Undangan pernikahan dengan tema serba ungu dibagikan ke tiap meja. Seorang wanita di sudut paling kiri tersenyum melihat undangan itu di tangan. Bahagianya tentu saja karena pria itu adalah sahabatnya, yang selalu berbagi keluh kesah tentang wanitanya selama hampir enam tahun. Undangan itu kini jadi pembuktian nya bahwa dia benar-benar mencintai kekasihnya. Bahagianya yang lain adalah bahwa wanita itu memiliki firasat bahwa dia akan bertemu seorang yang selalu memenuhi mimpinya.
Pria itu dikenalkan oleh Pras, sahabat nya yang akan segera menikah. Satu tahun lalu mereka pertama kali nya bertemu. Di bioskop saat menemani Pras dan kekasihnya bertemu. Kencan ganda, satu pasangan dengan penuh cinta. Sisanya penuh senyum malu-malu.
Tak ada satu kata pun terucap. Hanya saling menimpali obrolan Pras dengan kekasihnya. Untuk mengatakan bahwa mereka saling jatuh cinta, rasa nya terlalu terburu. Mereka bahkan tidak mengerti apa yang mereka rasakan.
Pria itu bahagia ada disini, menatap sesekali ke arah wanita dengan senyum matahari. Wanita itu bahagia ada disini, mencuri pandang sesekali ke arah pria dengan senyum langit sore.
Akhir dari pertemuan itu hanyalah sebuah senyum dan jabat tangan. Mereka saling menahan untuk tidak menoleh. Padahal itu yang hati mereka masing-masing inginkan.
Disisi lain Pras selalu tahu apa yang sahabat nya rasakan. Dia merencanakan semua nya. Membuat mereka saling bertukar kontak dan kabar. Berkat Pras, wanita itu bahagia. Pria itu bahagia.
Yang mereka saling tidak tahu adalah bahwa mereka tidak berada di satu kota yang sama. Tidak terlalu jauh namun tidak juga dekat. Paling tidak butuh sehari semalam perjalanan darat atau butuh satu jam dua puluh menit perjalanan udara.
Yang mereka saling tidak tahu adalah bahwa luka masa lalu yang pernah mereka alami tidak lagi mengijinkan mereka menjalin hubungan jarak jauh.
Yang mereka saling tidak tahu adalah bahwa perasaan mereka sudah tumbuh sejak pertemuan pertama.
Selama setahun mereka saling bertukar hari-hari bahagia, penuh penat, kadang juga hari yang membosankan. Tidak setiap hari pesan dan telepon datang, hanya sesekali saat keduanya benar-benar saling merindukan. Karena kedua nya memang tidak ada ikatan yang mewajibkan mereka untuk saling bertukar kabar setiap hari.
Sesekali pembicaraan mereka akan membawa pada muara yang meminta sebuah nama. Siapa aku dihidupmu. Siapa kamu dihidupku.
Lalu keduanya akan sama-sama saling mengalihkan, menyakiti diri sendiri dengan ketakutan masa lalu untuk mencintai lagi.
Hari ini, mereka bertemu kembali setelah satu tahun hanya bisa bicara tanpa tatap mata. Keduanya masih sama, pertemuan di hari pernikahan Pras dimulai dengan senyum dan jabat tangan.
Keduanya masih tidak bisa mencairkan suasana. Padahal biasanya lewat pesan singkat dan telepon mereka terlalu akrab. Semuanya berubah saat bertemu. Keduanya justru lebih canggung. Pria itu bahkan tidak berani melihat mata wanita yang begitu dirindukan nya. Wanita itu bahkan tidak berani melihat senyum pria yang selalu dimimpikan nya. Tapi mereka bahagia bisa kembali dipertemukan.
Mereka berpisah untuk kedua kalinya. Masing-masing saling mengumpulkan keberanian hanya untuk mengucapkan hati-hati dijalan. Hanya untuk mengucapkan senang bertemu dengan mu hari ini. Hanya untuk mengucapkan aku merindukanmu.
Semua kalimat itu berhenti di tenggorokan. Lagi-lagi mereka hanya berjabat tangan. Tapi yang kali ini lebih erat. Seperti ada pesan yang ingin disampaikan. Seperti "aku mencintaimu, aku baik-baik saja seperti ini. Semoga kamu pun selalu baik. Tunggu aku, aku pasti datang."
Keduanya lalu saling bersilang jalan dan menahan untuk tidak menoleh lagi.
Tapi pria itu sadar, bisa jadi ini terakhir kali nya mereka bertemu. Bisa jadi ini terakhir kalinya kesempatan yang di berikan wanita itu. Dia buang semua katakutan luka masa lalu. Dia ingin sekali menjemput bahagia di mana wanita itu berada. Wanita itu kini sudah sangat dekat di hadapan nya.
"Hati-hati di jalan Ruth, aku senang bertemu dengan mu hari ini. Aku merindukan mu."
Wanita itu menghentikan langkahnya tentu saja. Sebuah kalimat yang sangat ingin ia dengar diwujudkan hari ini oleh Tuhan. Dia tersenyum. Namun wanita itu tidak menoleh. Dia sedang berusaha menenangkan diri.
"Hati-hati di jalan Zac, aku senang melihat kamu baik-baik saja. Aku merindukan mu."
"Bisakah kita lebih lama disini?"
"Aku merindukanmu."
"Kamu cantik hari ini, aku sampai tidak berani menatapmu."
"Aku merindukanmu."
Pria itu kini tahu, bahwa dia bukan butuh waktu untuk sembuh dari luka masa lalu. Dia butuh seorang wanita yang selalu merindukannya. Kalimat "aku merindukanmu" dari wanita itu sudah membuat keyakinan dan keberanian nya bangkit lagi.
