Langsung ke konten utama

Pria Beraroma Kopi



Pria Beraroma Kopi

Langkah kaki saya terhenti saat hujan dengan bahagianya menjatuhkan diri. Saya menatap langit dan menadahkan kedua tangan membiarkan jemari di sapa lembut rintik hujan. Untuk pertama kalinya saya membenci hal ini. Seperti diburu waktu dan saya dipaksa untuk menunggu. Mungkin hari ini hujan sedang butuh perhatian. Saya berbalik arah dan berjalan menuju perpustakaan. Tempat yang gelap dan berdebu ditambah lagi wanita penjaga perpustakaan yang tidak ramah membuat tempat ini jarang sekali dikunjungi. Tapi, perpustakaan ini memiliki aroma yang menenangkan. Sebagian besar manusia datang kesini jika ada perlunya saja. Mengerjakan tugas, menyendiri atau menunggu waktu. Namun, ada yang membedakan perpusatakaan ini dengan yang lainnya. Akan selalu ada pria disudut jendela dengan setumpuk buku yang tidak saya mengerti. Dia, pria beraroma kopi.
“Kopi?” Tawarnya saat saya duduk berjarak lima kursi darinya.
“Sejak kapan di tempat ini boleh makan dan minum?” Pertanyaan saya yang membuatnya tersenyum, lalu wanita tua penjaga perpustakaan berdeham seolah memberi peringatan bahwa tidak boleh ada percakapan. Namun, kejadian itu akan selalu terjadi tiap kali saya datang kesini. Semacam adegan dan dialog wajib diantara kami. Pria itu akan selalu disini tiap kali hujan datang. Duduk dengan dua gelas kopi di hadapannya dan sesekali melihat ke arah jendela dan ke arah saya. Lalu dia akan tersenyum dan menatap lagi kopinya. Tiap kali didekatnya saya selalu mengirup nafas dalam-dalam. Mencoba menikmati ketenangan. Hujan berhenti dan pria itu berdiri, lagi-lagi menatap saya dan tersenyum. Pria itu pergi dan selalu berhenti sebentar di depan pintu. Diam-diam saya mengharapkan dia membalikkan badan dan kembali. Setelahnya kami pergi dan berlalu ke dunia masing-masing tanpa peduli dan berkeinginan untuk mencari.
Siang ini saya harus kembali lagi ke perpustakaan. Kali ini bukan untuk menunggu tapi untuk mencari. Saya sedikit berlari karena begitu terburu. Berbeda dengan kemarin, hari ini saya seperti dikejar waktu. Tinggal beberapa langkah kaki sampai di perpustakaan saya berhenti. Ada yang salah dan saya memperlambat langkah kaki. Saya menatap langit dan menadahkan kedua tangan. Hari ini tidak hujan, langit cerah tapi saya dapat merasakan kehadiran pria itu. Pria itu beraroma kopi. Saya hirup nafas dalam-dalam dan kembali menatap langit. Tiba-tiba saja pria itu sudah ada dihadapan saya dan tersenyum.
“Kamu heran kenapa langit cerah dan saya ada disini?” Tebaknya tepat sasaran.
“Iya. Kenapa kamu ada disini padahal langit cerah.” Jawab saya tanpa sadar dan masih memperhatikan langit. Lima detik kemudian saya sadar dari kebodohan yang baru saja saya lakukan. Saya berdeham mencairkan ruang. “Bukan itu, prakiraan cuaca hari ini hujan dan saya sedang menunggu waktu.” Ujar saya tanpa berani menatap pria itu. Dia tertawa dan menjulurkan tangan kanan nya.
“Artlagadar.”
Sejak hari itu, saya tahu satu nama mampu mengubah seluruh hidup wanita.
