Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2018

Move On

Bel pulang sekolah sudah berdering sepuluh menit yang lalu tapi Zaki belum juga pulang. Dia setia menemani Silver yang sedang menunggu Art di parkiran. Silver sudah berulang kali menyuruh nya untuk pulang tapi Zaki tetap diam tak bergeming.              “Zek, pulang deh, gue udah ada Art lu tenang aja.”             “Nanti sampai Art dateng baru gue pulang.” Jawab Zaki tidak peduli dengan wajah kesal Silver. Zaki mulai merasa ada yang aneh. Dia sudah tahu bahwa perasaan nya untuk Silver sudah berubah bukan lagi kadar untuk sahabat. Tapi melihat Silver terlalu bersemangat pulang dengan Art, perasaan Zaki mulai tidak bisa dikendalikan. Zaki ingin memiliki Silver. Tapi tidak ingin terlihat. Tiga puluh menit Art mulai terlihat berjalan ke arah parkiran dengan bola basket di tangan.             “Zek, tuh Art udah ...

Move On

Dulu “Zek, lu udah ngerjain tugas biologi belum, liat dong?” Sambil mengeluarkan senyum manis Silver bergelayut manja di lengan Zaki. Bukan nya kesal Zaki justru senang melihat tingkah Silver yang selalu manja dengan nya. Tapi, seperti kebanyakan pria, Zaki akan selalu berusaha untuk tidak terlihat. “Nih bawa, gue mau ke kantin.” Ujar Zaki sambil menyerahkan buku tugas biologinya pada Silver. Mereka berdua sudah bersahabat sejak awal masuk Sekolah Menengah Pertama. Silver pernah menyelamatkan Zaki saat masa orientasi karena tidak membawa topi. Sejak saat itu baginya Silver adalah penyelamat nya. Semua kesialan dalam hidup Zaki akan selalu di selamatkan oleh Silver. Awal masuk Sekolah Menengah Atas mereka kembali dipertemukan di kelas yang sama hingga kelas dua belas. Hal itu membuat Zaki dan Silver seperti kaos kaki. Selalu berpasangan dan tidak ada fungsinya jika yang satu hilang. Seperti saat mereka kelas sepuluh SMA, Zaki sakit demam berdarah dan harus istirahat di rumah s...

Move On

Hari yang merah dan pengap. Sore itu semua udara diserap habis oleh kesedihan. Wanita berwajah senja itu hanya mampu melihat nanar ke arah kurir yang pergi setelah mengantar sebuah undangan.  Pernikahan. Dengan undangan bertema serba ungu nama Artlagadar dan Meisya yang tertera sangat besar di halaman paling depan. Wanita itu lalu mematut diri di cermin. Melihat bagian mana dari dirinya yang tidak bisa dicintai Artlagadar. Tubuhnya tinggi dengan kulit kuning langsat yang cerah, perawatan setiap sebulan sekali yang cukup menguras habis gaji bulanan. Karir yang akan cukup untuk menunjang hidupnya hingga batas usia, seorang editor in chic yang sudah tujuh tahun melalang buana dengan novel-novel penulis terkemuka. Hubungan yang baik dengan rekan dan teman, kepercayaan diri dan ketegasan yang akan selalu tampak di diri nya bagi setiap orang yang baru mengenalnya. Untuk ukuran wanita seusianya, dia sangat bisa dikatakan masuk kategori idaman. Tapi, bukan Artlagadar. Pria itu ...

Tukar Jiwa (2)

Undangan pernikahan dengan tema serba ungu dibagikan ke tiap meja. Seorang wanita di sudut paling kiri tersenyum melihat undangan itu di tangan. Bahagianya tentu saja karena pria itu adalah sahabatnya, yang selalu berbagi keluh kesah tentang wanitanya selama hampir enam tahun. Undangan itu kini jadi pembuktian nya bahwa dia benar-benar mencintai kekasihnya. Bahagianya yang lain adalah bahwa wanita itu memiliki firasat bahwa dia akan bertemu seorang yang selalu memenuhi mimpinya. Pria itu dikenalkan oleh Pras, sahabat nya yang akan segera menikah. Satu tahun lalu mereka pertama kali nya bertemu. Di bioskop saat menemani Pras dan kekasihnya bertemu. Kencan ganda, satu pasangan dengan penuh cinta. Sisanya penuh senyum malu-malu. Tak ada satu kata pun terucap. Hanya saling menimpali obrolan Pras dengan kekasihnya. Untuk mengatakan bahwa mereka saling jatuh cinta, rasa nya terlalu terburu. Mereka bahkan tidak mengerti apa yang mereka rasakan. Pria itu bahagia ada disini, menatap sesekal...