Hari yang merah dan pengap. Sore itu
semua udara diserap habis oleh kesedihan. Wanita berwajah senja itu hanya mampu
melihat nanar ke arah kurir yang pergi setelah mengantar sebuah undangan.
Pernikahan.
Dengan undangan bertema serba ungu nama
Artlagadar dan Meisya yang tertera sangat besar di halaman paling depan. Wanita
itu lalu mematut diri di cermin. Melihat bagian mana dari dirinya yang tidak
bisa dicintai Artlagadar. Tubuhnya tinggi dengan kulit kuning langsat yang
cerah, perawatan setiap sebulan sekali yang cukup menguras habis gaji bulanan. Karir
yang akan cukup untuk menunjang hidupnya hingga batas usia, seorang editor in
chic yang sudah tujuh tahun melalang buana dengan novel-novel penulis
terkemuka. Hubungan yang baik dengan rekan dan teman, kepercayaan diri dan
ketegasan yang akan selalu tampak di diri nya bagi setiap orang yang baru
mengenalnya. Untuk ukuran wanita seusianya, dia sangat bisa dikatakan masuk
kategori idaman. Tapi, bukan Artlagadar. Pria itu benar-benar sudah menjatuhkan
pilihan pada gadis yang sudah dipacari nya tujuh tahun. Yang semua orang kira
akan berakhir pada bulan pertama, nyatanya Meisya yang mampu memeluk Artlagadar
seerat itu hingga undangan ini datang. Wanita itu tidak puas hanya mematut diri
di cermin, dia mengambil telepon genggam nya memanggil seseorang.
“Zek, i need you. Like much”. Tanpa
basa-basi wanita itu langsung menyergap dengan tangisan. “Gue tunggu di luar
angkasa”. Tanpa riasan wanita itu pergi dengan undangan di tangan dan kesedihan
di seluruh badan. Dia hanya ingin bertemu Zaki malam ini. Meluapkan segalanya.
Luar angkasa adalah mini café di sudut jalan kota Yogyakarta. Café itu
sebenarnya tidak bernama, karena konsep yang ingin diusung pemiliknya adalah
tempat rahasia. Dan setiap orang bisa manamai nya apa saja. Ada yang
menyebutnya Mars, Pluto, bahkan Kamar mandi.
Luar
angkasa cukup sepi malam itu. Seorang pria dengan kopi dan roti duduk di sudut
paling belakang. Menatap kesal ke arah wanita yang berjalan ke arahnya. Belum
sempat pria itu membuka mulut nya, wanita itu sudah melempar undangan yang ia
genggam ke arah dadanya. “What the
hell”. Pria itu berdiri dan wanita itu langsung memeluknya. Tidak ada kalimat
apapun hanya tangisan. “Lu kenapa Sil?”
Kecemasan mulai menjalar di luar angkasa. Setelah pelukan usai dan tangisan
reda, Silver mulai menceritakan tentang undangan ini. Pria yang diceritakan
melihat geram.
“Lu yang bener aja deh Sil, nyuruh
gue malem-malem gini ke luar angkasa cuma buat dengerin kebegoan lu yang nggak
ada mati nya itu”. Silver langsung memukul lengan Zaki. “Lu ganggu gue lagi
main futsal tahu nggak. Bikin gue khawatir lu”. Bukan nya merasa bersalah,
Silver justru makin merengek pada sahabatnya.
“Gue harus gimana Zek, dia mau
nikah.”
“Move on.” Ucap Zaki sambil
menikmati kopi yang ia pesan.
“Gue kurang apa Zek, cantik? Kaya?”
“Lu cuma harus buka mata. Lanjutin
hidup.” Ujar Zaki sambil menggelengkan kepala melihat sahabat baik nya yang
menyebalkan.
“Kalau dia nikah, gue sama siapa
Zek?” Rengek Silver tak berhenti.
“Sama gue. Udah deh gue anterin
pulang yuk.” Zaki menggenggam erat tangan Silver berusaha menguatkan tapi tidak
ingin terlihat. Bagaimana pun Zaki adalah seorang pria, yang malu untuk
menunjukkan simpati dan perhatian.
“Zek, lu inget nggak dulu gue sama
Artlagadar pernah hampir jadian?” Silver mulai lagi mengungkit kejadian yang
paling malas diingat Zaki. Mobil Zaki sengaja menepi, pria itu geram dengan
sahabat nya yang masih memikirkan Artlagadar.
“Gini deh Sil, gue inget tapi males
ngebahasnya. Coba deh lu pikir lagi, baru hampir jadian Sil, belum kan tapi
nyatanya. Dan semua orang juga tahu kalau Artlagadar itu salah kirim bunga.” Zaki
menghela nafas panjang berusaha keras hati-hati menjelaskan kepada Silver.
Karena sedikit saja hati Silver terluka, Zaki akan jadi orang pertama yang akan
menghukum dirinya.
“Bali yuk?” Silver sepertinya
meracau.
“Kita harus ke Surabaya, datang ke
acara Artlagadar”. Ujar Zaki mantap. Silver yang kaget dengan ucapan Zaki
langsung melayangkan pukulan ke lengan pria itu.
“Lu bunuh gue aja deh sekarang,
nggak ada simpati nya deh, sahabat lagi patah hati juga malah disuruh dateng ke
nikahan nya”.
“Apapun yang terjadi gue bakal bawa
lu ke sana”.
“Terserah”.
Percakapan
usai. Rasanya Silver salah orang untuk curhat masalah Artlagadar.
Bersambung
Bersambung
#Cerbung
Komentar
Posting Komentar