Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2015

Perihal pilu puan yang menunggu

Tuan, bisa palingkan sejenak tatapmu kebelakang, lihatlah walau hanya dengan hati yang setengah pada puan yang duduk dengan kepala menunduk dibawah redup lampu yang pernah temaram. Dibawah redup lampu taman yang pernah kau janjikan temu, kau janjikan waktumu, kau janjikan memeluk rindu dan melepas sendu.  Tuan, ingatkah hari dimana kau pernah meyakinkan seorang puan bahwa kau akan kembali, menemuinya yang sabar menanti.  Tak peduli semenyakitkan apa jika kau tak datang, tapi dia, puan dengan mata senja tetap setia memenjarakan waktunya, untukmu, Tuan dengan hati batu. Perhatikan sejenak wajahnya, tak terlihat kah lingkar hitam dimatanya, sembab di mata senjanya, hilangnya senyuman yang dulu pernah kau akui sebagai surga.  Itu karena kamu. Lihatlah lebih dekat, lusuh pakaiannya karena enggan kehilangan waktu, takut kau datang sedang dia tidak disitu. Lihat cat bangku taman yang memudar, dia akan bersaksi seberapa beruntungnya kau di tunggu dengan sepenuh...

Pencipta Lagu Sendu

*Terinspirasi dari lirik lagu dan musik video “Tanah Yang Sama” by Nanda Muhammad F.  Dibalik lirik dan musik video yang katamu ditujukan untuk seorang teman, atau entah untuk siapa itu. Aku begitu menikmatinya, lirik tiap baitnya. Meski makna yang ku tangkap mungkin jauh dari apa yang coba kau ungkap. Tapi lagu itu begitu menginspirasi untukku. Aku membacanya dan memaknai artinya seperti ini, Padamu pencipta lagu yang sendu, seluka itukah hingga gurat senja yang damai mampu membuatmu merasa kesepian, di tengah riuhnya para pemuja yang mulai berani menyatakan. Pada hari bahagia yang dulu pernah ada kau dan dia, yang pernah berdiri di atas tanah yang sama, bahkan jutaan mimpi yang setengah mati coba diwujudkan bersama, justru terselip luka. Itulah waktu saat kau dipaksa mengingat hari dimana harusnya kau bahagia, yang kini tinggal ukiran sejuta rupa, katamu. Perihal kau yang selalu ingin didekatnya. Namun kini, gelap dan pekat pun mencoba bersahabat. Menyamarkan jut...

Kita telah mati

Selamat pagi? Siang? Atau malam? Bosan kah dengan jutaan sapaan? Pagi menjelang kamu pun tak kunjung datang, asa yang terbawa dari angan makin memeluk erat kita dalam bayang menyakitkan. Siang menyapa tak juga kamu bersua, bertahan di depan jendela menganga, menatap terik tanpa suara. Getir-getir khawatir menghampiri hingga di detik yang telah diprediksi kamu harus menyadari bahwa kita sudah menapaki jalan yang berbeda. Malam kembali datang, sedang rindu dalam perjalanan. Kamu mempersipkan diri untuk kembali dipaksa mengingat tentang pria bertubuh tinggi yang diakui sebagai pujaan hati. Kita telah mati.  Mati bersama hubungan yang lebih dulu pergi. Katanya manusia bisa mati suri? Dan hubungan bisa terjalin kembali, antara aku dan, apa kamu mau hidup kembali? Aku menunggu kamu hidup. Karena aku mau menunggu. Bukan untuk hubungan yang lalu, bukan pula untuk hubungan di mimpiku. Hanya untuk kamu. Dan semoga diatas segala luka, kita bisa saling bersua, bert...