Entahlah, tak pernah aku merasa pada rindu selain kamu. Dijatuhcintakan kepada yang bukan kamu itu ternyata begitu sulit. Dan lampu kota selalu menjadi saksi kita, dimana aku dan Mario begitu gemar menghitung waktu lampu kota redup untuk kemudian bersinar kembali. Hal bodoh, tapi ya, itu yang membuatku begitu mencintainya.
"Belum bosan?"
"Belum. Satu kali lagi dan kita pulang. Oke."
"Apapun untukmu."
Diatas segala bahagia, senyum Mario yang paling membuatku takut. Takut bahagia itu berubah menjadi begitu sakit. Karena dia begitu tenang, hingga aku tak pernah tahu apa yang ada dipikirannya. Mencintaiku atau tidak.
"Masihkah belum mau kusentuh?"
"Belum waktunya sayang."
"Lalu kapan?"
Aku memandangnya dengan lembut dengan tatapan mata memberi isyarat sabar. Jika waktunya datang sentuhlah segala yang kau ingin, cinta dengan segala isinya.
"Ayo pulang."
Aku kembali berjalan di depannya, dia berjalan di belakangku, tertinggal beberapa langkah. Dan aku tak pernah takut dia berjalan mundur. Karena dia berjanji menjadi imamku yang hakiki. Kusempatkan menoleh dan memberinya senyuman, katanya senyumku surga. Aku memberikan tanganku untuk digandengnya, karena itu yang begitu dia inginkan sejak lama, berjalan beriringan dibawah lampu kota sambil menggenggam erat kedua tanganku.
Namun dia justru tersenyum dan berjalan melewatiku, juga mengabaikan tanganku.
"Belum waktunya sayang." katanya dengan suara samar-samar.
Aku mencintainya hingga waktu berkata berhenti dan berkata menyerahlah padanya. Serahkan semuanya.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
"Belum bosan?"
"Belum. Satu kali lagi dan kita pulang. Oke."
"Apapun untukmu."
Diatas segala bahagia, senyum Mario yang paling membuatku takut. Takut bahagia itu berubah menjadi begitu sakit. Karena dia begitu tenang, hingga aku tak pernah tahu apa yang ada dipikirannya. Mencintaiku atau tidak.
"Masihkah belum mau kusentuh?"
"Belum waktunya sayang."
"Lalu kapan?"
Aku memandangnya dengan lembut dengan tatapan mata memberi isyarat sabar. Jika waktunya datang sentuhlah segala yang kau ingin, cinta dengan segala isinya.
"Ayo pulang."
Aku kembali berjalan di depannya, dia berjalan di belakangku, tertinggal beberapa langkah. Dan aku tak pernah takut dia berjalan mundur. Karena dia berjanji menjadi imamku yang hakiki. Kusempatkan menoleh dan memberinya senyuman, katanya senyumku surga. Aku memberikan tanganku untuk digandengnya, karena itu yang begitu dia inginkan sejak lama, berjalan beriringan dibawah lampu kota sambil menggenggam erat kedua tanganku.
Namun dia justru tersenyum dan berjalan melewatiku, juga mengabaikan tanganku.
"Belum waktunya sayang." katanya dengan suara samar-samar.
Aku mencintainya hingga waktu berkata berhenti dan berkata menyerahlah padanya. Serahkan semuanya.
Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
Komentar
Posting Komentar