Teruntuk
puan yang di hatinya hanya ada satu tuan, satu cinta dalam diam. Yang tiap
malam hanya menunggu waktu menggugukan rindu.
Cinta
itu berbagi hati bukan? Jika kamu membaginya dan tuan tidak, itu tetap cinta,
puan.
Sekalipun
kamu menguburnya dalam-dalam, tetap saja itu namanya cinta.
Biar
saja para pujangga tak bernama menyebut kamu bodoh, hanya karena mencintai satu
nama. Kamu tak perlu sadar dari lamunan tentang dia, kamu hanya perlu menunggu
sedikit lebih lama.
Nanti,
di waktu yang telah di sangsi, dia akan datang dengan membawa segurat senja
yang kamu mimpikan, itu bila kamu masih sabar.
Jika
tidak, mungkin kamu akan pergi dan dia menghilang, esoknya tuan dan puan
kembali bukan untuk saling menggenggam, sebatas berpapasan tanpa tahu ada rasa
yang pernah sangat ingin disandingkan.
Sabarlah
sedikit lagi puan, aku yakin dia akan datang.
Jika
tidak, mungkin hanya lupa. Sesederhana itu, lupa.
Meski
terlalu menyakitkan, tak datang karena dilupakan.
Jangan
selipkan nama lain di hatimu, puan. Jika dia tahu, dia benar-benar tidak akan
pernah datang. Bisa saja saat ini tuan sedang mempersiapkan diri menemuimu,
memantaskan dirinya untuk memintamu mendampinginya.
Dan
jika tuan memang tak akan datang, menangislah, biar kutemani. Biar kupanggil
hujan biar kau tak merasa sendiri. kupanggil awan hitam dan gemuruh supaya
sedihmu tentang dia ikut luruh.
Dan
jika puan masih rindu, sampaikan pada jingga yang tak pernah mendustai senja, katakan
pada tuan bahwa dia telah melewatkan satu waktu dimana seorang puan telah
memenjarakan waktu yang dimiliki untuknya, dan katakan lagi padanya bahwa kamu
tetap teguh pendirian untuk menunggu nya datang sampai waktu kehabisan cara
membuatmu hilang rindu. Karena tuan akan menikmati senja yang sama meski dari
ruang yang berbeda. Karena ini yang namanya cinta, tuan.
#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-27
Komentar
Posting Komentar