Tentang kita yang bersisian dalam diam yang berkepanjangan.
Tentang kopi dingin yang mengantara.
Tentang sebelah tangan kita yang begitu saling ingin menggenggam dibawah meja.
Aku pernah begitu jatuh cinta. Padamu, pria penulis puisi. Pria yang mencintai kopi layaknya diri sendiri. Namun setelah tahu aku mulai ikut mencintai. Kamu menyesap habis kopi dan menghapus semua puisi.
Aku, kehilangan.
Kamu benar, aku sudah begitu jatuh dan tenggelam terlalu dalam pada apa-apa yang disebut dengan kehilangan.
Sejak itu aku mulai gemar mengakrabkan kopi dan hujan, serta kenangan tentang kita.
Kamu dan hujan selalu mengencani kopi lagi dan lagi. Sedang aku hanya bisa ngimpi lagi.
Percuma saja mau ditambahkan gula sebanyak apa, kopi ini sudah terlalu pekat dengan kamu di dalam nya.
Coba nikmati pahit yang selama ini mengendap dalam kopiku. Biar kunikmati bahagia yang selama ini larut di kopimu.
Dan malam ini menjadi saksi, bagaimana aku ingin melupakan masa lalu. Berbaring di sofa dengan lampu yang hampir redup. Meyakinkan diri sendiri bahwa sudah tak ingat lagi.
Namun, kopi di hadapanku mencibir.
Kali ini tuan, aku memohon buta.
Karena kopi di hadapan ku makin menjadi-jadi mengulik kenangan lama. Tentang perpisahan jug pesakitan.
Sakit sekali.
Harusnya tak usah kamu hadiahi perpisahan untuk membuktikan cinta itu menyakitkan.
Kini kopi dihadapanku menguarkan asap membentuk wajah pria yang kucintai. Wajah mu.
Aku, sudah tidak tahu dengan apa lagi memintamu. Maka kali ini bantu aku untuk sampai segera di garis finish.
#30HariMenulisSuratCinta
Tentang kopi dingin yang mengantara.
Tentang sebelah tangan kita yang begitu saling ingin menggenggam dibawah meja.
Aku pernah begitu jatuh cinta. Padamu, pria penulis puisi. Pria yang mencintai kopi layaknya diri sendiri. Namun setelah tahu aku mulai ikut mencintai. Kamu menyesap habis kopi dan menghapus semua puisi.
Aku, kehilangan.
Kamu benar, aku sudah begitu jatuh dan tenggelam terlalu dalam pada apa-apa yang disebut dengan kehilangan.
Sejak itu aku mulai gemar mengakrabkan kopi dan hujan, serta kenangan tentang kita.
Kamu dan hujan selalu mengencani kopi lagi dan lagi. Sedang aku hanya bisa ngimpi lagi.
Percuma saja mau ditambahkan gula sebanyak apa, kopi ini sudah terlalu pekat dengan kamu di dalam nya.
Coba nikmati pahit yang selama ini mengendap dalam kopiku. Biar kunikmati bahagia yang selama ini larut di kopimu.
Dan malam ini menjadi saksi, bagaimana aku ingin melupakan masa lalu. Berbaring di sofa dengan lampu yang hampir redup. Meyakinkan diri sendiri bahwa sudah tak ingat lagi.
Namun, kopi di hadapanku mencibir.
Kali ini tuan, aku memohon buta.
Karena kopi di hadapan ku makin menjadi-jadi mengulik kenangan lama. Tentang perpisahan jug pesakitan.
Sakit sekali.
Harusnya tak usah kamu hadiahi perpisahan untuk membuktikan cinta itu menyakitkan.
Kini kopi dihadapanku menguarkan asap membentuk wajah pria yang kucintai. Wajah mu.
Aku, sudah tidak tahu dengan apa lagi memintamu. Maka kali ini bantu aku untuk sampai segera di garis finish.
#30HariMenulisSuratCinta
melepaskan itu cinta juga. kepada diri sendiri, agar lebih bahagia lagi.
BalasHapus-Ikavuje