……
Saya terbangun dari tidur saat supir bus berhenti mendadak. Sepertinya terjadi kecelakaan dan ada pertengkaran. Hanya ada lima penumpang di dalam bus ini, seorang ibu yang duduk paling belakang membawa bayi laki-laki yang sejak tadi menangis. Ada pria paruh baya dan istrinya yang saling menggenggam tangan di kursi depan. Dan saya di bangku kedua yang menatap foto seseorang. Hujan kali ini mengiringi perjalanan saya ke Yogyakarta menuju apa yang seharusnya menjadi milik saya. Empat tahun berlalu, sudah tidak ada aroma kopi di hujan saya. Tidak ada aroma apa-apa kecuali kerinduan. Tidak ada aroma yang sama dengan pria itu, yang berhasil membuat saya jatuh terlalu jauh. Saya menghirup nafas dalam-dalam, hanya ada aroma wewangian di dalam bus. Hujan masih cukup deras dan perjalanan ini masih terlalu jauh. Saya memutuskan untuk kembali tidur, tapi bayi laki-laki di kursi paling belakang tidak berhenti menangis sejak tadi. Saya menghela nafas dan menghampirinya. Saya tersenyum sopan dan duduk disebelah ibu yang kebingungan.
“Mungkin bayi nya lapar, bu.” Saya tersenyum dan memberikan satu bungkus biskuit yang saya beli sebelum berangkat. Ibu itu tersenyum dan bayi nya berhenti menangis. Pria paruh baya menoleh ke belakang dan tersenyum pada saya.
“Kopi?”
Saya tersentak kaget mendengar tawaran itu. Saya menoleh dan ibu itu memberikan segelas kopi di gelas plastik, katanya ia membelinya di tempat peristirahatan sebelum pemberangkatan. Saya masih mematung.
“Ini kopi asli dari Ulubelu daerah Lampung katanya enak sekali. Saya beli dua gelas.” Jelas ibu itu seraya tersenyum menatap saya.
“Terima kasih banyak, bu. Ibu dari Lampung?” Tanya saya sambil menghirup aroma kopi dalam-dalam. Ibu itu hanya membalas dengan senyuman. Bayi laki-lakinya sudah tertidur dengan biskuit ditangan. Saya menatap kopi itu, uapnya membentuk wajah seseorang. Saya permisi dan kembali ke bangku nomer dua berusaha mengingat-ingat tentang kopi yang baru saja ibu tadi sebutkan. Namanya familiar sekali di ingatan saya.
Dua jam perjalanan terasa lengang. Sepi dan dingin. Saya menoleh ke belakang, ibu dan bayi laki-laki itu tertidur, pria paruh baya dan istrinya juga mungkin sedang tidur. Hanya saya dan supir bus yang bertahan melawan malam. Kopi tadi masih saya genggam. Dingin dan tidak ada lagi wajah seseorang. Saya mendengar pria paruh baya di depan menangis dan mengguncang tubuh istrinya.
“Tolong saya, nak.” Pintanya menoleh ke arah saya. Istrinya tertidur dengan wajah tersenyum dengan keadaan masih menggenggam tangan suaminya. Namun, dia tidur dalam arti yang lain. Bus yang saya naiki bergerak cepat ke rumah sakit terdekat. Sayangnya, wanita itu sudah benar-benar pergi sejak tadi. Saat supir bus hendak membantu membawa jenazah, pria paruh baya itu menahannya.
“Sebentar, beri saya waktu sebentar.” Pria itu menggenggam erat tangan istrinya. Kami semua menatap pria itu prihatin. Pria itu menggenggam erat tangan istrinya dan menatap saya. “Kami berjanji melihat terbit dan tenggelamnya matahari dalam perjalanan, maka saya ajak dia bepergian. Saya tahu umur nya sudah tidak lama, tapi saya hanya ingin menghabiskan waktu bersama Irina. Saya tidak pernah melepaskan genggaman dari tangan Irina. Saya tahu dia kedinginan. Saya tahu dia ingin berhenti. Tapi, saya katakan padanya sebentar lagi. Saya memohon padanya untuk bertahan sedikit lagi. Dia menangis dan saya membencinya. Maka saya katakan pada Irina untuk pergi melepaskan rasa sakitnya. Dia memandang saya dan tertidur. Irina tidak akan pernah bangun lagi.” Isak pria paruh baya menceritakan kisah kematian istrinya, Irina. Saya tidak bisa menahan air mata. Kesedihan ikut menjalar ke seluruh tubuh saya. Bagaimana mungkin perpisahan diawali dari genggaman yang begitu erat. Kami semua berpamitan pada pria itu untuk melanjutkan perjalanan dan dia tetap tinggal. Pria itu menahan saya dan memberikan tas berisi lima bungkus kopi sidikalang. Lagi-lagi namanya begitu familiar. Saya menjabat erat tangan pria itu dan pamit.
