Langsung ke konten utama

Move On


Dulu
“Zek, lu udah ngerjain tugas biologi belum, liat dong?” Sambil mengeluarkan senyum manis Silver bergelayut manja di lengan Zaki. Bukan nya kesal Zaki justru senang melihat tingkah Silver yang selalu manja dengan nya. Tapi, seperti kebanyakan pria, Zaki akan selalu berusaha untuk tidak terlihat.

“Nih bawa, gue mau ke kantin.” Ujar Zaki sambil menyerahkan buku tugas biologinya pada Silver. Mereka berdua sudah bersahabat sejak awal masuk Sekolah Menengah Pertama. Silver pernah menyelamatkan Zaki saat masa orientasi karena tidak membawa topi. Sejak saat itu baginya Silver adalah penyelamat nya. Semua kesialan dalam hidup Zaki akan selalu di selamatkan oleh Silver. Awal masuk Sekolah Menengah Atas mereka kembali dipertemukan di kelas yang sama hingga kelas dua belas. Hal itu membuat Zaki dan Silver seperti kaos kaki. Selalu berpasangan dan tidak ada fungsinya jika yang satu hilang. Seperti saat mereka kelas sepuluh SMA, Zaki sakit demam berdarah dan harus istirahat di rumah sakit selama seminggu. Silver seperti juga ikutan sakit, tidak pernah mengikuti pelajaran di kelas. Dia justru sibuk menanyakan kabar Zaki setiap saat. Sama hal nya saat Silver sakit. Zaki harus begadang semalaman untuk membuat catatan pelajaran untuk Silver. Dan besok nya Zaki harus ikutan sakit. Dan semuanya berubah sejak Silver mulai jatuh cinta. Semua kesialan dalam hidup Zaki justru berasal dari Silver. 

“Zek.” Panggil Silver sambil berlari menyusul Zaki ke kantin. “Tolong kerjain dulu dong, gue mules banget nih”. Sambil memberikan tas dan semua buku ke pelukan Zaki, Silver langsung lari ke toilet. Jika wanita itu bukan Silver, sudah pasti akan Zaki buang semua barang yang ada di tangannya saat ini. 

“Jangan lama-lama”. Teriak Zaki yang sudah pasti tidak lagi di dengar oleh Silver. Pria itu duduk dan memesan dua cokelat panas. Satu kesukaan Silver dan yang satu lagi karena kesukaan Silver. Zaki hanya ingin menjadi bagian dari apa yang Silver sukai. Sepuluh menit Silver kembali dengan senyum mengembang seperti biasa. Tugas biologi sudah selesai di tangan Zaki. Aroma cokelat akan membuat Silver menghirup nafas panjang sambil memejamkan mata lalu tersenyum. Zaki akan menikmati pemandangan itu dengan senyum selama Silver menutup mata. “Udah selesai. Minum dulu.” Zaki menyodorkan cokelat panas yang ia pesan tadi. Silver langsung menyambutnya dengan senyuman manis.

“Makasih Zek, lu emang deh juara. Superman gue deh emang.” Silver tersenyum melihat Zaki yang sibuk membereskan tas dan bukunya di atas meja. Tapi senyum nya tidak bertahan lama saat Silver mencium aroma yang paling ia sukai. “Zek, lu cium aroma cokelat nggak?” Tanya Silver sambil memejamkan mata dan tersenyum.

“Kan lu lagi minum hot chocolate itu Sil”. Jawab Zaki sambil menikmati raut wajah Silver.
“Ini beda Zek, ini cokelat. Cokelat banget.”
“Nggak ngerti gue Sil.”

Silver membuka mata dan berusaha mencari dari mana aroma itu. Seorang pria dengan tubuh tinggi menghampiri mereka. Aroma cokelat makin kuat. Silver yakin sekali aroma cokelat itu berasal dari pria ini.

