Langsung ke konten utama

Dia, pemilik nama palsu ‘Raden’



Hai kamu, penipu bertubuh tinggi dengan batik biru, apa kabar?
Rasanya baru kemarin aku melihatmu berdiri di depan podium itu, berkata dengan bijak dan disambut kagum yang membuat decak. Tapi, aku mengingatnya hingga hari ini. Hari dimana aku merasa malu karena tatapanmu, karena tingkah konyolmu yang begitu berani.
Seminar sore itu pun menjadi awal sekaligus akhir dari pertemuan kita. Entah itu perasaanku saja atau memang seperti itu kenyataannya. Kamu memperhatikan aku setelah turun dari podium itu. Wajahku memanas, aku malu. Aku mengusir rasa aneh yang saat itu menyerangku, aku tak ingin dibodohi dengan detakan sesaat ini. Tapi, hei apa yang kau lakukan, kau berjalan ke arahku dan duduk dengan santai di sampingku. Kau ingat itu?
Aku ingat saat kau mengeluarkan note kecil dari saku baju mu, lalu menulis tiga huruf ‘RDP’. Aku tertawa dan seketika fokusmu beralih dan membuat aku gugup.
Jabat tangan kita yang pertama dan kau menyebut nama mu ‘Raden’.
Ah, perasaan macam apa ini, apa yang membuatmu begitu berani. Bisa kau jelaskan? Ah, sudahlah aku tak pernah berharap kau menjelaskannya, karena memang saat itu pertemuan terakhir kita.
Sejujurnya aku tak ingin seminar itu berakhir, ada rasa senang terselip dihatiku saat kau dengan begitu santainya berbicara denganku. Mungkin bagimu itu biasa. Tapi untuk tipikal wanita pendiam sepertiku itu sebuah hal yang mampu menimbulkan genderang tak beraturan yang biasa disebut rasa.
Ya, biarlah rasa itu terjadi sekali, padamu si ketua pelaksana dengan nama palsu ‘Raden’.
Apa kau tahu, aku selalu tertawa tiap kali mengingat kejadian itu, apalagi setelah aku tahu, ‘RDP’ adalah singkatan dari namamu yang kulihat dari sertifikat seminar yang kau bagikan. Dan ‘R’ untuk ‘Raden’ sesungguhnya untuk ‘Rizki’.
Apakau pertemuan itu mengesankan untukmu, seperti yang aku rasakan?
Apa setelah itu kau dengan tidak sengaja pernah mengingat aku?
Aku tahu ini bodoh, tapi rasa itu benar-benar pernah ada, selama dua jam penuh seingatku, untukmu pria tinggi berbatik biru dengan nama palsu ‘Raden’.


 #30HariMenulisSuratCinta Hari ke-6
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sembunyikan Saya

Kepada mu yang masih menyembunyikan saya dari seluruh dunia. Kita pernah sama-sama saling bersilang jalan. Pernah saling bersisian. Pernah saling pergi. Tapi, apa yang semestinya jadi satu pasti akan kembali.  Kita pernah pula saling melewatkan. Pernah juga dengan berat hati melepas genggaman. Tapi, apa yang semestinya jadi milik kita akan datang tanpa pernah memberi tahu. Kini, saya senang berada disini. Di tempat yang ingin saya tetapkan menjadi rumah. Tempat saya pulang dari segala lelah. Tempat yang tidak seorang pun tahu, karena kamu dengan begitu tenang menempatkan saya dengan begitu rahasia di situ. Di hatimu.  Maka dengan surat ini, kamu harus bertanggung jawab karena sudah membuat saya betah. Kamu harus menjaga saya agar tetap berada di sisimu. Meyakinkan saya untuk tidak membuka pintu. Membuat saya jatuh hati setiap hari padamu. Sebagai hadiah, kamu dapat menikmati senyum saya yang manis semau mu😄 #30HariMenulisSuratCinta

Thank You Mozaik

Hai, Mozaik Al Isamer, putra sulung Bapak Insan Asyik.  Sekitar tiga hari yang lalu aku berkunjung ke typoganteng.com dan membaca tulisan yang berjudul "Ayah, Kau Terbaik!". Dan karena ulahmu menuliskan itu berhasil membuatku menangis dan merindukan ayahku.  Yang paling bisa buat mata berkaca-kaca di bagian yang ini, "Gue anak nggak berguna, kalau dia nggak bisa nikmatin masa tua nya." Aku rasa apapun yang berhubungan dengan orang tua akan selalu bersinggungan dengan air mata.  Sebelumnya, aku akan memperkenalkan diri dengan sejelas-jelasnya karena ini bukan surat kaleng. Namaku Vici Kurnia Ayuningtyas, putri sulung Bapak Muazin. Kelahiran Lampung, 22 Mei 1995. Seperti yang kamu tuliskan sebelumnya bahwa setiap Ayah akan selalu punya "keren" nya masing-masing. Tapi, pandangan anak perempuan dan laki-laki tentang Ayah akan sangat berbeda menurutku. Seperti nama Ayahku; Muazin, yang katanya arti nama itu adalah pria yang mengumandangkan adzan. Ta...

Menyukai Seseorang

Bukankah menyukai seseorang adalah hal yang mudah? Hanya cukup dengan menyukai nya, tanpa perlu tahu siapa mantan kekasihnya, pekerjaannya, apa yang sedang ada dalam pikiran nya. Hidup akan baik-baik saja sepertinya. Hari-hari hanya akan ada perasaan baik, mendoakan, mengharapkan. Dalam menyukai kita selalu diperbolehkan berharap, tidak ada yang bisa membatasi rasa dan harapan itu karena semuanya milikmu. Rasa ingin tahu tentang nya adalah yang paling menguasi pikiran mu. Tentang hobi nya,  makanan dan film favorit nya, tipe pasangan yang menjadi impian nya. Padahal rasa ingin tahu itu bisa melukai. Tapi, tiap kali kamu menyukai seseorang seolah kamu merasa jadi manusia yang paling bisa menahan rasa sakit. Kamu merasa baik-baik saja saat orang yang kamu sukai muncul di timeline mu.  Hadir sesekali lewat instastory. Hanya dengan itu kamu merasa jadi yang paling tahu tentang diri nya. Kamu merasa hari mu dipenuhi tawa dengan melihat foto nya yang sedang tersenyum,...