Teruntuk
rindu yang bisu, mulailah terbata karena dia tak akan selamanya disana. Dia
bisa saja pergi menjelajah dunia.
Bagaimana
lagi kungkapkan segala rindu dan luka jika media pos ini tidak ada. Sedang kamu
lagi-lagi bukan pria yang peka. Aku ketakutan, bingung menyerang saat sadar ini
semua akan segera usai.
Sudah
tak ada lagi yang bisa kupercaya menyampaikan rasa selain melalui surat ini,
melalui langit, dan doa. Sayangnya, langit sedang sakit belakangan ini, dia
murung hingga sering menangis. Sedang doa tak akan pernah usai untukmu, untuk
rindu yang katamu selalu tergugu.
Masihkah kamu menunggu di depan jendela yang menganga? Termenung sesaat untuk
kemudian menertawakan aku yang gila karena rasa.
Sungguh,
tak ada sekalipun aku merasa pada rindu selain kamu.
Jika
purnama, bisakah menjelma sebagai dia, menghilangkan sedikit saja, rindu yang
melulu tak pernah bisa bertamu kerumahmu.
Aku
tak mau mengakhiri ini, karena sesungguhnya rindu ini pun enggan usai.
Jika
rindu teruntukmu justru menjelma luka, biarlah kurawat karena aku tetap bahagia
jika itu kamu yang memberinya, ya sekalipun itu luka.
#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-29
Komentar
Posting Komentar