Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2015

Lampu Kota

Entahlah, tak pernah aku merasa pada rindu selain kamu. Dijatuhcintakan kepada yang bukan kamu itu ternyata begitu sulit. Dan lampu kota selalu menjadi saksi kita, dimana aku dan Mario begitu gemar menghitung waktu lampu kota redup untuk kemudian bersinar kembali. Hal bodoh, tapi ya, itu yang membuatku begitu mencintainya. "Belum bosan?" "Belum. Satu kali lagi dan kita pulang. Oke." "Apapun untukmu." Diatas segala bahagia, senyum Mario yang paling membuatku takut. Takut bahagia itu berubah menjadi begitu sakit. Karena dia begitu tenang, hingga aku tak pernah tahu apa yang ada dipikirannya. Mencintaiku atau tidak. "Masihkah belum mau kusentuh?" "Belum waktunya sayang." "Lalu kapan?" Aku memandangnya dengan lembut dengan tatapan mata memberi isyarat sabar. Jika waktunya datang sentuhlah segala yang kau ingin, cinta dengan segala isinya. "Ayo pulang." Aku kembali berjalan di depannya, dia berjalan di ...

Kotak Pandora

Kamar ini begitu menyesakkan, begitu banyak kenangan. Debu dan sarang laba-laba mendominasi. Lalu ingatan dipaksa kembali berputar pada hari dimana harusnya kita bahagia. Pandanganku hanya tertuju pada satu kotak besar yang ku keramatkan untukmu. Helaan nafas terdengar begitu jelas. "Sudah sepuluh tahun ya ternyata." Kedua tangan sibuk membuka kembali kotak pandora yang berisi jutaan puisi dan foto kita berdua. "Sudahkah kamu melupakannya?" kita, yang selalu aku nyatakan pada senja yang akan selalu ku katakan pada hujan yang tak pernah putus kurapal dalam malam hanya ingin "kita" menjadi semestinya cinta. Senyum kecut kembali mengembang. Suara angin begitu terdengar mengerikan di luar, jendela terbuka dan segala isi di kotak pandora itu terhambur. Satu lembar kertas biru tertangkap di tanganku. Kamu yang menuliskan puisi itu dan aku mencurinya. Kusimpan rapi di kotak pandora. karena kita hanya  salah dua dari semesta  hanya benda langit be...