Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2016

Tampilan baru mu

Tunggu sebentar, hari ini aku melihat sesuatu yang berbeda. Apa kamu masih ingat pria yang sering aku sebutkan disini. Pria berambut panjang, gondrong atau apa yang biasa aku sebutkan. Pria yang masih dan selalu menjadi mimpi. Pria yang memiliki aroma kopi. Pria penulis puisi. Pria yang aku cintai.  Ya tentu saja, pria itu kamu dan masih kamu. Sejak kapan rambut itu menjadi pendek?  Pagi tadi, pagi-pagi sekali display picture mu berganti dengan foto terbaru mu. Berada di pantai dengan baju merah dan rambut yang tidak seperti biasanya. Sepertinya sudah lama sekali kita tidak berinteraksi. Aku yang sedang sibuk mencari pekerjaan jarang sekali belakangan ini menyentuh handphone. Rasanya jika sudah lelah begini aku ingin sekali kamu lamar hehehe. Padahal aku mencari di dekat mu tapi kita masih juga belum bertemu. Aku pikir ini bukan pertanda buruk kan?  Aku rasa ini masih dalam rencana Allah untuk kita menjaga diri masing-masing. Meski jarak antara kita sudah dekat ta...

Bukan hujan yang seperti ini

Kamu tahu, mungkin sudah sangat tahu bahwa aku wanita yang jatuh cinta pada hujan dan kamu. Wanita yang mengaku sangat nyaman bersama hujan. Tapi, bukan hujan yang seperti ini. Belakangan ini aku tidak tahu mengapa langit sering sekali marah dan menangis.  Tangisan nya terlalu deras. Berlebihan. Dan kamu selalu tahu apa-apa yang berlebihan tidak akan pernah berakhir baik. Di sela tangisannya, langit juga sering kali marah. Mengirimkan suara yang memekakan telinga. Mengirim kilat yang menakutkan. Meniupkan angin yang kencang.  Jika sudah seperti itu, aku hanya akan memandang hujan dengan rasa takut. Aku bohong sekali jika tetap menyukai nya. Aku akan lebih memilih berlindung di dalam kamar di bawah selimut hangat.  Apa mungkin langit butuh seorang teman? Sepertinya begitu. Saat siang matahari jarang sekali menemani. Saat malam bulan dan bintang juga lebih sering bersembunyi.  Kira-kira, apa kamu tahu sampai kapan langit akan seperti ini. Aku rindu hujan y...

Dua Puluh Enam

Kalau saja waktu di dunia ini bisa kita atur sendiri.  Kalau saja siang dan malam bisa kita tetapkan semau kita.  Kalau saja dua puluh empat jam bisa kita tambah dan kurang. Kalau saja... Aku membutuhkan kekuatan 'kalau saja' di waktu-waktu seperti ini. Saat kamu memutuskan untuk tidak tinggal. Saat kamu sibuk mencari tiket kepergian. Bus, pesawat, kereta, kapal laut, kamu bisa gunakan semua itu untuk pergi. Saat kamu merasa baik-baik saja meninggalkan semuanya, seolah kamu sudah mengatur segalanya untuk berjalan semestinya saat kamu tidak ada. Saat kamu tidak peduli lagi pada yang tidak ingin kamu pergi.  Kamu ingin sekali waktu berlari, mempercepat kepergianmu. Aku diam tapi berdoa supaya Tuhan memperlambat waktu. Satu jam saja. Jangan dua puluh empat, aku butuh dua puluh lima hari ini. Di hari kepergianmu.  Aku sedang mengumpulkan keberanian untuk menyatakan perasaan.  Aku butuh satu jam lagi untuk mengatakan ini padamu. Bukan waktu yang baik, aku ...