Hai
lagi padamu yang masih menguasai hati. Iya, kamu yang gemar berlari-lari dalam
hatiku hingga aku tak ingin lagi kamu berhenti.
Sepertinya
perkenalan kita baru saja terjadi kemarin, nyatanya ini sudah hampir memasuki pertengahan
tahun, dan kita masih terjebak disini. Di zona nyaman tanpa ikatan.
Kamu
menikmatinya?
Aku
tidak, tapi terkadang ya.
Biarlah
kamu menyebutku plin-plan, aku sudah biasa kau sebut dengan itu.
Kau
tidak mau memanggilku ‘sayang’?
Aku
yakin kamu sedang tertawa saat membaca kalimat itu. Sudahlah, lupakan.
Kamu
selalu saja, tidak pernah serius. Bagimu, ini permainan?
Ini,
hati. Kamu tahu?
Hati
yang di isi rasa dan hasrat untuk mencintai, yah, namanya juga lelaki, semua
hal selalu dianggap mudah dan gaya wanita mengartikan perasaan selalu dianggap
berlebihan.
Ah,
rasanya aku kesal sekali denganmu, suratku ini selalu melulu tentang kamu.
Entahlah, apa yang telah kamu masukkan ke dalam hati dan pikiranku. Ingin sekali
aku melayangkan pukulan ke lenganmu itu.
Apa!
Kamu mau marah?
Balas
saja surat ini jika kamu berani.
Awas
nanti jika aku bertemu denganmu, jangan salahkan aku jika lenganmu biru-biru,
karena pukulan dan cubitan. Sebab kini aku sedang rindu.
#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-15
Komentar
Posting Komentar