Pria Beraroma Kopi Langkah kaki saya terhenti saat hujan dengan bahagianya menjatuhkan diri. Saya menatap langit dan menadahkan kedua tangan membiarkan jemari di sapa lembut rintik hujan. Untuk pertama kalinya saya membenci hal ini. Seperti diburu waktu dan saya dipaksa untuk menunggu. Mungkin hari ini hujan sedang butuh perhatian. Saya berbalik arah dan berjalan menuju perpustakaan. Tempat yang gelap dan berdebu ditambah lagi wanita penjaga perpustakaan yang tidak ramah membuat tempat ini jarang sekali dikunjungi. Tapi, perpustakaan ini memiliki aroma yang menenangkan. Sebagian besar manusia datang kesini jika ada perlunya saja. Mengerjakan tugas, menyendiri atau menunggu waktu. Namun, ada yang membedakan perpusatakaan ini dengan yang lainnya. Akan selalu ada pria disudut jendela dengan setumpuk buku yang tidak saya mengerti. Dia, pria beraroma kopi. “Kopi?” Tawarnya saat saya duduk berjarak lima kursi darinya. “Sejak kapan di tempat ini boleh makan dan minum?” Pertany...
Masih jatuh pada hujan dan cinta padamu