, kembalilah ke mejamu. Bekerja. Untuk ku mungkin nanti di masa tua. Untuk kita yang mungkin saja dit...

Aku, kehilangan

Tentang kita yang bersisian dalam diam yang berkepanjangan.  Tentang kopi dingin yang mengantara. Tentang sebelah tangan kita yang begitu saling ingin menggenggam dibawah meja.  Aku pernah begitu jatuh cinta. Padamu, pria penulis puisi. Pria yang mencintai kopi layaknya diri sendiri. Namun setelah tahu aku mulai ikut mencintai. Kamu menyesap habis kopi dan menghapus semua puisi.  Aku, kehilangan. Kamu benar, aku sudah begitu jatuh dan tenggelam terlalu dalam pada apa-apa yang disebut dengan kehilangan. Sejak itu aku mulai gemar mengakrabkan kopi dan hujan, serta kenangan tentang kita.  Kamu dan hujan selalu mengencani kopi lagi dan lagi. Sedang aku hanya bisa ngimpi lagi. Percuma saja mau ditambahkan gula sebanyak apa, kopi ini sudah terlalu pekat dengan kamu di dalam nya.  Coba nikmati pahit yang selama ini mengendap dalam kopiku. Biar kunikmati bahagia yang selama ini larut di kopimu.  Dan malam ini menjadi saksi, bagaimana aku ingin melupa...

COC

Teruntuk kamu pria menyebalkan Sudah selesai bermain coc? Sudah kalah? Sudah bosan? Saya begitu benci pada game itu. Selain tidak bisa memainkannya, coc pula yang menyebabkan saya selalu jadi yang kedua. Malam kemarin ada angin yang begitu dingin mengantara kita. Terlalu dingin bahkan. Dua piring makanan menjadi saksi bagaimana kita perlahan-lahan saling memunggungi.  Saya dapat mendengar betapa kesunyian memerangkap kita malam itu.  Kamu sibuk dengan gadget dan permainan bodoh itu.  Saya pun ingin. Hanya saja tatap saya tidak bisa beralih dari kamu. Ingin sekali kamu tatap lamat-lamat. Menikmati rindu yang begitu sangat. Tapi, malam itu tetap tidak ada hangat yang memeluk kita. Bising kendaraan dan tatap mu yang sebentar membuat malam sangat menyebalkan. Saya diam-diam selalu mendoakan supaya gadget mu kehabisan daya. Supaya kamu selalu kalah. Supaya kamu cepat bosan.  Bukan saya ingin mengganggu kesenanganmu.  Saya hanya rindu. #30HariMenulisS...

Tenggelam

Saya tidak bisa berenang. Namun, saya menenggelamkan diri pada mata seperti bintang terang. Membiarkan saya kehabisan nafas. Kini saya sudah tenggelam terlalu dalam. Tak mungkin lagi berusaha menuju permukaan. Saya bahagia di dalam sini. Di dalam mata seorang pria yang saya cintai. Di mata mu. Biarkan saja saya kamu kubur dalam-dalam. Pada samudra di mata mu. Nanti, kamu akan sadar, semakin dalam maka saya akan jatuh di hati mu. #30HariMenulisSuratCinta

Ingin Sekali

Aku ingin sekali menjadi apa yang kau pikirkan.  Menjadi apa yang membuatmu tertegun berjam-jam. Membuatmu menarik pena diatas kertas putih, dan menuliskan aku. Lalu sesekali kamu berhenti, menatap sekitar. Menatap kopi kesukaan dan setelah itu tersenyum karena aku hadir sekilas di kepul asap kopimu. Aku ingin sekali menjadi apa yang kau rindukan. Menjadi apa yang terkadang membuatmu kebingungan. Membuatmu berpikir keras dan yang kau temukan hanya aku dalam kepalamu. Kau tak punya pilihan lain selain menghubungiku, dengan malu-malu. Berbekal rindu yang membuncah dari dada kirimu.  Indah sekali rasanya menjadi apa yang kamu pikirkan. Menjadi apa yang kamu rindukan. Apa aku bisa, tuan? #30HariMenulisSuratCinta

