Langsung ke konten utama

Perihal pilu puan yang menunggu



Tuan, bisa palingkan sejenak tatapmu kebelakang, lihatlah walau hanya dengan hati yang setengah pada puan yang duduk dengan kepala menunduk dibawah redup lampu yang pernah temaram. Dibawah redup lampu taman yang pernah kau janjikan temu, kau janjikan waktumu, kau janjikan memeluk rindu dan melepas sendu. 
Tuan, ingatkah hari dimana kau pernah meyakinkan seorang puan bahwa kau akan kembali, menemuinya yang sabar menanti. 
Tak peduli semenyakitkan apa jika kau tak datang, tapi dia, puan dengan mata senja tetap setia memenjarakan waktunya, untukmu, Tuan dengan hati batu.
Perhatikan sejenak wajahnya, tak terlihat kah lingkar hitam dimatanya, sembab di mata senjanya, hilangnya senyuman yang dulu pernah kau akui sebagai surga. 
Itu karena kamu.
Lihatlah lebih dekat, lusuh pakaiannya karena enggan kehilangan waktu, takut kau datang sedang dia tidak disitu. Lihat cat bangku taman yang memudar, dia akan bersaksi seberapa beruntungnya kau di tunggu dengan sepenuh hati.
Sekarang langkahkan kakimu mendekat, perhatikan puan yang duduk dibawah redup lampu taman sedang menyadari takdirnya, sedang menangisi nyata tentang pujaannya. Tentang kamu yang tak menepati janji. Tentang kecewa yang tak kunjung henti. Tentang dinginnya angin yang selalu memaksa nya pergi. Tentang banyaknya pesan yang tak pernah sampai. Tentang pisau ditangan yang semakin dekat dengan kematian. 
Secantik apa puan lain yang membuatmu tega membiarkannya, membuatmu tega menyusun kalimat dusta, membuatmu tega dia menitikkan air mata.
Karena ini menit terakhir sebelum dia menyerah, berubah menjadi jutaan bintang di angkasa yang indah nya tak akan pernah dapat kau rasakan lagi. Kau hanya perlu menghitung mundur, 5..4..3..2..1..
Kini buka matamu dan hatimu, lihat dia melebur ke angkasa diringi tangis yang tak kunjung henti. Tangis kecewa untuk pria yang setengah mati pernah diperjuangkannya. Tangis yang begitu sedih tentang kisah yang tak berakhir manis.
Ini akhir dari tuan yang tak pernah menghargai waktu yang dihabiskan seorang puan untuk menunggu. Rasakan sendiri sedihmu, karena dia sudah tidak ada disitu. Puan penunggu bangku taman itu sudah tersenyum melihatmu dari langit bertabur bintang cahaya, tersenyum melihat kau terlambat mengartikan luka. 
Kini lampu taman yang redup itu sudah benar-benar padam. Meninggalkan seorang tuan dengan penyesalan yang mendalam. Dan kini bangku taman itu memiliki penunggu baru. Semilir angin membuatnya merinding karena ada suara wanita yang pernah sangat dekat dengannya berkata,
Sesakit ini kah mencintaimu, harus sepilu ini kah menunggumu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sembunyikan Saya

Kepada mu yang masih menyembunyikan saya dari seluruh dunia. Kita pernah sama-sama saling bersilang jalan. Pernah saling bersisian. Pernah saling pergi. Tapi, apa yang semestinya jadi satu pasti akan kembali.  Kita pernah pula saling melewatkan. Pernah juga dengan berat hati melepas genggaman. Tapi, apa yang semestinya jadi milik kita akan datang tanpa pernah memberi tahu. Kini, saya senang berada disini. Di tempat yang ingin saya tetapkan menjadi rumah. Tempat saya pulang dari segala lelah. Tempat yang tidak seorang pun tahu, karena kamu dengan begitu tenang menempatkan saya dengan begitu rahasia di situ. Di hatimu.  Maka dengan surat ini, kamu harus bertanggung jawab karena sudah membuat saya betah. Kamu harus menjaga saya agar tetap berada di sisimu. Meyakinkan saya untuk tidak membuka pintu. Membuat saya jatuh hati setiap hari padamu. Sebagai hadiah, kamu dapat menikmati senyum saya yang manis semau mu😄 #30HariMenulisSuratCinta

Thank You Mozaik

Hai, Mozaik Al Isamer, putra sulung Bapak Insan Asyik.  Sekitar tiga hari yang lalu aku berkunjung ke typoganteng.com dan membaca tulisan yang berjudul "Ayah, Kau Terbaik!". Dan karena ulahmu menuliskan itu berhasil membuatku menangis dan merindukan ayahku.  Yang paling bisa buat mata berkaca-kaca di bagian yang ini, "Gue anak nggak berguna, kalau dia nggak bisa nikmatin masa tua nya." Aku rasa apapun yang berhubungan dengan orang tua akan selalu bersinggungan dengan air mata.  Sebelumnya, aku akan memperkenalkan diri dengan sejelas-jelasnya karena ini bukan surat kaleng. Namaku Vici Kurnia Ayuningtyas, putri sulung Bapak Muazin. Kelahiran Lampung, 22 Mei 1995. Seperti yang kamu tuliskan sebelumnya bahwa setiap Ayah akan selalu punya "keren" nya masing-masing. Tapi, pandangan anak perempuan dan laki-laki tentang Ayah akan sangat berbeda menurutku. Seperti nama Ayahku; Muazin, yang katanya arti nama itu adalah pria yang mengumandangkan adzan. Ta...

Menyukai Seseorang

Bukankah menyukai seseorang adalah hal yang mudah? Hanya cukup dengan menyukai nya, tanpa perlu tahu siapa mantan kekasihnya, pekerjaannya, apa yang sedang ada dalam pikiran nya. Hidup akan baik-baik saja sepertinya. Hari-hari hanya akan ada perasaan baik, mendoakan, mengharapkan. Dalam menyukai kita selalu diperbolehkan berharap, tidak ada yang bisa membatasi rasa dan harapan itu karena semuanya milikmu. Rasa ingin tahu tentang nya adalah yang paling menguasi pikiran mu. Tentang hobi nya,  makanan dan film favorit nya, tipe pasangan yang menjadi impian nya. Padahal rasa ingin tahu itu bisa melukai. Tapi, tiap kali kamu menyukai seseorang seolah kamu merasa jadi manusia yang paling bisa menahan rasa sakit. Kamu merasa baik-baik saja saat orang yang kamu sukai muncul di timeline mu.  Hadir sesekali lewat instastory. Hanya dengan itu kamu merasa jadi yang paling tahu tentang diri nya. Kamu merasa hari mu dipenuhi tawa dengan melihat foto nya yang sedang tersenyum,...