Hai
A,
Kita
ini siapa? Aku yakin kau tak bisa menjawabnya. Kita adalah sepasang rindu yang
sama-sama malu bertaut satu, hingga
akhirnya aku sendiri yang terduduk pilu.
A,
kenapa kau begitu menyebalkan, merusak tidurku tiap malam. Hingga paginya aku
harus kewalahan, kembali menyusun perasaan yang berantakan untuk rindu yang
belum tersampaikan.
Sebenarnya
kau ini siapa, A?
Beraninya
membuat aku menunggu, menerka-nerka jawaban hingga akhirnya aku hanya tergugu
kelu. Aku kebingungan menerjemahkan kamu, mengungkapkan kamu yang membuat malam
terasa panjang, dan pagi pun seperti senja yang tenggelam.
A,
apa kau tahu, aku adalah pemilik ingatan yang paling hebat.
Aku
ingat pagi itu adalah pagi yang manis, karena mentari memancarkan sinar
keromantisannya untuk membiarkan kita bersama. Aku kelelahan karena kamu
mengajakku lari pagi itu. Aku berbohong, tak sedikit pun ada rasa lelah saat
mengejar kebahagiaan itu bersamamu, aku hanya ingin bersandar di bahumu yang
keras itu.
Kamu
selalu bertanya, “Apakah bahu ku keras?”
Dan
lagi, aku selalu menjawab tidak. Padahal aku selalu kebingungan mencari tempat
sandaran. Namun, itulah sebaik-baiknya rasa nyaman tetap tenang meski keadaannya
begitu menuntut kepergian. Karena bahumu itu adalah tempat yang paling
menenangkan saat lelah datang bersarang.
Biar
ku jelaskan kebahagiaanku pagi itu, karena kau pasti lupa kan, A?
Kita
duduk bersebelahan setelah lelah berlari yang ku artikan mengejar kebahagiaan.
Kamu meletakkan kepalaku dengan lembut di bahumu yang keras. Setelahnya kamu
menyelipkan jarimu disela-sela jariku. Aku tersenyum. Kau tahu itu A?
Kamu
meletakkan kepala mu dengan nyaman dikepalaku dan, apakah kau memejamkan mata
saat itu? Astaga, aku begitu bahagia menulis surat ini. Kamu menuntun tanganku
dan meletakkannya di dadamu yang bidang itu. Dan hal itu berlangsung untuk
beberapa menit yang aku harap tak pernah usai.
Kamu
tahu apa yang aku pikirkan saat tanganku ada di dadamu, A?
Aku
gugup.
Kebahagiaan
itu begitu berlebihan, hingga satu pertanyaan muncul di benakku pagi itu.
Apa
yang ada di dalam sini, di dalam dadamu, hatimu adalah milikku, A?
Sayangnya,
kau begitu menyebalkan. Kau mengganggu pertanyaan dalam benakku. Tanganmu yang
lain menarik hidungku hingga aku meringis kesakitan. Ya, lebih tepatnya
pura-pura kesakitan untuk tetap menahan fokusmu padaku.
Hai
A, aku tahu kau malas membaca surat ini. Tapi ini sebuah rasa, yang aku sendiri
tak tahu bagaimana bisa datang dan bersarang tanpa sedikitpun kamu memaksaku
bertahan.
A,
mau kah kembali mengejar kebahagiaan agar aku kembali bersandar di tempatmu
yang nyaman.
#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-7
Aduh. Aku yang pembaca aja degdegan banget bacanya. Kaya semacam ada film yang diputar di kepala. Duh. Apa rasanya jadi A yang dikirimi surat ini spesial ya? Hehehe.
BalasHapusAaaaaah terimakasih :) sayangnya A sepertinya belum membaca jadi masih rahasia apa yang A rasa :)
Hapus