Mantan Sahabat

Untukmu yang pernah menjadi sahabat.  Terima kasih untuk hari kemarin yang penuh rasa senang.  Kamu tahu, senyum saya terukir sepanjang jalan yang kita lalui. Menghabiskan sore hingga petang, tidak bisa berhenti bicara dan tertawa. Bersamamu, tidak ada alasan untuk diam. Terima kasih untuk tetap berusaha ada kapan pun saya butuh. Hadir tepat saat saya harus membagi keluh dan tawa. Berada di hadapan saya untuk membuat senyum saya tak pernah henti. Menyediakan bahu untuk saya pukul, bersandar, bahkan menangis. Terima kasih untuk waktu yang selalu kamu sediakan untuk saya. Menemani saya ke toko buku berjam-jam. Merelakan gadget mu kehabisan daya untuk menunggu saya berputar-putar di tempat itu dan saya hanya membeli satu buku. Diam-diam memperhatikan saya dari celah buku, kemudian pergi berlalu hanya untuk memastikan senyum saya tetap bertahan. Bersembunyi di balik rak komik untuk membuat saya khawatir, setelahnya kamu tertawa melihat saya yang berhasil menemukan mu. Memak...

Mencari Kamu

Jika nanti kau putuskan untuk mendaki Kau harus berjanji untuk turun dengan rasa yang sudah aku bawa hingga sesenja ini Jika sudah dibawah dan   kau masih sama Mungkin kamu harus mendaki lagi untuk tahu Mana yang lebih kuat selain rindu Langit, senja, atau mataku Jika nanti aku yang memutuskan untuk mendaki Itu karena sepetang ini langit masih sama Menjelma kamu dan kata-kata Dalam peti, kotak Pandora Tapi, kuncinya sudah hilang Sebagian lagi dilalap habis malam Diatas sini aku sibuk mencari Mengitari bintang-bintang Berusaha menemukan wajah seseorang Tapi, tidak ada apa-apa disana Sedang kau duduk manis dalam ingatan seorang puan Setelahnya hujan turun bersama dengan aku yang berjalan mundur dari pendakian ini Aku sudah tidak bisa menemukan kamu Bahkan saat sudah ditempat setinggi ini

Anti Jalan-Jalan

Hai muh, apa kabar? Tentu baik-baik saja kan, kita baru beberapa hari yang lalu bertemu di kampus ku. Kau menjemput kekasihmu, sahabatku. Siang tadi, sahabatku yang merangkap sebagai kekasimu mendadak mencurahkan isi hati nya saat kami sedang duduk berdua. Menunggu sore di beranda depan laboratorium. Dia bercerita sambil tertawa, namun aku tahu ada sesuatu yang membuat hati nya sedih, ada yang mengganjal dalam hatinya. Katanya, kamu begitu sulit ia terka. Biar kuberi tahu beberapa rahasia nya tentangmu. Dia ingin sesekali menghabiskan hari denganmu. Berjalan jauh tanpa keluh tanpa rasa malas mu itu. Dia ingin sesekali kamu ajak berkeliling, menikmati jalanan. Berdua tanpa pengganggu. Dia ingin sesekali kamu perhatikan, melihat langit dari pagi hingga petang. Dia bukan ingin seperti kebanyakan orang, yang merenggut waktu kekasihnya hanya untuk kesenangannya. Dia bukan ingin merusak waktu tidurmu. Dia bukan pula seperti mantan kekasihmu, yang hobi mengajakmu pergi. Kamu pa...