            “Hai, Sil.” Sapa pria itu dengan senyum manis.
            “Haaaaaiii.” Jawab Silver memalukan seperti di hipnotis. Zaki hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya.
            “Hai Art, ada apa?” Sorry ya Silver emang norak.”
            “Hai Zak, no problem.”
Silver memandang Zaki dengan tatapan seolah berkata “awas lu ya nanti” karena berhasil bikin Silver malu di depan Art. Zaki memberi ruang pada Art untuk duduk.
            “Jadi gini Sil, gue denger lu punya toko masa lalu ya, buat jual semua barang dari mantan?”
            “Iya Art, kok lu tau?”
            “Yaiyalah tahu, lu pasang pamflet dimana-mana.” Jawab Zaki menyebalkan. Silver langsung menatap Zaki dengan tatapan ala medusa.
            “Sstttt diem deh lu Zek.” Tanggap Silver cepat dan kembali fokus pada Art. “Iya Art, lu mau jual barang dari mantan lu? Boleh kok boleh.” Silver tersenyum manis.         
            “Pulang sekolah bisa kesana, soalnya barang nya ada di mobil udah gue bawa. Bareng aja nanti pulang nya sama gue.”
            “Bisa kok bisa. See you later yaa Art.” Jawab Silver cepat seolah tidak mau kehilangan kesempatan.
            “Ok Sil, yaudah gue ke kelas duluan ya.”
Silver masih memandang Art dari tempatnya. Punggung Art saja mampu membuat Silver senyum terus terusan. Zaki kesal melihat senyum Silver seperti ini. Senyum yang bukan untuknya. Zaki menarik ujung rambut Silver dengan kuat membuyarkan lamunan Silver tentang Art.
            “Apaan sih sakit tahu, jahat.” Ujar Silver sambil mengusap kepalanya. “Art wangi cokelat banget kenapa gue baru sadar ya, Zek.” Silver meracau tidak jelas.
            “Bodo amat deh, nggak ngerti gue. Yuk ke kelas.” Ajak Zaki menggenggam tangan Silver. Erat sekali sampai Silver memaksa ingin di lepas.
            “Sakit tahu kenapa kuat banget sih kaya mau nyeberang. Oh iya, nanti gue pulang sama Art ya, gue mau jalan dulu sama batman. Bye bye superman kuuuuu.” Ujar silver jail sambil melenggang mendahului Zaki ke kelas. 


Bersambung

#Cerbung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sembunyikan Saya

Kepada mu yang masih menyembunyikan saya dari seluruh dunia. Kita pernah sama-sama saling bersilang jalan. Pernah saling bersisian. Pernah saling pergi. Tapi, apa yang semestinya jadi satu pasti akan kembali.  Kita pernah pula saling melewatkan. Pernah juga dengan berat hati melepas genggaman. Tapi, apa yang semestinya jadi milik kita akan datang tanpa pernah memberi tahu. Kini, saya senang berada disini. Di tempat yang ingin saya tetapkan menjadi rumah. Tempat saya pulang dari segala lelah. Tempat yang tidak seorang pun tahu, karena kamu dengan begitu tenang menempatkan saya dengan begitu rahasia di situ. Di hatimu.  Maka dengan surat ini, kamu harus bertanggung jawab karena sudah membuat saya betah. Kamu harus menjaga saya agar tetap berada di sisimu. Meyakinkan saya untuk tidak membuka pintu. Membuat saya jatuh hati setiap hari padamu. Sebagai hadiah, kamu dapat menikmati senyum saya yang manis semau mu😄 #30HariMenulisSuratCinta

Thank You Mozaik

Hai, Mozaik Al Isamer, putra sulung Bapak Insan Asyik.  Sekitar tiga hari yang lalu aku berkunjung ke typoganteng.com dan membaca tulisan yang berjudul "Ayah, Kau Terbaik!". Dan karena ulahmu menuliskan itu berhasil membuatku menangis dan merindukan ayahku.  Yang paling bisa buat mata berkaca-kaca di bagian yang ini, "Gue anak nggak berguna, kalau dia nggak bisa nikmatin masa tua nya." Aku rasa apapun yang berhubungan dengan orang tua akan selalu bersinggungan dengan air mata.  Sebelumnya, aku akan memperkenalkan diri dengan sejelas-jelasnya karena ini bukan surat kaleng. Namaku Vici Kurnia Ayuningtyas, putri sulung Bapak Muazin. Kelahiran Lampung, 22 Mei 1995. Seperti yang kamu tuliskan sebelumnya bahwa setiap Ayah akan selalu punya "keren" nya masing-masing. Tapi, pandangan anak perempuan dan laki-laki tentang Ayah akan sangat berbeda menurutku. Seperti nama Ayahku; Muazin, yang katanya arti nama itu adalah pria yang mengumandangkan adzan. Ta...

Menyukai Seseorang

Bukankah menyukai seseorang adalah hal yang mudah? Hanya cukup dengan menyukai nya, tanpa perlu tahu siapa mantan kekasihnya, pekerjaannya, apa yang sedang ada dalam pikiran nya. Hidup akan baik-baik saja sepertinya. Hari-hari hanya akan ada perasaan baik, mendoakan, mengharapkan. Dalam menyukai kita selalu diperbolehkan berharap, tidak ada yang bisa membatasi rasa dan harapan itu karena semuanya milikmu. Rasa ingin tahu tentang nya adalah yang paling menguasi pikiran mu. Tentang hobi nya,  makanan dan film favorit nya, tipe pasangan yang menjadi impian nya. Padahal rasa ingin tahu itu bisa melukai. Tapi, tiap kali kamu menyukai seseorang seolah kamu merasa jadi manusia yang paling bisa menahan rasa sakit. Kamu merasa baik-baik saja saat orang yang kamu sukai muncul di timeline mu.  Hadir sesekali lewat instastory. Hanya dengan itu kamu merasa jadi yang paling tahu tentang diri nya. Kamu merasa hari mu dipenuhi tawa dengan melihat foto nya yang sedang tersenyum,...