"Pulanglah dengan selamat Ruth, aku akan segera datang. Aku merindukanmu."
Kali ini perpisahan mereka tidak lagi hanya dengan jabat tangan. Pelukan sore itu jadi awal baru lagi untuk mencintai.
Pria itu dikenalkan oleh Pras, sahabat nya yang akan segera menikah. Satu tahun lalu mereka pertama kali nya bertemu. Di bioskop saat menemani Pras dan kekasihnya bertemu. Kencan ganda, satu pasangan dengan penuh cinta. Sisanya penuh senyum malu-malu.
Tak ada satu kata pun terucap. Hanya saling menimpali obrolan Pras dengan kekasihnya. Untuk mengatakan bahwa mereka saling jatuh cinta, rasa nya terlalu terburu. Mereka bahkan tidak mengerti apa yang mereka rasakan.
Pria itu bahagia ada disini, menatap sesekali ke arah wanita dengan senyum matahari. Wanita itu bahagia ada disini, mencuri pandang sesekali ke arah pria dengan senyum langit sore.
Akhir dari pertemuan itu hanyalah sebuah senyum dan jabat tangan. Mereka saling menahan untuk tidak menoleh. Padahal itu yang hati mereka masing-masing inginkan.
Disisi lain Pras selalu tahu apa yang sahabat nya rasakan. Dia merencanakan semua nya. Membuat mereka saling bertukar kontak dan kabar. Berkat Pras, wanita itu bahagia. Pria itu bahagia.
Yang mereka saling tidak tahu adalah bahwa mereka tidak berada di satu kota yang sama. Tidak terlalu jauh namun tidak juga dekat. Paling tidak butuh sehari semalam perjalanan darat atau butuh satu jam dua puluh menit perjalanan udara.
Yang mereka saling tidak tahu adalah bahwa luka masa lalu yang pernah mereka alami tidak lagi mengijinkan mereka menjalin hubungan jarak jauh.
Yang mereka saling tidak tahu adalah bahwa perasaan mereka sudah tumbuh sejak pertemuan pertama.
Selama setahun mereka saling bertukar hari-hari bahagia, penuh penat, kadang juga hari yang membosankan. Tidak setiap hari pesan dan telepon datang, hanya sesekali saat keduanya benar-benar saling merindukan. Karena kedua nya memang tidak ada ikatan yang mewajibkan mereka untuk saling bertukar kabar setiap hari.
Sesekali pembicaraan mereka akan membawa pada muara yang meminta sebuah nama. Siapa aku dihidupmu. Siapa kamu dihidupku.
Lalu keduanya akan sama-sama saling mengalihkan, menyakiti diri sendiri dengan ketakutan masa lalu untuk mencintai lagi.
Hari ini, mereka bertemu kembali setelah satu tahun hanya bisa bicara tanpa tatap mata. Keduanya masih sama, pertemuan di hari pernikahan Pras dimulai dengan senyum dan jabat tangan.
Keduanya masih tidak bisa mencairkan suasana. Padahal biasanya lewat pesan singkat dan telepon mereka terlalu akrab. Semuanya berubah saat bertemu. Keduanya justru lebih canggung. Pria itu bahkan tidak berani melihat mata wanita yang begitu dirindukan nya. Wanita itu bahkan tidak berani melihat senyum pria yang selalu dimimpikan nya. Tapi mereka bahagia bisa kembali dipertemukan.
Mereka berpisah untuk kedua kalinya. Masing-masing saling mengumpulkan keberanian hanya untuk mengucapkan hati-hati dijalan. Hanya untuk mengucapkan senang bertemu dengan mu hari ini. Hanya untuk mengucapkan aku merindukanmu.
Semua kalimat itu berhenti di tenggorokan. Lagi-lagi mereka hanya berjabat tangan. Tapi yang kali ini lebih erat. Seperti ada pesan yang ingin disampaikan. Seperti "aku mencintaimu, aku baik-baik saja seperti ini. Semoga kamu pun selalu baik. Tunggu aku, aku pasti datang."
Keduanya lalu saling bersilang jalan dan menahan untuk tidak menoleh lagi.
Tapi pria itu sadar, bisa jadi ini terakhir kali nya mereka bertemu. Bisa jadi ini terakhir kalinya kesempatan yang di berikan wanita itu. Dia buang semua katakutan luka masa lalu. Dia ingin sekali menjemput bahagia di mana wanita itu berada. Wanita itu kini sudah sangat dekat di hadapan nya.
"Hati-hati di jalan Ruth, aku senang bertemu dengan mu hari ini. Aku merindukan mu."
Wanita itu menghentikan langkahnya tentu saja. Sebuah kalimat yang sangat ingin ia dengar diwujudkan hari ini oleh Tuhan. Dia tersenyum. Namun wanita itu tidak menoleh. Dia sedang berusaha menenangkan diri.
"Hati-hati di jalan Zac, aku senang melihat kamu baik-baik saja. Aku merindukan mu."
"Bisakah kita lebih lama disini?"
"Aku merindukanmu."
"Kamu cantik hari ini, aku sampai tidak berani menatapmu."
"Aku merindukanmu."
Pria itu kini tahu, bahwa dia bukan butuh waktu untuk sembuh dari luka masa lalu. Dia butuh seorang wanita yang selalu merindukannya. Kalimat "aku merindukanmu" dari wanita itu sudah membuat keyakinan dan keberanian nya bangkit lagi.
"Pulanglah dengan selamat Ruth, aku akan segera datang. Aku merindukanmu."
Kali ini perpisahan mereka tidak lagi hanya dengan jabat tangan. Pelukan sore itu jadi awal baru lagi untuk mencintai.
Komentar
Posting Komentar