Tunggu sebentar, hari ini aku melihat sesuatu yang berbeda. Apa kamu masih ingat pria yang sering aku sebutkan disini. Pria berambut panjang, gondrong atau apa yang biasa aku sebutkan. Pria yang masih dan selalu menjadi mimpi. Pria yang memiliki aroma kopi. Pria penulis puisi. Pria yang aku cintai.
Ya tentu saja, pria itu kamu dan masih kamu.
Sejak kapan rambut itu menjadi pendek?
Pagi tadi, pagi-pagi sekali display picture mu berganti dengan foto terbaru mu. Berada di pantai dengan baju merah dan rambut yang tidak seperti biasanya. Sepertinya sudah lama sekali kita tidak berinteraksi. Aku yang sedang sibuk mencari pekerjaan jarang sekali belakangan ini menyentuh handphone. Rasanya jika sudah lelah begini aku ingin sekali kamu lamar hehehe. Padahal aku mencari di dekat mu tapi kita masih juga belum bertemu. Aku pikir ini bukan pertanda buruk kan?
Aku rasa ini masih dalam rencana Allah untuk kita menjaga diri masing-masing. Meski jarak antara kita sudah dekat tapi jika belum waktu nya kata Allah kita hanya akan dekat dalam rindu dan doa-doa saja.
Jadi sepertinya bukan kamu yang menghilang atau aku yang memang tidak nyata, kan?
Lalu pagi tadi aku memberanikan diri bertanya apa rambut itu benar-benar sudah sependek itu. Kamu mengiyakan dan aku bertanya lagi bagaimana perasaanmu, sedih atau tidak.
Jawaban yang sudah pasti akan kamu katakan. Kamu sedih banget.
Aku ingin sekali melanjutkan percakapan itu tapi aku tahu tidak sekarang. Akan menjadi tidak baik jika dipaksa di teruskan. Sudah cukup untuk ku tahu bahwa kamu merelakan rambut panjang kesayanganmu. Aku tidak ingin menanyakan alasannya karena itu pasti untuk suatu hal yang baik.
Kamu mau tahu satu rahasia. Kamu masih tetap tampan dengan rambut seperti itu. Masih jadi pria kesayanganku. Pria yang selalu aku minta pada Allah untuk selalu bahagia.
Ya tentu saja, pria itu kamu dan masih kamu.
Sejak kapan rambut itu menjadi pendek?
Pagi tadi, pagi-pagi sekali display picture mu berganti dengan foto terbaru mu. Berada di pantai dengan baju merah dan rambut yang tidak seperti biasanya. Sepertinya sudah lama sekali kita tidak berinteraksi. Aku yang sedang sibuk mencari pekerjaan jarang sekali belakangan ini menyentuh handphone. Rasanya jika sudah lelah begini aku ingin sekali kamu lamar hehehe. Padahal aku mencari di dekat mu tapi kita masih juga belum bertemu. Aku pikir ini bukan pertanda buruk kan?
Aku rasa ini masih dalam rencana Allah untuk kita menjaga diri masing-masing. Meski jarak antara kita sudah dekat tapi jika belum waktu nya kata Allah kita hanya akan dekat dalam rindu dan doa-doa saja.
Jadi sepertinya bukan kamu yang menghilang atau aku yang memang tidak nyata, kan?
Lalu pagi tadi aku memberanikan diri bertanya apa rambut itu benar-benar sudah sependek itu. Kamu mengiyakan dan aku bertanya lagi bagaimana perasaanmu, sedih atau tidak.
Jawaban yang sudah pasti akan kamu katakan. Kamu sedih banget.
Aku ingin sekali melanjutkan percakapan itu tapi aku tahu tidak sekarang. Akan menjadi tidak baik jika dipaksa di teruskan. Sudah cukup untuk ku tahu bahwa kamu merelakan rambut panjang kesayanganmu. Aku tidak ingin menanyakan alasannya karena itu pasti untuk suatu hal yang baik.
Kamu mau tahu satu rahasia. Kamu masih tetap tampan dengan rambut seperti itu. Masih jadi pria kesayanganku. Pria yang selalu aku minta pada Allah untuk selalu bahagia.
Komentar
Posting Komentar