Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Tampilan baru mu

Tunggu sebentar, hari ini aku melihat sesuatu yang berbeda. Apa kamu masih ingat pria yang sering aku sebutkan disini. Pria berambut panjang, gondrong atau apa yang biasa aku sebutkan. Pria yang masih dan selalu menjadi mimpi. Pria yang memiliki aroma kopi. Pria penulis puisi. Pria yang aku cintai.  Ya tentu saja, pria itu kamu dan masih kamu. Sejak kapan rambut itu menjadi pendek?  Pagi tadi, pagi-pagi sekali display picture mu berganti dengan foto terbaru mu. Berada di pantai dengan baju merah dan rambut yang tidak seperti biasanya. Sepertinya sudah lama sekali kita tidak berinteraksi. Aku yang sedang sibuk mencari pekerjaan jarang sekali belakangan ini menyentuh handphone. Rasanya jika sudah lelah begini aku ingin sekali kamu lamar hehehe. Padahal aku mencari di dekat mu tapi kita masih juga belum bertemu. Aku pikir ini bukan pertanda buruk kan?  Aku rasa ini masih dalam rencana Allah untuk kita menjaga diri masing-masing. Meski jarak antara kita sudah dekat ta...

Bukan hujan yang seperti ini

Kamu tahu, mungkin sudah sangat tahu bahwa aku wanita yang jatuh cinta pada hujan dan kamu. Wanita yang mengaku sangat nyaman bersama hujan. Tapi, bukan hujan yang seperti ini. Belakangan ini aku tidak tahu mengapa langit sering sekali marah dan menangis.  Tangisan nya terlalu deras. Berlebihan. Dan kamu selalu tahu apa-apa yang berlebihan tidak akan pernah berakhir baik. Di sela tangisannya, langit juga sering kali marah. Mengirimkan suara yang memekakan telinga. Mengirim kilat yang menakutkan. Meniupkan angin yang kencang.  Jika sudah seperti itu, aku hanya akan memandang hujan dengan rasa takut. Aku bohong sekali jika tetap menyukai nya. Aku akan lebih memilih berlindung di dalam kamar di bawah selimut hangat.  Apa mungkin langit butuh seorang teman? Sepertinya begitu. Saat siang matahari jarang sekali menemani. Saat malam bulan dan bintang juga lebih sering bersembunyi.  Kira-kira, apa kamu tahu sampai kapan langit akan seperti ini. Aku rindu hujan y...

Dua Puluh Enam

Kalau saja waktu di dunia ini bisa kita atur sendiri.  Kalau saja siang dan malam bisa kita tetapkan semau kita.  Kalau saja dua puluh empat jam bisa kita tambah dan kurang. Kalau saja... Aku membutuhkan kekuatan 'kalau saja' di waktu-waktu seperti ini. Saat kamu memutuskan untuk tidak tinggal. Saat kamu sibuk mencari tiket kepergian. Bus, pesawat, kereta, kapal laut, kamu bisa gunakan semua itu untuk pergi. Saat kamu merasa baik-baik saja meninggalkan semuanya, seolah kamu sudah mengatur segalanya untuk berjalan semestinya saat kamu tidak ada. Saat kamu tidak peduli lagi pada yang tidak ingin kamu pergi.  Kamu ingin sekali waktu berlari, mempercepat kepergianmu. Aku diam tapi berdoa supaya Tuhan memperlambat waktu. Satu jam saja. Jangan dua puluh empat, aku butuh dua puluh lima hari ini. Di hari kepergianmu.  Aku sedang mengumpulkan keberanian untuk menyatakan perasaan.  Aku butuh satu jam lagi untuk mengatakan ini padamu. Bukan waktu yang baik, aku ...

Aku (masih) sakit

Assalamualaikum Hari ini aku masih sakit. Bisa dibilang tambah parah. Aku tidak bisa bangun dari tempat tidur. Seharian aku membaca novel Bulan milik Tere Liye, kamu sudah pernah membaca nya?  Pipi ku makin membengkak, aku tidak bisa makan dan minum. Kamu tidak mengkhawatirkan aku? Apa di benak mu ada sesuatu yang mengganjal? Coba beri waktu hati mu untuk bekerja. Merasakan aku sebentar saja.  Semoga, kamu mendoakan aku diam-diam.

Aku Sakit

Assalamualaikum  Hari ini aku sakit. Apa kamu merasakan sesuatu, seperti tiba-tiba dingin dan rindu padaku?  Tidak? Tidak apa-apa, itu bukan soal bagiku.  Pagi tadi tiba-tiba suaraku hilang saat bangun tidur. Rahang sebelah kanan ku sakit sekali aku kesusahan membuka mulut. Saat aku mematut diri pipi ku membengkak. Kamu bisa bayangkan betapa gendut nya aku? Aku berbaring seharian. Tidak bisa makan, minum saja sakit sekali. Bicara juga sakit. Aku hanya memainkan ponsel dari pagi hingga petang. Aku tidak bisa bercerita banyak hari ini. Aku sakit.  Tapi, juga rindu. Kamu. 