……
“Kamu minum kopi sambil membaca buku tentang kopi?”
Pria itu tersenyum dan mendekatkan posisi duduknya dengan saya. “Pernah dengar kopi Ulubelu dari Lampung, lihat ini.” Ujarnya menunjuk kalimat di buku yang sedang ia baca. “Ada teknik untuk memunculkan dan menjaga kualitas kopinya. Pengolahannya juga masih tradisional tapi, penikmatnya sampai ke dunia luar. Ini, kamu lihat lagi ada beberapa petani yang masih menggunakan kayu bakar untuk pengapian dan proses sangrai biji kopi cukup lama sekitar satu setengah jam dan diputar menggunakan tangan. Hebat kan?” Ujarnya antusias. Saya tidak begitu mengerti dengan apa yang ia jelaskan tapi saya menyukai caranya mencintai sesuatu.
“Kamu sudah pernah mencobanya?” Ujar saya tanpa melihat matanya.
“Belum, tapi suatu saat nanti saya pasti mendapatkannya. Dan kamu orang pertama yang saya ajak duduk berdua menikmatinya. Saya berjanji.” Tuturnya penuh kesungguhan. Wajah saya panas dan memerah. Saya menatapnya lama.
“Kamu sudah berjanji, jangan pernah ingkar.”
“Tidak akan pernah.” Yakinnya kali ini membuat pertahanan saya benar-benar runtuh. Saya kembali membaca buku yang ia baca. Mulai tertarik dengan hal yang ia cinta. Ada kopi yang menarik perhatian saya, nama nya unik. Kopi sidikalang.
“Kopi sidikalang?” Saya menunjuk buku dihadapannya. Wajahnya berbinar melihat saya yang antusias pada kopi.
“Kopi ini dari Dairi, Sumatera Utara. Beberapa petani juga ada yang masih mengolah secara tradisional. Kopi ini di tumbuk dan di goreng sampai hitam pekat. Saat menggoreng pun dicampur dengan minyak mentega, kulit manis agar kopinya harum, banyak juga yang dicampur pandan atau cengkeh. Menurut kepercayaan masyarakat Dairi kopi ini mempunyai sihir yang mampu membayar hutang  dan menjadi penyelamat ketika krisis.” Jelasnya panjang lebar.
“Dari mana kamu tahu?”
“Buku di hadapanmu yang menjelaskannya.” Jawabnya mantap. “Saya juga akan mengajak kamu mencicipi kopi itu, supaya hutang-hutang mu terbayarkan.” Dia tertawa dan menggenggam tangan saya.
Saya sampai di terminal Giwangan pukul tiga pagi. Dingin dan saya belum merasakan aroma kopi. Semoga saja perjalanan menuju kamu sudah dekat. Saya lelah. Ibu dan bayi laki-lakinya berjalan dibelakang saya dan menangis.
“Ibu kenapa?”
“Saya benci kembali kesini. Kenapa tempat ini selalu menyakiti saya dengan kenangan lama. Saya selalu dikalahkan kota ini. Kemanapun saya pergi, saya tidak pernah bisa menahan diri untuk pulang. Saya selalu kembali untuk disakiti lagi.” Isak tangis ibu itu sambil memeluk bayi laki-lakinya yang tertidur pulas di pelukannya. Saya tidak tahu apa yang terjadi. Saya tidak ingin menanyakan apapun karena itu akan menyakitinya. Udara semakin dingin dan saya mengajak ibu itu berjalan ke arah masjid. Beristirahat dan menenangkan pikirannya. “Damai.” Ucap ibu itu sambil menatap saya. saya mengernyitkan dahi dan tidak mengerti.