Terburu

Begitu banyak orang terburu buru di hari ini. Entah apa yang ingin dituju. Ada yang menuju cintanya, patah hatinya, kebingungannya, keputus asaannya, bahkan ada yang menuju kau.  Jalanan begitu ramai. Penuh sesak. Macet. Seperti kau di rongga-rongga tubuhku.  Aku lebih suka memperlambat laju kendaraan. Memperlama waktu hingga bisa sampai ditempatmu. Melihat seberapa mau kau menunggu. Aku berdiskusi dengan pikiran ku, tentang mu.  Tentang bagaimana hati ramai-ramai menuju kau. Tentang aku yang tak pernah diawal. Tentang kita yang belum juga di titik akhir. Aku kembali terburu-buru. Mempercepat laju jalanan. Balapan liar dengan bintang-bintang. Sial. Aku yang tak pernah diawal. Sudah ada dia dihadapan kau.  Membawa segala dunia, tentang cantik dan kaya. Sedang aku hanya membawa mimpi-mimpi akan hal baik di masa depan. Di detik yang ke sekian, aku melihat kau menghilang. Ditelan dunia, yang cantik dan kaya. #30HariMenulisSuratCinta

Lekas Membaik

Hay fadly. Sebelumnya isi surat saya hanya fiktif, hanya untuk benda mati. Tapi, surat kali ini untuk mahluk hidup bernama Moehamad Fadly. Teruntuk kamu yang saya tahu sedang tidak dalam keadaan sehat. Kamu pasti bertanya mengapa saya begitu berani menuliskan surat ini untuk kamu. Awalnya saya ingin menulisnya di surat kaleng, namun niat itu saya batalkan. Saya kira, saya lebih berani dari itu. Saya melihat di akun instagram milikmu, kamu sedang dirawat. Saya tidak tahu kamu sakit apa. Bahkan saya tidak punyak hak untuk tahu. Saya hanya wanita yang bagaimana bisa, hingga hari ini selalu mengamati akun twitter mu. Tulisan-tulisan mu di twitter seperti obat yang setiap hari saya minum hingga menjadi kecanduan. Biar saya memperkenalkan diri, nama saya Vici. Kamu hanya cukup tahu itu. Karena selebihnya nanti saja atau lewat surat selanjutnya. Saya hanya ingin mendoakan semoga kamu lekas sembuh. Semoga kamu lekas membaik. Jangan terlalu sibuk dengan dunia luar, dunia dalam tubuh...

Sihir Hujan

Hai tuan asr, Di tempat saya, sejak malam tadi hingga detik saya menuliskan surat ini langit menangis tanpa henti. Entah karena sedih atau karena bahagia.  Yang saya tahu, saya terperangkap disini. Dibawah selimut tebal dengan kamu memenuhi langit-langit kamar. Ada banyak senyum dan abai.  Hujan kali ini awet sekali. Memenjarakan banyak rindu dan kamu. Sedang saya harus dengan susah payah membangun pertahanan diri supaya tidak jatuh untuk yang kesekian kali karena mengingat kamu. Rintik di luar seperti alunan lagu yang mungkin begitu sering kamu dengar.  Saya selalu tersihir oleh hujan. Membuat saya melamun berjam-jam. Dengan kamu memenuhi isi kepala saya. Membuat sesak seluruh rongga. Ingatan saya dipaksa berputar mengingat kita. Tentang perkenalan kita. Tentang hutang puisi yang hingga hari ini belum kamu tepati. Tentang suaramu di malam-malam ramadhan tahun lalu. Tentang nama saya yang kamu bawa hingga puncak papandayan. Tentang saya yang dengan begit...

