Langsung ke konten utama

Kita yang bukan siapa-siapa



Kamu ingat saat kita menghabiskan sore dipantai? Kamu ingat perpustakaan?
Aku tidak memaksamu mengingatnya, karena kamu mungkin lupa hal-hal kecil seperti itu. Aku hanya sedang membuat daftar tentang apa yang pernah kita lakukan berdua. Semacam melakukan napak tilas tentang kita yang bukan siapa-siapa.
Tapi sudahlah, aku hanya mengenangnya bukan untuk membahasnya. Aku sedang malas terlibat dalam drama yang kau dan aku sendiri saja tidak tahu akan berujung kemana. Aku sedang tidak berminat membahas kisah kita yang kemarin.
Diam-diam A, aku selalu membuat daftar tentang apa yang harus aku syukuri dan aku suka dari kita. Kamu juga bisa mencobanya, daftar ini juga dapat membantumu melepaskan kenangan. Hahaha dari si dia. Tak apa ini hanya perkara waktu, dan aku tahu kamu mampu.
Daftar yang kubuat kali ini berjudul “Terimakasih”, A. Kubocorkan sedikit ya seperti apa daftarku. (1) Terimakasih telah membuatku tahu, rasa khawatir saat sesuatu yang buruk menimpamu. (2) Terimakasih telah membuatku tahu, rasa bahagia saat melihat matahari beriringan dengan senyummu. (3) Terimakasih telah membuatku tahu, singkatnya waktu saat aku terlalu nyaman dibahumu. (4) Terimakasih telah membuatku tahu, panasnya hati saat kaum hawa lain menarik fokusmu dariku. (5) Terimakasih telah membuatku tahu, betapa aku diam-diam pemilik hati yang tulus.
Kita yang bukan siapa-siapa ini bisa saja kan nantinya menjadi siapa-siapa. Bisa saja kan, tiba-tiba kamu terbangun dari tidurmu dan isi kepalamu hanya ada aku. Kemudian lima tahun kedepan kamu datang kerumahku membawa keluarga besarmu dan kita, ah sudahlah aku hanya bercanda. Itu hanya pikiran gila. Lupakan.
Tapi, siapa yang bisa tahu apa yang akan terjadi satu menit kedepan.
Siapa, uhm, sudahlah, entah berapa banyak “siapa” yang sudah aku tulis. Kamu mungkin sudah bosan. Aku tidak tahu bagaimana mengakhiri surat ini, karena sesungguhnya aku pun enggan ini berakhir. Aku hanya ingin kamu sedikit mengerti perihal mimpi dan khayalan tak penting ini, yang aku harap tentang kita dapat terjadi. 

#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-14

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sembunyikan Saya

Kepada mu yang masih menyembunyikan saya dari seluruh dunia. Kita pernah sama-sama saling bersilang jalan. Pernah saling bersisian. Pernah saling pergi. Tapi, apa yang semestinya jadi satu pasti akan kembali.  Kita pernah pula saling melewatkan. Pernah juga dengan berat hati melepas genggaman. Tapi, apa yang semestinya jadi milik kita akan datang tanpa pernah memberi tahu. Kini, saya senang berada disini. Di tempat yang ingin saya tetapkan menjadi rumah. Tempat saya pulang dari segala lelah. Tempat yang tidak seorang pun tahu, karena kamu dengan begitu tenang menempatkan saya dengan begitu rahasia di situ. Di hatimu.  Maka dengan surat ini, kamu harus bertanggung jawab karena sudah membuat saya betah. Kamu harus menjaga saya agar tetap berada di sisimu. Meyakinkan saya untuk tidak membuka pintu. Membuat saya jatuh hati setiap hari padamu. Sebagai hadiah, kamu dapat menikmati senyum saya yang manis semau mu😄 #30HariMenulisSuratCinta

Thank You Mozaik

Hai, Mozaik Al Isamer, putra sulung Bapak Insan Asyik.  Sekitar tiga hari yang lalu aku berkunjung ke typoganteng.com dan membaca tulisan yang berjudul "Ayah, Kau Terbaik!". Dan karena ulahmu menuliskan itu berhasil membuatku menangis dan merindukan ayahku.  Yang paling bisa buat mata berkaca-kaca di bagian yang ini, "Gue anak nggak berguna, kalau dia nggak bisa nikmatin masa tua nya." Aku rasa apapun yang berhubungan dengan orang tua akan selalu bersinggungan dengan air mata.  Sebelumnya, aku akan memperkenalkan diri dengan sejelas-jelasnya karena ini bukan surat kaleng. Namaku Vici Kurnia Ayuningtyas, putri sulung Bapak Muazin. Kelahiran Lampung, 22 Mei 1995. Seperti yang kamu tuliskan sebelumnya bahwa setiap Ayah akan selalu punya "keren" nya masing-masing. Tapi, pandangan anak perempuan dan laki-laki tentang Ayah akan sangat berbeda menurutku. Seperti nama Ayahku; Muazin, yang katanya arti nama itu adalah pria yang mengumandangkan adzan. Ta...

Menyukai Seseorang

Bukankah menyukai seseorang adalah hal yang mudah? Hanya cukup dengan menyukai nya, tanpa perlu tahu siapa mantan kekasihnya, pekerjaannya, apa yang sedang ada dalam pikiran nya. Hidup akan baik-baik saja sepertinya. Hari-hari hanya akan ada perasaan baik, mendoakan, mengharapkan. Dalam menyukai kita selalu diperbolehkan berharap, tidak ada yang bisa membatasi rasa dan harapan itu karena semuanya milikmu. Rasa ingin tahu tentang nya adalah yang paling menguasi pikiran mu. Tentang hobi nya,  makanan dan film favorit nya, tipe pasangan yang menjadi impian nya. Padahal rasa ingin tahu itu bisa melukai. Tapi, tiap kali kamu menyukai seseorang seolah kamu merasa jadi manusia yang paling bisa menahan rasa sakit. Kamu merasa baik-baik saja saat orang yang kamu sukai muncul di timeline mu.  Hadir sesekali lewat instastory. Hanya dengan itu kamu merasa jadi yang paling tahu tentang diri nya. Kamu merasa hari mu dipenuhi tawa dengan melihat foto nya yang sedang tersenyum,...