“Nama saya Damai.” Ucap ibu itu sekali lagi. Saya tersenyum dan berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. Ibu Damai sempat menawarkan kopi tapi saya menolaknya. Sudah cukup kenangan dan kejadian hari ini yang melibatkan kopi. Anehnya tidak ada rasa takut menyelinap dalam diri saya berjalan sendiri pukul tiga pagi di kota sebesar ini. Dan saya tahu, yang menguatkan saya sedari tadi adalah pria itu. Pria beraroma kopi yang saya cintai.
….
Saya turun dari taksi dan berlari, menangis dan tidak tahu apa-apa lagi. Yang jelas saya kacau dan berantakan. Saya hanya harus berlari dan mengejar pria yang pergi terburu-buru. Kami sudah berjanji di taman ini dua jam yang lalu. Katanya, dia ingin menepati janjinya mengajak saya duduk berdua menikmati kopi kesukaannya. Saya datang lebih dulu dan menunggu. Dia tidak datang dan pesan singkat datang menyatakan kepergian.
“Jangan tunggu saya. Saya harus pergi, maaf saya belum menepati janji. Tapi, kamu tahu saya tidak akan pernah ingkar. Saya akan kembali. Kamu harus menjadi baik dan saya akan berusaha memantaskan diri, untuk kamu. Saya mencintai kamu, Aqmarinna.” Pria macam apa yang mengirim salam perpisahan dan pernyataan cinta lewat pesan singkat. Sesampainya di bandara saya menggunakan indera penciuman saya sebaik mungkin, mencari dia pria beraroma kopi. Saya tidak peduli bagaimana jutaan pasang mata memperhatikan saya, berteriak dan menangis memanggil-manggil Artlagadar. Saya terduduk dan menyerah. Handphone saya bergetar dan nama Artlagadar tertera disitu.
“Jangan menangis.” Ucap nya keras di ujung telepon.
“Kamu tidak bisa seperti ini. Saya sudah menunggu kamu. Jangan pergi.” Suara saya tidak jelas karena menangis. “Tolong jangan seperti ini, Artlagadar.” Saya masih sesenggukan.
“Saya harus pergi. Kamu harus melanjutkan hidup kamu. Kamu tahu dan akan selalu tahu bahwa saya mencintai kamu, Aqmarinna.” Setelah itu telepon terputus. Dia mematikan teleponnya begitu saja. Tidak memberikan saya kesempatan mengucapkan hal yang sama. Mengutarakan perasaan saya.
Dan sejak hari itu saya tahu, perpisahan selalu mengubah hidup yang ditinggalkan.
Saya terbangun dengan pikiran kacau. Lagi-lagi saya memimpikan Artlagadar. Semalam saya memutuskan menyewa hotel tidak jauh dari terminal. Saya butuh tidur. Berkali-kali saya menghubungi nomor ponsel nya dan tidak pernah tersambung. Yang saya punya saat ini hanya alamat yang pernah ia kirim sebelum ia pergi. Saya tidak tahu dia masih disana atau tidak. Tapi, saya harus menemuinya. Sudah cukup penantian saya empat tahun lamanya. Saya sudah menjadi baik seperti yang ia minta. Saya menjalankan bisnis cafe dan toko kue dengan baik, mengajar taman kanak-kanak dan tetap belajar tentang kopi, hal yang paling ia sukai. Semoga dia benar-benar memantaskan diri.
“Pak bisa antarkan saya ke alamat ini?” Pinta saya pada supir taksi yang saya sewa dari hotel tempat menginap. Supir itu hanya mengangguk dengan sopan. “Jauh pak dari sini?”
“Tidak mbak, sekitar lima belas menit.”
