Sore
ini aku terbangun dengan bayanganmu dilangit-langit kamarku. Hei, diluar hujan,
dan aku makin mengingatmu. Kau selalu memanggilku wanita hujan karena senyumku
selalu mengembang kala langit menangis, selalu menghirup dalam-dalam bau tanah
yang baru saja tersiram hujan dan kau mengomel setelahnnya sebab aku selalu flu
karena terlalu bahagia.
Namun
hari ini, aku hanya ingin pergi sejauh mungkin
Melupakan
segalanya
Ini
terdengar lucu, namun aku benar-benar selalu mengingatnya.
Katamu,
aku wanita hujan itu?
Tapi
nyatanya aku tak pernah jatuh di duniamu.
Tak
pernah mampu menggenangi relungmu. Ya, aku hanya menetes dipermukaan dan mengering
tanpa pernah kau sadar. Bahkan jejak ku di genangan itu hanya kau balas dengan
bayangan yang tampak belakang.
Hai,
kamu lelaki hujanku, yang aku harap memang kenyataanya seperti itu.
Hanya
dengan rintikmu saja, kau mampu membuat segalanya bermekaran.
Bahkan
derasmu justru menebar kehangatan. Menciptakan sebuah lagu yang hanya aku
seorang yang dapat mendengar.
Bisakah
panggilan hujan itu tetap ada? Bisakah kau dan aku menjadi kita?
Menjadi
sepasang rintik yang dipertemukan diantara derasnya rintik yang dijatuhkan.
Tak
bisakah?
Atau
aku hanya akan menjadi genangan yang terisi saat kau datang dan menghilang
tanpa balasan.
Hei,
hujan tak kunjung henti, apa kau sedang merindukanku saat ini? Aku mohon kau
jawab ‘Ya’
#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-5
Komentar
Posting Komentar