Langsung ke konten utama

Kotak Pandora

Kamar ini begitu menyesakkan, begitu banyak kenangan. Debu dan sarang laba-laba mendominasi.
Lalu ingatan dipaksa kembali berputar pada hari dimana harusnya kita bahagia. Pandanganku hanya tertuju pada satu kotak besar yang ku keramatkan untukmu. Helaan nafas terdengar begitu jelas.

"Sudah sepuluh tahun ya ternyata."

Kedua tangan sibuk membuka kembali kotak pandora yang berisi jutaan puisi dan foto kita berdua.

"Sudahkah kamu melupakannya?"

kita, yang selalu aku nyatakan pada senja
yang akan selalu ku katakan pada hujan
yang tak pernah putus kurapal dalam malam
hanya ingin "kita" menjadi semestinya cinta.

Senyum kecut kembali mengembang. Suara angin begitu terdengar mengerikan di luar, jendela terbuka dan segala isi di kotak pandora itu terhambur. Satu lembar kertas biru tertangkap di tanganku. Kamu yang menuliskan puisi itu dan aku mencurinya. Kusimpan rapi di kotak pandora.

karena kita hanya  salah dua dari semesta 
hanya benda langit bercahaya di antara milyaran bintang di keliling bulan 
yang keredupannya tak berarti
maka, bila harus redup aku hanya ingin meredup bersamamu
dan menyalakan kembali cahaya untuk kita di semesta berbeda
karena aku hanya ingin menua bersamamu, bersama selaksa alam raya beserta isinya

Tak ada suara angin. Hanya suara tangis. Mengenang Rio memang begitu memilukan. Namun aku hanya ingin hidup bersama kenangan yang pernah kujalani bersamanya, berjalan berdampingan. Dan aku tahu Rio menginginkan itu.

Tangan besar seketika memelukku dari belakang, begitu menenangkan. Dan aku temukan dia, Mario. Yang ingatan tentang masa lalunya telah kembali setelah aku begitu pilu menunggu, setelah amnesia yang begitu panjang

"Begitu lamakah aku mengabaikanmu?"

Aku tak bisa berhenti menangis. Doaku agar ingatannya kembali pun terkabul. Tak ada lagi angin, kini hujan. Hujan di luar dan dipipi ku yang begitu deras.

jika aku harus melupa, aku hanya ingin lupa saat menyedihkan bersamamu, 
dan itu tidak ada




Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sembunyikan Saya

Kepada mu yang masih menyembunyikan saya dari seluruh dunia. Kita pernah sama-sama saling bersilang jalan. Pernah saling bersisian. Pernah saling pergi. Tapi, apa yang semestinya jadi satu pasti akan kembali.  Kita pernah pula saling melewatkan. Pernah juga dengan berat hati melepas genggaman. Tapi, apa yang semestinya jadi milik kita akan datang tanpa pernah memberi tahu. Kini, saya senang berada disini. Di tempat yang ingin saya tetapkan menjadi rumah. Tempat saya pulang dari segala lelah. Tempat yang tidak seorang pun tahu, karena kamu dengan begitu tenang menempatkan saya dengan begitu rahasia di situ. Di hatimu.  Maka dengan surat ini, kamu harus bertanggung jawab karena sudah membuat saya betah. Kamu harus menjaga saya agar tetap berada di sisimu. Meyakinkan saya untuk tidak membuka pintu. Membuat saya jatuh hati setiap hari padamu. Sebagai hadiah, kamu dapat menikmati senyum saya yang manis semau mu😄 #30HariMenulisSuratCinta

Thank You Mozaik

Hai, Mozaik Al Isamer, putra sulung Bapak Insan Asyik.  Sekitar tiga hari yang lalu aku berkunjung ke typoganteng.com dan membaca tulisan yang berjudul "Ayah, Kau Terbaik!". Dan karena ulahmu menuliskan itu berhasil membuatku menangis dan merindukan ayahku.  Yang paling bisa buat mata berkaca-kaca di bagian yang ini, "Gue anak nggak berguna, kalau dia nggak bisa nikmatin masa tua nya." Aku rasa apapun yang berhubungan dengan orang tua akan selalu bersinggungan dengan air mata.  Sebelumnya, aku akan memperkenalkan diri dengan sejelas-jelasnya karena ini bukan surat kaleng. Namaku Vici Kurnia Ayuningtyas, putri sulung Bapak Muazin. Kelahiran Lampung, 22 Mei 1995. Seperti yang kamu tuliskan sebelumnya bahwa setiap Ayah akan selalu punya "keren" nya masing-masing. Tapi, pandangan anak perempuan dan laki-laki tentang Ayah akan sangat berbeda menurutku. Seperti nama Ayahku; Muazin, yang katanya arti nama itu adalah pria yang mengumandangkan adzan. Ta...

Menyukai Seseorang

Bukankah menyukai seseorang adalah hal yang mudah? Hanya cukup dengan menyukai nya, tanpa perlu tahu siapa mantan kekasihnya, pekerjaannya, apa yang sedang ada dalam pikiran nya. Hidup akan baik-baik saja sepertinya. Hari-hari hanya akan ada perasaan baik, mendoakan, mengharapkan. Dalam menyukai kita selalu diperbolehkan berharap, tidak ada yang bisa membatasi rasa dan harapan itu karena semuanya milikmu. Rasa ingin tahu tentang nya adalah yang paling menguasi pikiran mu. Tentang hobi nya,  makanan dan film favorit nya, tipe pasangan yang menjadi impian nya. Padahal rasa ingin tahu itu bisa melukai. Tapi, tiap kali kamu menyukai seseorang seolah kamu merasa jadi manusia yang paling bisa menahan rasa sakit. Kamu merasa baik-baik saja saat orang yang kamu sukai muncul di timeline mu.  Hadir sesekali lewat instastory. Hanya dengan itu kamu merasa jadi yang paling tahu tentang diri nya. Kamu merasa hari mu dipenuhi tawa dengan melihat foto nya yang sedang tersenyum,...