Bercerita

Assalamualaikum Apa kamu keberatan jika aku tiba-tiba ingin bercerita?  Tidak, bukan hal rumit, bukan hal yang mengharuskan kamu memberi jalan keluar. Kamu hanya perlu memandangku dan mendengarkan. Sesekali jika aku terlihat mulai terlalu bersemangat, kamu bisa tersenyum untuk meredakan aku. Atau genggam erat tangan dan hatiku. Aku hanya ingin menceritakan hal-hal kecil yang kulihat dan kualami. Setiap hari. Padamu.  Memang tidak penting, aku hanya ingin berbagi hal sederhana yang tidak membuat kamu pusing.  Jadi, tatap aku dan dengarkan hingga kamu jatuh cinta.  Beberapa hari lalu aku menyemai biji bunga matahari, hari ini sudah mulai tumbuh dan banyak. Aku sangat suka bunga matahari.  Makanan burung milik ayahku habis,  kami semua empat orang wanita tidak tahu dimana membelinya. Ayah susah sekali di telfon, ru. Papua sedang lemah signal.  Kamu tahu adik ku yang paling bungsu, aku sedang gemar berkelahi dengan nya. Akhir-akhir ini dia meny...

Tiket

Assalamualaikum Kamu baik-baik saja?  Aku ingin memberi kamu satu tiket. Tiket yang bisa kamu gunakan untuk meminta ku kapan saja. Untuk berbagi kesedihan dan bahagia. Untuk kamu sakiti dan sayangi. Untuk kamu jadikan satu-satu nya atau selingan semata.  Lalu aku akan selalu sedia, kapan dan bagaimanapun keadaan mu. Usaha semampuku untuk selalu bisa disisi mu, membahagiakan dan dibahagiakan kamu.  Sayang nya, hingga kalimat ini aku tuliskan kamu belum juga menggunakan tiket itu. Kamu belum tahu atau tidak mau tahu tentang tiket itu?  Aku ingin sekali kamu bisa bercerita apa saja. Denganku. Dari hal yang paling kecil sampai kecil. Aku tidak pernah bermimpi membicarakan hal serius denganmu. Aku hanya sesederhana ini mencintai kamu.  Maka, sejak hari ini kamu tidak perlu khawatir. Aku selalu sedia disini jika kamu butuhkan ataupun tidak. Jika kamu ingin bercerita tentang segala hal yang selalu kamu sihir jadi puisi, tugas kuliah, ukulele kesayangan, aku a...

RAHASIA

Assalamualaikum , sudah lama tidak menulis untukmu, tentangmu. Aku ingin sekali menceritakan hari-hari yang sedang tidak mudah, tapi aku tidak mau kamu anggap lemah.  Apa kamu pernah menolak cinta seseorang? Lalu semua orang menghakimi kamu seolah kamu telah membunuh sesuatu. Kamu di anggap bodoh menyia-nyiakan cinta sebaik itu, katanya. Bahkan teman baik sekalipun tidak lagi mengerti mengapa kamu tega melukai hati yang mencintaimu. Satu minggu yang lalu, aku melakukan itu. Aku menolak seorang pria yang baik. Di kenalkan temanku. Kami berteman dan aku tidak mencintai nya. Tapi, pria itu salah paham, dia pikir aku mencintainya dan dia dengan begitu percaya diri menyatakan perasaan nya. Dan, aku yang katanya wanita paling bodoh menolaknya.  Kujelaskan pada mereka bahwa aku sedang menunggu. Tidak tahu untuk apa. Ingin sekali mengucap namamu tapi rasanya kamu terlalu berat hari itu untuk ku jadikan alasan. Semua orang kesal. Memaki. Mencibir. Menyalahkan kamu. Mereka semua ...

Pria Beraroma Kopi

Pria Beraroma Kopi Langkah kaki saya terhenti saat hujan dengan bahagianya menjatuhkan diri. Saya menatap langit dan menadahkan kedua tangan membiarkan jemari di sapa lembut rintik hujan. Untuk pertama kalinya saya membenci hal ini. Seperti diburu waktu dan saya dipaksa untuk menunggu. Mungkin hari ini hujan sedang butuh perhatian. Saya berbalik arah dan berjalan menuju perpustakaan. Tempat yang gelap dan berdebu ditambah lagi wanita penjaga perpustakaan yang tidak ramah membuat tempat ini jarang sekali dikunjungi. Tapi, perpustakaan ini memiliki aroma yang menenangkan. Sebagian besar manusia datang kesini jika ada perlunya saja. Mengerjakan tugas, menyendiri atau menunggu waktu. Namun, ada yang membedakan perpusatakaan ini dengan yang lainnya. Akan selalu ada pria disudut jendela dengan setumpuk buku yang tidak saya mengerti. Dia, pria beraroma kopi. “Kopi?” Tawarnya saat saya duduk berjarak lima kursi darinya. “Sejak kapan di tempat ini boleh makan dan minum?” Pertany...