Langsung ke konten utama

Luar Angkasa

“Ada anak baru ya?” Suara Iva terdengar samar diantara ratusan jari yang saling beradu dengan keyboard. Saya langsung membuka email untuk semua staff, karena di kantor ini semua pengumuman akan disampaikan melalui email.

“Hello semua, kita ada tambahan keluarga baru nih, untuk kantor cabang Surabaya ya sebagai Service Engineer. Berikut biodata nya
Nama  : Muhammad Artla (panggil nya Art)
Tempat/tanggal lahir : Bengkulu, 2 Mei 1995

Mohon bantuan nya supaya Art betah dan dapat bekerja dengan baik.”

Diakhir email, foto pria itu dengan jaket almamater merah tersenyum manis. Saya ikut tersenyum melihat tanggal lahir kami hanya terpaut dua puluh hari. Saya hanya bisa menghela napas melihat foto pria itu di layar monitor. Dia beruntung sekali mendapat pekerjaan saat saya sebentar lagi hengkang. Saya beranjak keluar dan bergabung dengan rekan lain nya untuk mulai kebingungan memilih makan siang.

Art menjadi pembicaraan hangat saat makan siang. Dari mulai penampilan Art di foto yang cukup menarik sampai penempatan nya di Surabaya. Padahal kantor di Jakarta sepertinya juga butuh tambahan orang. Sebuah kebiasaan yang sudah pasti akan terjadi saat ada karyawan baru. Mungkin dulu saya juga sempat mereka bicarakan seperti ini.
Saya tidak tertarik sama sekali untuk ikut membicarakan pria itu. Mungkin karena badai di hati saya belum selesai. Saya lebih fokus untuk segera menghabiskan makanan, kembali bekerja dan segera pulang. Saya butuh sekali ketenangan.
“Nggak mau kenalan sama anak baru?” Tanya Iva yang juga sedang menghabiskan makanan di samping saya.
“Jauh di Surabaya, kalau dekat boleh.” Jawab saya sambil bercanda.
“Kan nanti ketemu waktu gathering ke Jogja.” Ujar Iva makin usil.
“Saya nggak ikut ke Jogja, Va.” Jawab saya sembari berdiri dan meninggalkan area makan karena percakapan ini akan menjadi panjang jika sudah melibatkan Iva. Saya masih bisa mendegar suara Iva bertanya mengapa saya tidak bisa ikut. Saya menghiraukan nya.
Belum ada yang kembali ke ruangan untuk bekerja. Saya memutuskan untuk menyetel lagu memecah sepi yang cukup menakutkan. Entah apa yang sedang saya pikirkan. Saya kembali mencari email tentang Art. Saya memperhatikan foto nya lama. Sangat lama. Lalu tersenyum.


Ya Tuhan tolong jaga perasaan saya.

#Cerbung part2

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sembunyikan Saya

Kepada mu yang masih menyembunyikan saya dari seluruh dunia. Kita pernah sama-sama saling bersilang jalan. Pernah saling bersisian. Pernah saling pergi. Tapi, apa yang semestinya jadi satu pasti akan kembali.  Kita pernah pula saling melewatkan. Pernah juga dengan berat hati melepas genggaman. Tapi, apa yang semestinya jadi milik kita akan datang tanpa pernah memberi tahu. Kini, saya senang berada disini. Di tempat yang ingin saya tetapkan menjadi rumah. Tempat saya pulang dari segala lelah. Tempat yang tidak seorang pun tahu, karena kamu dengan begitu tenang menempatkan saya dengan begitu rahasia di situ. Di hatimu.  Maka dengan surat ini, kamu harus bertanggung jawab karena sudah membuat saya betah. Kamu harus menjaga saya agar tetap berada di sisimu. Meyakinkan saya untuk tidak membuka pintu. Membuat saya jatuh hati setiap hari padamu. Sebagai hadiah, kamu dapat menikmati senyum saya yang manis semau mu😄 #30HariMenulisSuratCinta

Thank You Mozaik

Hai, Mozaik Al Isamer, putra sulung Bapak Insan Asyik.  Sekitar tiga hari yang lalu aku berkunjung ke typoganteng.com dan membaca tulisan yang berjudul "Ayah, Kau Terbaik!". Dan karena ulahmu menuliskan itu berhasil membuatku menangis dan merindukan ayahku.  Yang paling bisa buat mata berkaca-kaca di bagian yang ini, "Gue anak nggak berguna, kalau dia nggak bisa nikmatin masa tua nya." Aku rasa apapun yang berhubungan dengan orang tua akan selalu bersinggungan dengan air mata.  Sebelumnya, aku akan memperkenalkan diri dengan sejelas-jelasnya karena ini bukan surat kaleng. Namaku Vici Kurnia Ayuningtyas, putri sulung Bapak Muazin. Kelahiran Lampung, 22 Mei 1995. Seperti yang kamu tuliskan sebelumnya bahwa setiap Ayah akan selalu punya "keren" nya masing-masing. Tapi, pandangan anak perempuan dan laki-laki tentang Ayah akan sangat berbeda menurutku. Seperti nama Ayahku; Muazin, yang katanya arti nama itu adalah pria yang mengumandangkan adzan. Ta...

Menyukai Seseorang

Bukankah menyukai seseorang adalah hal yang mudah? Hanya cukup dengan menyukai nya, tanpa perlu tahu siapa mantan kekasihnya, pekerjaannya, apa yang sedang ada dalam pikiran nya. Hidup akan baik-baik saja sepertinya. Hari-hari hanya akan ada perasaan baik, mendoakan, mengharapkan. Dalam menyukai kita selalu diperbolehkan berharap, tidak ada yang bisa membatasi rasa dan harapan itu karena semuanya milikmu. Rasa ingin tahu tentang nya adalah yang paling menguasi pikiran mu. Tentang hobi nya,  makanan dan film favorit nya, tipe pasangan yang menjadi impian nya. Padahal rasa ingin tahu itu bisa melukai. Tapi, tiap kali kamu menyukai seseorang seolah kamu merasa jadi manusia yang paling bisa menahan rasa sakit. Kamu merasa baik-baik saja saat orang yang kamu sukai muncul di timeline mu.  Hadir sesekali lewat instastory. Hanya dengan itu kamu merasa jadi yang paling tahu tentang diri nya. Kamu merasa hari mu dipenuhi tawa dengan melihat foto nya yang sedang tersenyum,...