Untuk Boy

Hai boy candra. Apa kabar?  Masih ingat dengan saya? Harusnya masih.  Saya masih disini, menunggu pertemuan-pertemuan yang lebih manis dari hari kemarin. Pertemuan dengan mu, penulis berbakat yang sedang dicintai banyak hawa akhir-akhir ini. Pertemuan dengan pria bertubuh kecil. Pertemuan dengan pria yang memiliki patah hati yang begitu besar di hati nya.  Ingat bagaimana pertama kali kita bertemu. Saya dibantu mantan kekasih sahabat saya untuk menuju kamu. Rasa nya mudah sekali menggapai kamu hari itu. Selain mendapat foto berdua, saya juga mendapatkan tatapan teduh penuh luka dari mu. Esoknya saya mendapat hadiah kencan dadakan dari sahabatmu karena malam sebelumnya saya salah alamat untuk bertemu denganmu.  Saya bercanda, tentu saja itu bukan ajakan kencan. Itu hanya rasa tidak enak hati karena saya tidak dapat bertemu denganmu di malam puisi.  Saya senang sekali dapat menjadi wanita yang kamu tunggu dengan begitu terpaksa. Wanita yang mengikutimu de...

Memimpikanmu

Kepada mimpi yang menghadirkan kamu Aku ingin seperti ini, selalu. Terpejam dengan kamu di dalam angan. Biarkan hujan lebat asal kamu tak hanya lewat sekelebat. Biarkan kamu semakin lama disini. Di mimpiku. Kemarin aku memimpikan kamu.  Untuk pertama kalinya di mimpi itu kamu menyapaku. Untuk pertama kalinya kita begitu dekat. Untuk pertama kalinya kamu menatap mataku lekat-lekat.  Dan, untuk pertama kalinya, kamu jatuh cinta padaku. Aku dapat mendengar begitu jelas suaramu. Dapat merasakan sentuhan tanganmu di punggung tanganku. Mengusap nya lembut. Aku dapat melihat matamu begitu jatuh padaku.  Kamu mencintai aku. Seperti judul tulisan ini, aku memimpikanmu. Hanya memimpikanmu. Sebatas mimpi. Menyedihkan sekali.  Tapi sedih ku tidak berlarut. Sapa mu benar-benar terdengar sepagi ini. Kamu, tidak hanya sebatas mimpi.  Meski aku sudah bangun, tanpa kamu. Tidak ada kamu yg begitu dekat. Tapi, ada kamu yg mencintaiku. Aku masih tersenyum. Kamu dan...

Kepada pria yang sedang mendaki

Jika kamu sudah sampai disana, bisa kah kamu melihat lebih ke dalam hati mu.  Masih kah ada saya, atau justru tertinggal di bawah sana. Jika kamu sudah sampai dan perasaan mu masih sama, mungkin kamu harus mendaki lagi untuk tahu mana yang paling berarti. Berat sekali melepas kamu. Meski tidak pergi selama nya, pamit mu itu seperti akhir bagi kita.  Ada acuh yang semakin menjadi-jadi.  Ada kalimat yang makin gemar melukai, yang semakin tajam saat duduk berdua dengan roti dan teh wangi di hadapan kita.  Saya menunggu kamu. Meski saya tahu, ada menunggu untuk yang datang dan ada menunggu untuk yang tidak akan pulang.  Saya tetap menunggu untuk tahu bahwa roti dan teh wangi kali ini tidak akan menjadi saksi kedukaan lagi. Tapi, menjadi saksi saya menunggu kamu dengan rasa rindu. #30HariMenulisSuratCinta

Sembunyikan Saya

Kepada mu yang masih menyembunyikan saya dari seluruh dunia. Kita pernah sama-sama saling bersilang jalan. Pernah saling bersisian. Pernah saling pergi. Tapi, apa yang semestinya jadi satu pasti akan kembali.  Kita pernah pula saling melewatkan. Pernah juga dengan berat hati melepas genggaman. Tapi, apa yang semestinya jadi milik kita akan datang tanpa pernah memberi tahu. Kini, saya senang berada disini. Di tempat yang ingin saya tetapkan menjadi rumah. Tempat saya pulang dari segala lelah. Tempat yang tidak seorang pun tahu, karena kamu dengan begitu tenang menempatkan saya dengan begitu rahasia di situ. Di hatimu.  Maka dengan surat ini, kamu harus bertanggung jawab karena sudah membuat saya betah. Kamu harus menjaga saya agar tetap berada di sisimu. Meyakinkan saya untuk tidak membuka pintu. Membuat saya jatuh hati setiap hari padamu. Sebagai hadiah, kamu dapat menikmati senyum saya yang manis semau mu😄 #30HariMenulisSuratCinta