Yogyakarta diguyur hujan. Kenapa selalu hujan tiap kali saya ingin menemuinya. Mulai ada badai di dalam kepala saya. Pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah ada jawaban. Apa mungkin dia pernah berniat untuk menghubungi saya, menanyakan bagaimana keadaan saya, atau sebenarnya dia ingin membuat saya menyerah. Bagaimana mungkin dia bertahan setelah menyatakan perasaan terhadap saya. Pikiran saya melayang ke pria paruh baya yang ditinggalkan istrinya, bagaimana perasaannya, apa mungkin dia mampu melanjutkan hidup tanpa Irina. Juga Damai, bagaimana ibu itu selalu rela disakiti dan selalu ingin kembali, apa yang sebenernya menguatkannya. Belum usai saya menerka-nerka, taksi yang saya naiki berhenti di depan sebuah rumah yang semuanya berwarna hijau. Langkah kaki saya berat sekali, saya hampir memutuskan untuk kembali. Ada wanita yang keluar dari rumah itu dan melihat saya, dia tersenyum. Saya mengenal senyum itu.
“Ada yang bisa saya bantu?” Sapa wanita itu dengan ramah. Saya tersenyum dan mengulurkan tangan.
“Saya Aqmarinna. Artlagadar ada?” Wanita itu terdiam dan memperhatikan saya lalu tersenyum kembali. Artlagadar tidak ada dan wanita itu adalah kakaknya. Dia memberi tahu saya untuk datang ke sebuah kedai teh di daerah Kalasan. Saya baru pertama kali mendengar tempat itu. Dia selalu tersenyum dan saya berpamitan, wanita itu menjabat tangan saya erat dan berkata dia senang sekali bertemu saya.
“Semoga berhasil.” Ujarnya. perjalanan saya masih jauh dan saya tidak tahu apa yang akan saya hadapi nanti. Kota ini menenangkan sekali. Pantas saja pria itu betah dan tidak pernah kembali. Lagi-lagi Kalasan diguyur hujan. Saya hanya melamun dan mencoba untuk tidur. Supir taksi selalu menatap saya dari kaca depan seperti kebingunan apa yang sedang saya tuju.
“Mbak, sudah sampai.” Ujarnya membuyarkan lamunan saya. Kedai ini tidak sesuai dengan konsepnya, kedai teh dengan aksen kopi dimana-mana. Saya berhenti sejenak di depan pintu, pria beraroma kopi itu ada disini menatap saya dari bilik, dia tersenyum mempersilahkan saya masuk. Memberikan tempat duduk terbaik menghadap jendela. Apa yang sebenarnya dia lakukan, apa dia tidak mengenali saya, kenapa tidak ada sambutan untuk saya seolah saya hanya pelanggan biasa.
“Saya mau kopi.” Pinta saya sedikit terisak.
“Disini kedai teh bukan kedai kopi, mbak.” Ucapnya sambil menyerahkan daftar menu. Saya menangis tapi tidak berani menatapnya. Dia masih berdiri di samping saya dan masih sama beraroma kopi. Saya tidak mengenalnya, bagaimana mungkin dia mengelola kedai teh padahal saya tahu dia tidak mencintainya. “Saya mau kopi. Saya hanya mau kopi.”
“Disini kedai teh, tapi kalau kamu mau saya akan buatkan kopi.” Jawabnya seraya duduk didepan saya. Saya menggelengkan kepala dan masih menangis.
“Saya mau kamu.” Udara tiba-tiba menghilang, saya tidak bisa mendengar apa-apa lagi selain kesunyian. Saya menarik nafas dalam-dalam, menikmati aroma yang sudah lama hilang. Artlagadar menggenggam tangan saya erat. Menarik saya menaiki mobilnya. Dia membawa saya ke sebuah pantai. Jauh sekali. Tidak ada percakapan dalam perjalanan. Saya menangis dan saya tahu dia membencinya. Saya tertidur dan bangun saat sudah senja. Dia membawa saya ke pantai Kesirat, tempat yang paling ia cintai. Katanya senja disini sangan memikat dan tidak akan kita dengar suara lain selain deburan ombak. Bahkan suara kesedihan tidak akan lagi terdengar. Dia mengajak saya turun dan menjelaskan semuanya di hadapan senja. Untuk yang kedua kalinya dihidup saya pria beraroma kopi ada saat hujan belum tiba. Katanya saya harus pulang untuk mempersiapkan pernikahan dengan Arlanda, sahabat baiknya. Dia melepaskan saya untuk membahagiakan sahabatnya. Tepat di hari itu saat kita berjanji minum kopi sahabatnya membuat pengakuan mencintai saya. Dengan alasan paling klasik di muka bumi ini dia meninggalkan saya untuk dicintai sahabatnya. Dan selama itu juga saya dengan bodoh menunggunya. Saya sempat menyerah dan menerima pinangan Arlanda, tapi Arlanda tahu saya tidak pernah mencintainya. Dia membiarkan saya pergi mengejar Artlagadar.
