Tuan,
bisa palingkan sejenak tatapmu kebelakang, lihatlah walau hanya dengan hati
yang setengah pada puan yang duduk dengan kepala menunduk dibawah redup lampu
yang pernah temaram. Dibawah redup lampu taman yang pernah kau janjikan temu,
kau janjikan waktumu, kau janjikan memeluk rindu dan melepas sendu.
Tuan,
ingatkah hari dimana kau pernah meyakinkan seorang puan bahwa kau akan kembali,
menemuinya yang sabar menanti.
Tak
peduli semenyakitkan apa jika kau tak datang, tapi dia, puan dengan mata senja
tetap setia memenjarakan waktunya, untukmu, Tuan dengan hati batu.
Perhatikan
sejenak wajahnya, tak terlihat kah lingkar hitam dimatanya, sembab di mata
senjanya, hilangnya senyuman yang dulu pernah kau akui sebagai surga.
Itu
karena kamu.
Lihatlah
lebih dekat, lusuh pakaiannya karena enggan kehilangan waktu, takut kau datang
sedang dia tidak disitu. Lihat cat bangku taman yang memudar, dia akan bersaksi
seberapa beruntungnya kau di tunggu dengan sepenuh hati.
Sekarang
langkahkan kakimu mendekat, perhatikan puan yang duduk dibawah redup lampu
taman sedang menyadari takdirnya, sedang menangisi nyata tentang pujaannya.
Tentang kamu yang tak menepati janji. Tentang kecewa yang tak kunjung henti.
Tentang dinginnya angin yang selalu memaksa nya pergi. Tentang banyaknya pesan
yang tak pernah sampai. Tentang pisau ditangan yang semakin dekat dengan
kematian.
Secantik
apa puan lain yang membuatmu tega membiarkannya, membuatmu tega menyusun
kalimat dusta, membuatmu tega dia menitikkan air mata.
Karena
ini menit terakhir sebelum dia menyerah, berubah menjadi jutaan bintang di
angkasa yang indah nya tak akan pernah dapat kau rasakan lagi. Kau hanya perlu
menghitung mundur, 5..4..3..2..1..
Kini
buka matamu dan hatimu, lihat dia melebur ke angkasa diringi tangis yang tak
kunjung henti. Tangis kecewa untuk pria yang setengah mati pernah
diperjuangkannya. Tangis yang begitu sedih tentang kisah yang tak berakhir
manis.
Ini
akhir dari tuan yang tak pernah menghargai waktu yang dihabiskan seorang puan
untuk menunggu. Rasakan sendiri sedihmu, karena dia sudah tidak ada disitu.
Puan penunggu bangku taman itu sudah tersenyum melihatmu dari langit bertabur
bintang cahaya, tersenyum melihat kau terlambat mengartikan luka.
Kini
lampu taman yang redup itu sudah benar-benar padam. Meninggalkan seorang tuan
dengan penyesalan yang mendalam. Dan kini bangku taman itu memiliki penunggu
baru. Semilir angin membuatnya merinding karena ada suara wanita yang pernah
sangat dekat dengannya berkata,
Sesakit
ini kah mencintaimu, harus sepilu ini kah menunggumu.
Komentar
Posting Komentar