Langsung ke konten utama

Luar Angkasa



Suara langkah kaki terdengar mulai ramai menuju ruangan. Saya segera menghilangkan wajah Art dari layar. Jantung saya berdegup cepat sekali seperti orang yang ketakutan. Saya menarik napas panjang menenangkan diri.

Art menyebalkan sekali, bagaimana bisa membuat saya melakukan hal bodoh di tengah rasa patah hati.

Semua sibuk kembali dengan layar monitor. Sesekali suara telepon memecah keheningan lalu kembali diam. Saya sudah mulai gelisah karena waktu kerja yang berjalan lambat. Semoga tidak ada pekerjaan dadakan di waktu-waktu akhir seperti ini. Saya benar-benar ingin menidurkan perasaan. 

Saat saya mulai sibuk merapikan meja, telepon dengan nomor 300 memanggil. Pak Rizal, atasan pertama yang saya miliki. Manusia baik yang pantas mendapatkan posisi nya saat ini.

“Villa, bisa ke ruangan saya sekarang?” Tanya sekaligus perintah Pak Rizal. Saya rasa Pak Rizal akan membicarakan masa magang yang sebentar lagi akan selesai. Helaan napas saya cukup keras hingga membuat Iva tertawa.

“Santai Vi.” Ujar Iva menguatkan tapi menyebalkan.

Saya bergegas menuju ruangan beliau. Rasa nya tidak baik membuat salah satu orang baik di hidup saya menunggu. Hanya saja sedikit tidak tepat permintaan nya untuk bertemu saya di waktu jam kantor lima belas menit lagi usai. Sepertinya pembicaraan ini akan sangat panjang. Di atas meja nya banyak sekali kertas berserakan. Beliau tersenyum melihat saya dan mempersilakan duduk. 

“Seminggu lagi ya?” Tanya nya dengan tatapan jenaka.

“Iya Pak.” Jawab saya seadanya. 

“Saya harap kamu masih mau bekerja sama dengan saya di kantor ini.” Ujar nya seraya menyodorkan kontrak kerja penetapan pegawai tetap. “Kamu bisa bawa pulang dan di baca dulu. Besok pagi bisa di kembalikan ke saya. Saya harap sudah ada tanda tangan kamu disitu.” Ujarnya mantap penuh senyum. Saya tidak bisa menahan diri untuk tidak ikut tersenyum. 

“Terima kasih banyak Pak, saya tidak akan mengecawakan Bapak.” Jawab saya penuh keyakinan supaya beliau tidak berubah pikiran. Hal baik datang setelah hal-hal berat belum sempat terlewat. Saya pamit keluar dengan wajah penuh senyum. 

Allah mengabulkan doa saya untuk yang kesekian kalinya. 

Tiga bulan lalu saat saya mendapat tawaran magang di kantor ini, saya selalu berdoa supaya sebelum masa magang berakhir ada salah satu karyawan yang mengundurkan diri dan saya bisa menggantikan posisi nya. Selama tiga bulan juga saya selalu melamar pekerjaan di tempat lain dan tidak ada satupun yang cocok sampai hari ini. Ternyata Allah dengar dan simpan doa saya untuk di kabulkan di waktu yang tepat. Tidak ada alasan untuk saya menolak tawaran baik Pak Rizal. Saya rasa Allah juga hanya ingin saya menikmati apa yang sudah dia berikan.

Sore ini, setengah dari patah hati saya sembuh.


#Cerbung Part3

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sembunyikan Saya

Kepada mu yang masih menyembunyikan saya dari seluruh dunia. Kita pernah sama-sama saling bersilang jalan. Pernah saling bersisian. Pernah saling pergi. Tapi, apa yang semestinya jadi satu pasti akan kembali.  Kita pernah pula saling melewatkan. Pernah juga dengan berat hati melepas genggaman. Tapi, apa yang semestinya jadi milik kita akan datang tanpa pernah memberi tahu. Kini, saya senang berada disini. Di tempat yang ingin saya tetapkan menjadi rumah. Tempat saya pulang dari segala lelah. Tempat yang tidak seorang pun tahu, karena kamu dengan begitu tenang menempatkan saya dengan begitu rahasia di situ. Di hatimu.  Maka dengan surat ini, kamu harus bertanggung jawab karena sudah membuat saya betah. Kamu harus menjaga saya agar tetap berada di sisimu. Meyakinkan saya untuk tidak membuka pintu. Membuat saya jatuh hati setiap hari padamu. Sebagai hadiah, kamu dapat menikmati senyum saya yang manis semau mu😄 #30HariMenulisSuratCinta

Thank You Mozaik

Hai, Mozaik Al Isamer, putra sulung Bapak Insan Asyik.  Sekitar tiga hari yang lalu aku berkunjung ke typoganteng.com dan membaca tulisan yang berjudul "Ayah, Kau Terbaik!". Dan karena ulahmu menuliskan itu berhasil membuatku menangis dan merindukan ayahku.  Yang paling bisa buat mata berkaca-kaca di bagian yang ini, "Gue anak nggak berguna, kalau dia nggak bisa nikmatin masa tua nya." Aku rasa apapun yang berhubungan dengan orang tua akan selalu bersinggungan dengan air mata.  Sebelumnya, aku akan memperkenalkan diri dengan sejelas-jelasnya karena ini bukan surat kaleng. Namaku Vici Kurnia Ayuningtyas, putri sulung Bapak Muazin. Kelahiran Lampung, 22 Mei 1995. Seperti yang kamu tuliskan sebelumnya bahwa setiap Ayah akan selalu punya "keren" nya masing-masing. Tapi, pandangan anak perempuan dan laki-laki tentang Ayah akan sangat berbeda menurutku. Seperti nama Ayahku; Muazin, yang katanya arti nama itu adalah pria yang mengumandangkan adzan. Ta...

Menyukai Seseorang

Bukankah menyukai seseorang adalah hal yang mudah? Hanya cukup dengan menyukai nya, tanpa perlu tahu siapa mantan kekasihnya, pekerjaannya, apa yang sedang ada dalam pikiran nya. Hidup akan baik-baik saja sepertinya. Hari-hari hanya akan ada perasaan baik, mendoakan, mengharapkan. Dalam menyukai kita selalu diperbolehkan berharap, tidak ada yang bisa membatasi rasa dan harapan itu karena semuanya milikmu. Rasa ingin tahu tentang nya adalah yang paling menguasi pikiran mu. Tentang hobi nya,  makanan dan film favorit nya, tipe pasangan yang menjadi impian nya. Padahal rasa ingin tahu itu bisa melukai. Tapi, tiap kali kamu menyukai seseorang seolah kamu merasa jadi manusia yang paling bisa menahan rasa sakit. Kamu merasa baik-baik saja saat orang yang kamu sukai muncul di timeline mu.  Hadir sesekali lewat instastory. Hanya dengan itu kamu merasa jadi yang paling tahu tentang diri nya. Kamu merasa hari mu dipenuhi tawa dengan melihat foto nya yang sedang tersenyum,...