“Kamu tahu saya butuh kamu, tapi kamu biarkan saya. Kamu tidak menolong saya.” Saya berbicara sambil memukul dada nya yang bidang. Dia hanya membiarkan saya meluapkan keresahan. “Kamu tidak pernah menepati janji. Kamu selalu ingkar. Kamu selalu membuat saya menunggu.” Saya masih terisak kuat. Saya tidak tahu dia mendengar nya atau tidak. Saya menangis dan sudah berada dalam pelukan Artlagadar. “Jangan lepaskan saya, harusnya kamu perjuangkan saya. Bukan membiarkan saya dicintai pria lain, kamu bilang kamu mencintai saya. Tapi, kamu menyakiti saya, bahkan saat sudah di tempat seindah ini. Aroma pria ini makin terasa saat saya dipeluknya. Erat sekali. Aroma kopi ini menenangkan sekali walaupun terkadang begitu melemahkan.
“Sebenarnya kamu menempat saya dimana, tolong jangan begini, jangan buat saya menyerah mencintai kamu. Sebenarnya ada saya atau tidak dihatimu beri saya sedikit pertanda. Kamu tidak pernah menghubungi saya padahal kamu tahu kemana menghubungi saya saat rindumu tidak bisa lagi berada ditempatnya.” Saya masih meracau mengatakan apa yang sudah sangat lama ingin saya katakana.
Dia melepaskan pelukan nya dan menatap saya dalam. Menggenggam erat dan tiba-tiba hujan. Saya dapat melihatnya menangis. “Aqmarinna, kamu tahu dan akan selalu tahu bahwa saya akan selalu seperti ini, mencintai kamu.” Katanya tulus sekali. “Saya selalu menempatkan kamu dengan perlahan di hati saya, tapi berat sekali memperjuangkanmu. Kamu terlalu jauh dan Arlanda pria yang jauh lebih baik dari saya. Saya tidak pantas meminta kamu lebih dari ini. Saya juga tersiksa berpura-pura melupakan kamu. Berpura-pura tidak mencintai kopi, sedang saya tahu kamu dan kopi adalah hal yang paling saya cintai. Kamu tidak tahu bagaimana sakit nya saya membuka kedai teh itu. Tidak ada kamu ditiap aroma teh yang saya buat dan tiap kali saya meracik kopi akan selalu ada kamu di tiap kopi yang saya sesap. Kamu pikir kamu menderita sendirian, saya juga merasakan apa yang kamu rasakan.” Jelasnya panjang sekali. Ini pertama kalinya dia berbicara cukup panjang. Hujan kali ini benar-benar membuat kami makin erat. Tapi, dia melanjutkan ucapannya. “Saya tidak bisa, kamu harus bahagia bersama Arlanda. Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa jika dengan saya. Jika kamu kembali, saya akan segera meninggalkan kamu nantinya.” Kedua kalinya salam perpisahan diawali dari genggaman erat.
Saya menamparnya. Bagaimana mungkin dia sudah merencanakan utnuk meninggalkan saya jika saya kembali padanya. Merencanakan menyakiti saya. “Kenapa kamu tidak mau berusaha menetap untuk saya. Sudah terlalu banyak kopi dan kejadian saya menuju kamu, dan sekarang kamu bilang kamu akan meninggalkan saya.” Saya menangis dan dan tidak ingin lagi menatap matanya. Rasanya terlalu sia-sia, saya berjalan mundur menjauhinya.
