Sekitar
April...
Hari ini tepat satu minggu setelah
saya tahu seorang pria yang saya cintai dengan begitu sungguh selama dua tahun
mencintai wanita lain. Saya tentu saja hancur. Hidup memang selalu tahu bagaimana
cara nya menegur saat saya sudah keterlaluan dengan perasaan. Layar monitor
berkali-kali masih terlihat buram oleh air mata. Saya tidak bisa melupakan dia
begitu saja. Suasana kantor yang ramai mulai menyebalkan. Padahal biasa nya
menjadi sumber keributan saat bekerja cukup menyenangkan. Hari ini juga tepat
satu minggu sebelum posisi saya sebagai anak magang di kantor berakhir. Sungguh,
rasa nya saya hanya ingin kembali ke rahim ibu. Sedari pagi, suara Raisa
mengisi keheningan di ruangan kantor yang cukup besar. Menambah nyeri di dada. Mulai
ada senior yang berkeliling ke tiap meja hanya untuk sekedar bergurau atau
bahkan diam saja.
“Vi, lo mau ikut gathering ke Jogja?”
Suara seorang pria yang sudah mulai
saya hafal. Fauzan, Product Manager yang bertugas mendata semua keikutsertaan
gathering tahun ini. Saya tidak berminat sama sekali untuk ikut karena alasan
yang utama saya hanya anak magang yang mungkin tidak akan di perhitungkan di
kantor. Nyatanya, apa yang kita pikirkan memang belum tentu sesuai. Sebaik-baik
nya kantor mungkin ini kantor paling baik. Semua saling memperlakukan manusia
secara layak. Tidak ada kasta. Selama magang pun saya merasa diperhitungkan dan
selalu di beri kesempatan.
Fauzan masih berdiri di samping saya
dengan beberapa kaos warna-warni di tangan. Orange, hijau, dan biru. Dia seperti
memberi kode untuk memilih kepada saya.
“Gathering nya awal Mei, seminggu lagi
saya selesai magang. Jadi saya nggak mungkin ikut.” Ungkap saya jelas.
“Gue udah tanya Pak Rizal, kalau lo
mau ikut boleh kok, anggap saja hadiah magang.”
“Tapi kalau saya sudah dapat pekerjaan
saya nggak mungkin ijin untuk ikut gathering disini.”
“Lo yakin tanggal segitu sudah dapat
kerja?” Pertanyaan yang menyebalkan.
“InsyaAllah sudah.”
“Ya sudah kalau gitu. Nih pilih saja
kaos nya, meskipun nggak ikut anggap saja hadiah.” Tegas nya diakhiri tawa.
Rasanya berat sekali menolak ajakan
liburan gratis. Padahal saat-saat seperti ini saya butuh pergi. Dan Jogja pasti
menjadi tempat yang tepat. Sayang nya, itu bukan rezeki saya. Pukul sebelas
siang email masuk mulai tidak bisa di kendalikan. Pekerjaan memang tidak pernah
peduli sesakit apa perasaan yang sedang saya rasakan. Sedikit kacau karena saya
beberapa kali melakukan kesalahan. Untung nya kesalahan itu tidak terlalu
merugikan. Tapi, tetap saja nama nya kesalahan.
Hari ini harus menjadi hari terakhir
saya patah.
#Cerbung part1
Komentar
Posting Komentar