Bel
pulang sekolah sudah berdering sepuluh menit yang lalu tapi Zaki belum juga
pulang. Dia setia menemani Silver yang sedang menunggu Art di parkiran. Silver
sudah berulang kali menyuruh nya untuk pulang tapi Zaki tetap diam tak
bergeming.
“Zek, pulang deh, gue udah ada Art
lu tenang aja.”
“Nanti sampai Art dateng baru gue
pulang.” Jawab Zaki tidak peduli dengan wajah kesal Silver. Zaki mulai merasa
ada yang aneh. Dia sudah tahu bahwa perasaan nya untuk Silver sudah berubah
bukan lagi kadar untuk sahabat. Tapi melihat Silver terlalu bersemangat pulang
dengan Art, perasaan Zaki mulai tidak bisa dikendalikan. Zaki ingin memiliki
Silver. Tapi tidak ingin terlihat. Tiga puluh menit Art mulai terlihat berjalan
ke arah parkiran dengan bola basket di tangan.
“Zek, tuh Art udah ada, pulang deh
pulang.” Ujar Silver seraya mengusir Zaki supaya segera pergi.
“Kalau ada apa-apa telepon.” Zaki
khawatir.
“Lu kira gue pergi sama psikopat
apa, gue cuma pergi sama Art ke toko. Pulang nggak!” Kali ini Silver mulai
geram. Zaki akhirnya menyerah, bagaimanapun batasnya saat ini adalah hanya
untuk memastikan Silver baik-baik saja. Zaki hanya menghilang di balik pagar
sekolah, dia belum pulang. Rasanya membiarkan Silver pergi dengan pria lain
tidak akan pernah Zaki lakukan. Mobil Art sudah keluar area sekolah. Zaki dapat
melihat Silver tersenyum.
Di
mobil, Silver dapat melihat Zaki mengikutinya dari belakang dengan sepeda.
Tanpa sadar Silver berdecak cukup kuat dan mencuri perhatian Art.
“Kenapa Sil?” Tanya Art keheranan.
“Nggak apa-apa Art, bisa ngebut
dikit nggak, gue mules nih.” Sahut Silver seadaanya dengan senyuman jahil di
wajah. Art hanya bisa tersenyum dan mempercepat laju mobil nya. Zaki tertinggal
jauh dan tidak lagi terlihat. Dua puluh menit mereka sudah sampai di depan toko
milik Silver. Toko masa lalu. Toko yang Silver buat dua tahun yang lalu. Toko
yang menerima barang-barang dari mantan untuk di jual kembali. Tentu saja
barang yang masih layak untuk diperjual belikan. Sudah banyak pelanggan yang
datang kesini untuk menjual barang dari mantan nya, bahkan ada yang tidak mau
di bayar. Ada juga yang kembali untuk membeli barang yang dijual karena
akhirnya mereka jadian lagi. Dan itu sebuah keuntungan untuk Silver. Semua area
toko di cat warna pink, warna kesukaan Silver. Semua barang disusun berdasarkan
abjad. Rapi dan bersih, bahkan tidak terlihat seperti barang bekas. Ada barang
yang sengaja Silver perbaiki supaya terlihat bagus lagi. Saat memasuki toko
aroma yang pertama kali tercium adalah aroma cokelat. Semua yang masuk akan
menghirup nafas dalam-dalam seolah menikmati ketenangan. Silver mempersilahkan
Art masuk.
“Selamat datang di masa lalu Art.”
Ujar Silver sambil tersenyum manis.
“Keren Sil.” Jawab Art sambil
memperhatikan setiap detail toko milik Silver.
“Jadi lu baru putus?” Tanya Silver
sambil mempersilahkan Art duduk. Art lalu mulai menceritakan sejarah barang
yang ia bawa. Sebenarnya dia sudah putus setahun yang lalu dan sudah lupa
dengan semua barang-barang ini. Hanya saja Art baru pindah rumah dan menemukan
kembali barang-barang dari mantan nya. Malas dengan masa lalu, akhirnya Art
menemukan pamphlet di mading sekolah tentang toko masa lalu milik Silver.
“Yakin nih mau di sumbangin kesini?
Gue itung dulu ya?”
“Ambil aja Sil, nggak usah dibayar.”
“Serius nih, kalau mau di ambil lagi
lu harus bayar loh.” Jelas Silver sambil tersenyum. Art hanya mengangguk dan
ikut tersenyum memandang cukup lama wajah Silver. Sambil menunggu Silver yang
sedang membereskan barang sumbangan nya, Art melihat barang-barang yang di jual
di toko masa lalu. Ada baju, gelang, cincin, boneka, bahkan surat yang Silver sulap menjadi layak untuk dijual.
Silver memang berbakat untuk urusan kreatifitas.Bersambung
#Cerbung
Komentar
Posting Komentar