“Jika kamu ingin melihat kepergian saya, maka kembalilah kesini.” Ucapnya mengulurkan tangan. Dia pikir wanita macam apa yang ingin kembali untuk ditinggalkan dan disakiti, kecuali ibu Damai. Dia menatap saya tapi tidak berniat untuk mengejar saya. Dia biarkan saya berjalan mundur menjauhinya yang buram karena hujan. Sejak saat itu saya tahu ada hal di dunia ini yang sekeras apapun kita berusaha, seberjuang bagaimanapun kita, mungkin hal itu memang tidak bisa diraih hanya berbekal kalimat-kalimat perih. Saya memutuskan untuk pergi. Setidaknya semuanya jelas tidak ada lagi pertanyaan pertanyaan yang mengganggu malam saya. Saya pernah mencintainya dengan keras kepala dan sepertinya akan tetap seperti itu, namun saya masih terlalu sakit untuk menatap matanya yang sudah berencana meninggalkan saya, yang tidak pernah berniat memperjuangkan saya. Yang tidak ingin mengejar saya yang berjalan pergi.
Satu bulan berlalu sejak kejadian hari itu saya masih menetap di Yogyakarta mengharap keajaiban. Saya pergi ke kedai kopi, sepi sekali. Wanita paruh baya menghampiri saya dan mempersilahkan duduk.
“Kopi?”
Kalimat yang mungkin akan selalu ada di hidup saya. Saya tersenyum dan mengangguk. Wanita itu memberi isyarat untuk menunggu. Tidak lama wanita itu kembali dan mengajak saya ke balik bilik kedai itu dan menawarkan saya melihat proses pembuatan kopi joss. Kedai ini berada di daerah sekitar tugu Yogyakarta. Kopi ini adalah kopi hitam yang dicampur arang. Menurut mitos arang yang digunakan di kedai ini menggunakan kayu yang diawetkan bersama mayat Firaun di Mesir. Jadi dengan arang impor ini terjadilah sebuah perkawinan antara Java Coffee dengan arang mesir. Ketika kopi hitam panas dimasukkan arang yang panas maka kopi tersebut akan mengeluarkan suara joss yang kencang sehingga terciptalah nama kopi itu. Soal rasa jangan ditanya, kopi ini segar sekali. Dan saya masih melihat wajah seseorang dari kepul asap kopinya. Malam ini hujan dan pertanda apa lagi yang akan datang kali ini. Handphone saya bergetar, nama yang tertera Arlanda. Saya mengabaikannya. Pesan singkat masuk dengan cepat setelah Arlanda menelepon.
“Aqmarinna, kamu dimana?” Saya tidak berniat membalasnya.
“Aqmarinna, jawab telepon saya atau paling tidak balas pesan ini.” Saya masih mengabaikannya. Dan menyesap kopi joss sampai habis. Saya memesan satu lagi.
“Aqmarinna, Artlagadar meninggal.” Sejak malam itu saya tahu, ini yang dimaksud Artlagadar dengan meninggalkan.
…….
Hujan malam itu pertanda bahwa Artlagadar sudah berhasil menjalankan rencananya, meninggalkan saya. Kopi joss adalah kopi yang saya pilih untuk merayakan kepergiannya. Saya tidak datang ke pemakamannya karena saya akan menyakiti diri saya sendiri. Saya berterima kasih pada Artlagadar karena tidak mengejar saya, jika saat itu dia mengejar dan saya kembali mungkin saya akan hidup dengan kebencian pada aroma kopi karena meninggalkan saya dua kali. Artlagadar melepaskan saya untuk bahagia dan dicintai Arlanda. Penyakit itu menguras habis kesanggupan Artlagadar untuk mencintai saya. Tidak akan pernah ada lagi aroma kopi di hujan saya. Pria kopi yang saya cintai sudah tenang di alam sana. Yang dapat saya lakukan sekarang hanya mengakrabkan kopi dan hujan serta kenangan yang pernah ada kita di dalamanya. Dan saya tidak ingin berhenti minum kopi, saya ingin terus tahu ada berapa kopi lagi di dunia ini supaya kamu tahu saya pernah begitu sungguh pada kamu. Dan semoga mencintai kamu, adalah hal paling baik yang pernah saya tekuni. Saya mencintai kamu dan kamu akan selalu tahu itu, Artlagadar. Tiba-tiba saya dapat merasakan pria beraroma kopi disini. Saya menghirup nafas dalam-dalam dan tersenyum, melepaskan kamu sambil menggenggap buku kopi yang kini selalu menemani.


