Langsung ke konten utama

Dua Puluh Enam

Kalau saja waktu di dunia ini bisa kita atur sendiri. 
Kalau saja siang dan malam bisa kita tetapkan semau kita. 
Kalau saja dua puluh empat jam bisa kita tambah dan kurang.
Kalau saja...

Aku membutuhkan kekuatan 'kalau saja' di waktu-waktu seperti ini. Saat kamu memutuskan untuk tidak tinggal. Saat kamu sibuk mencari tiket kepergian. Bus, pesawat, kereta, kapal laut, kamu bisa gunakan semua itu untuk pergi. Saat kamu merasa baik-baik saja meninggalkan semuanya, seolah kamu sudah mengatur segalanya untuk berjalan semestinya saat kamu tidak ada. Saat kamu tidak peduli lagi pada yang tidak ingin kamu pergi. 

Kamu ingin sekali waktu berlari, mempercepat kepergianmu. Aku diam tapi berdoa supaya Tuhan memperlambat waktu. Satu jam saja. Jangan dua puluh empat, aku butuh dua puluh lima hari ini. Di hari kepergianmu. 

Aku sedang mengumpulkan keberanian untuk menyatakan perasaan. 

Aku butuh satu jam lagi untuk mengatakan ini padamu. Bukan waktu yang baik, aku hanya ingin mengulur kepergian. Tidak, sepertinya aku butuh dua puluh enam. 
Kamu mulai geram. Kamu bilang sudah harus pergi sekarang. Lalu, aku bisa apa? 
Katakan semuanya, katamu.
Mungkin aku hanya akan menghela napas panjang dan tidak berani menatapmu seperti biasa. Bandara ini akan membawa kamu terbang. Jauh, sejauh yang kamu mau. Dan saat itu terjadi aku lagi-lagi tidak berani mengatakan apapun padamu selain 'hati-hati'. Seumur hidup aku menyimpan perasaan padamu dan disaat kepergianmu hanya itu yang keluar dari bibirku. 

Karena bagaimanapun dan sekuat apapun tidak ada manusia yang sanggup ditinggalkan. Semua yang ditinggalkan akan mengalami siklus hidup yang berbeda. Mengalami waktu yang lebih panjang meski selalu berdoa agar waktu cepat berjalan. Mengalami penantian yang menyesakkan. Dan mengalami kerinduan. 

Kalau saja Tuhan memberi dua puluh enam saat itu, mungkin aku akan berani mengatakan semuanya. Dan kembali atau tidak itu bukan pilihan. Karena kamu memang harus kembali, aku sudah meminta Tuhan untuk mengembalikanmu secepat kilat padaku. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sembunyikan Saya

Kepada mu yang masih menyembunyikan saya dari seluruh dunia. Kita pernah sama-sama saling bersilang jalan. Pernah saling bersisian. Pernah saling pergi. Tapi, apa yang semestinya jadi satu pasti akan kembali.  Kita pernah pula saling melewatkan. Pernah juga dengan berat hati melepas genggaman. Tapi, apa yang semestinya jadi milik kita akan datang tanpa pernah memberi tahu. Kini, saya senang berada disini. Di tempat yang ingin saya tetapkan menjadi rumah. Tempat saya pulang dari segala lelah. Tempat yang tidak seorang pun tahu, karena kamu dengan begitu tenang menempatkan saya dengan begitu rahasia di situ. Di hatimu.  Maka dengan surat ini, kamu harus bertanggung jawab karena sudah membuat saya betah. Kamu harus menjaga saya agar tetap berada di sisimu. Meyakinkan saya untuk tidak membuka pintu. Membuat saya jatuh hati setiap hari padamu. Sebagai hadiah, kamu dapat menikmati senyum saya yang manis semau mu😄 #30HariMenulisSuratCinta

Thank You Mozaik

Hai, Mozaik Al Isamer, putra sulung Bapak Insan Asyik.  Sekitar tiga hari yang lalu aku berkunjung ke typoganteng.com dan membaca tulisan yang berjudul "Ayah, Kau Terbaik!". Dan karena ulahmu menuliskan itu berhasil membuatku menangis dan merindukan ayahku.  Yang paling bisa buat mata berkaca-kaca di bagian yang ini, "Gue anak nggak berguna, kalau dia nggak bisa nikmatin masa tua nya." Aku rasa apapun yang berhubungan dengan orang tua akan selalu bersinggungan dengan air mata.  Sebelumnya, aku akan memperkenalkan diri dengan sejelas-jelasnya karena ini bukan surat kaleng. Namaku Vici Kurnia Ayuningtyas, putri sulung Bapak Muazin. Kelahiran Lampung, 22 Mei 1995. Seperti yang kamu tuliskan sebelumnya bahwa setiap Ayah akan selalu punya "keren" nya masing-masing. Tapi, pandangan anak perempuan dan laki-laki tentang Ayah akan sangat berbeda menurutku. Seperti nama Ayahku; Muazin, yang katanya arti nama itu adalah pria yang mengumandangkan adzan. Ta...

Menyukai Seseorang

Bukankah menyukai seseorang adalah hal yang mudah? Hanya cukup dengan menyukai nya, tanpa perlu tahu siapa mantan kekasihnya, pekerjaannya, apa yang sedang ada dalam pikiran nya. Hidup akan baik-baik saja sepertinya. Hari-hari hanya akan ada perasaan baik, mendoakan, mengharapkan. Dalam menyukai kita selalu diperbolehkan berharap, tidak ada yang bisa membatasi rasa dan harapan itu karena semuanya milikmu. Rasa ingin tahu tentang nya adalah yang paling menguasi pikiran mu. Tentang hobi nya,  makanan dan film favorit nya, tipe pasangan yang menjadi impian nya. Padahal rasa ingin tahu itu bisa melukai. Tapi, tiap kali kamu menyukai seseorang seolah kamu merasa jadi manusia yang paling bisa menahan rasa sakit. Kamu merasa baik-baik saja saat orang yang kamu sukai muncul di timeline mu.  Hadir sesekali lewat instastory. Hanya dengan itu kamu merasa jadi yang paling tahu tentang diri nya. Kamu merasa hari mu dipenuhi tawa dengan melihat foto nya yang sedang tersenyum,...