Teruntuk Kamu yang Tidak Bisa Saya Sebutkan

Kamu sudah bangun?  Jika sudah, maka sibuk lah menjadi baik. Saya pun sedang memantaskan diri.  Saya ingin mengutarakan banyak hal, yang paling awal adalah tentang terima kasih. Terima kasih sudah menjadi sahabat yang baik di masa lampau. Terima kasih sudah menjadi kekasih yang baik di masa ini. Terima kasih untuk selalu sabar menghadapi saya yang begitu keras kepala.  Sebenarnya sulit sekali mencintai kamu seperti ini. Saya harus selalu mengatakan tidak pada orang lain, sedang kamu hal yang selalu saya ingin katakan ya. Sedih saya terkadang sederhana sekali, harus menyimpan rapat-rapat kita yang bahagia.  Sampai kapan kita seperti ini?  Jika bagimu seperti ini cukup, saya pun akan melakukan hal yang sama. Karena bahagia saya sudah cukup, bertemu kamu pria baik yang mencintai saya dengan malu-malu. Tetaplah seperti ini, menyembunyikan saya dari seluruh dunia. Menjadikan saya milik mu satu-satu nya. Memiliki senyum saya setiap hari. Dan menjadi pria yang...

Aku, ingin jadi simpananmu

Selamat siang tuan asr Hari ini saya sedang belajar memperhatikan banyak hal. Karena cuaca sedang begitu cerah, sedang saya menghabiskan waktu berjam-jam di laboratorium analisis yang dingin. Saya tiba-tiba melakukan ritual melepas luka. Seperti merindukan kamu misalnya. Saya ingin menjadi simpanan mu. Bukan, bukan wanita yang suka merusak bahagia milik orang lain. Saya ingin jadi sesuatu yang kamu simpan dengan baik. Seperti perasaanmu, yang kamu jaga begitu rapat sehingga saya kesusahan berjalan kesana. Jalan nya sempit sekali. Saya ingin jadi seperti gadget mu, yang selalu kamu bawa kemana pun pergi. Saya ingin jadi seperti gunung, yang selalu membuat mu rindu dan kembali lagi. Saya ingin menjadi buku-buku kesukaanmu, yang selalu kamu baca berulang-ulang tanpa jemu. Saya ingin jadi ribuan pakaian, yang melindungi mu dari panas dan dingin nya sengatan cuaca. Saya ingin jadi apa-apa yang kamu cintai dengan utuh-penuh. Saya ingin jadi segala hal yang kamu rindukan, yang k...

Cemara Laut

Hai cemara lautku. Penelitian yang maha dasyat. Cepat tumbuh besar ya. Empat bulan yang lalu pilihan saya jatuh pada kemiri. Namun, yang namanya jodoh memang pasti bertemu. Dosen pembimbingku menjodohkan ku dengan mu. Tanaman asing yang baru pertama kali ku dengar. Melihat mu pun aku belum pernah. Awalnya kesal sekali, karena mu, aku harus merombak ulang semua proposal ku. Kembali harus begadang. Kembali harus minum bergelas-gelas kopi. Namun, ternyata kamu memudahkan ku. Karena kamu, aku orang pertama yang seminar proposal di angkatanku.  Sudah banyak sekali waktu yang ku habiskan hanya untuk mengamati mu. Hanya untuk memastikan kamu tumbuh dengan baik.  Kata teman-temanku kamu begitu cantik. Senang sekali banyak orang yang mengagumimu. Melihat mu jadi yang tercantik di antara penelitian yang lain. Tapi, berjanjilah untuk tidak sombong. Aku selalu berdoa pada Tuhan supaya kamu sehat. Supaya kamu tumbuh besar supaya aku wisuda tepat.  Semoga persahab...