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sembunyikan Saya

Kepada mu yang masih menyembunyikan saya dari seluruh dunia. Kita pernah sama-sama saling bersilang jalan. Pernah saling bersisian. Pernah saling pergi. Tapi, apa yang semestinya jadi satu pasti akan kembali.  Kita pernah pula saling melewatkan. Pernah juga dengan berat hati melepas genggaman. Tapi, apa yang semestinya jadi milik kita akan datang tanpa pernah memberi tahu. Kini, saya senang berada disini. Di tempat yang ingin saya tetapkan menjadi rumah. Tempat saya pulang dari segala lelah. Tempat yang tidak seorang pun tahu, karena kamu dengan begitu tenang menempatkan saya dengan begitu rahasia di situ. Di hatimu.  Maka dengan surat ini, kamu harus bertanggung jawab karena sudah membuat saya betah. Kamu harus menjaga saya agar tetap berada di sisimu. Meyakinkan saya untuk tidak membuka pintu. Membuat saya jatuh hati setiap hari padamu. Sebagai hadiah, kamu dapat menikmati senyum saya yang manis semau mu😄 #30HariMenulisSuratCinta

Thank You Mozaik

Hai, Mozaik Al Isamer, putra sulung Bapak Insan Asyik.  Sekitar tiga hari yang lalu aku berkunjung ke typoganteng.com dan membaca tulisan yang berjudul "Ayah, Kau Terbaik!". Dan karena ulahmu menuliskan itu berhasil membuatku menangis dan merindukan ayahku.  Yang paling bisa buat mata berkaca-kaca di bagian yang ini, "Gue anak nggak berguna, kalau dia nggak bisa nikmatin masa tua nya." Aku rasa apapun yang berhubungan dengan orang tua akan selalu bersinggungan dengan air mata.  Sebelumnya, aku akan memperkenalkan diri dengan sejelas-jelasnya karena ini bukan surat kaleng. Namaku Vici Kurnia Ayuningtyas, putri sulung Bapak Muazin. Kelahiran Lampung, 22 Mei 1995. Seperti yang kamu tuliskan sebelumnya bahwa setiap Ayah akan selalu punya "keren" nya masing-masing. Tapi, pandangan anak perempuan dan laki-laki tentang Ayah akan sangat berbeda menurutku. Seperti nama Ayahku; Muazin, yang katanya arti nama itu adalah pria yang mengumandangkan adzan. Ta...

Menyukai Seseorang

Bukankah menyukai seseorang adalah hal yang mudah? Hanya cukup dengan menyukai nya, tanpa perlu tahu siapa mantan kekasihnya, pekerjaannya, apa yang sedang ada dalam pikiran nya. Hidup akan baik-baik saja sepertinya. Hari-hari hanya akan ada perasaan baik, mendoakan, mengharapkan. Dalam menyukai kita selalu diperbolehkan berharap, tidak ada yang bisa membatasi rasa dan harapan itu karena semuanya milikmu. Rasa ingin tahu tentang nya adalah yang paling menguasi pikiran mu. Tentang hobi nya,  makanan dan film favorit nya, tipe pasangan yang menjadi impian nya. Padahal rasa ingin tahu itu bisa melukai. Tapi, tiap kali kamu menyukai seseorang seolah kamu merasa jadi manusia yang paling bisa menahan rasa sakit. Kamu merasa baik-baik saja saat orang yang kamu sukai muncul di timeline mu.  Hadir sesekali lewat instastory. Hanya dengan itu kamu merasa jadi yang paling tahu tentang diri nya. Kamu merasa hari mu dipenuhi tawa dengan melihat foto nya yang sedang tersenyum,...