Hai
Vi
Saya
yakin saat kamu bangun dari tidurmu, kamu akan tertegun mendapati surat ini di
meja belajarmu. Tentu saja. Kamu adalah gadis dengan sejuta talenta yang pernah
saya tahu. Dan kamu menyadarkan saya, dibalik tubuh sedikit gemuk yang kamu
miliki, terdapat bibit-bibit imajinasi yang perlu terus digali dan
dikembangkan. Dan untuk yang ke sekian kalinya, saya merasa beruntung karena
dipilih Tuhan masuk ke tubuh ini.
Tapi
Vi, lagi-lagi hidup ini harus seimbang antara raga dan ruh, sedang kamu
pemegang kendali penuh. Sejak penolakan naskah yang kalau tidak salah hitung,
ini yang kedelapan kali kan, Vi? Kamu seperti berjalan mundur, menyerah dan
pasrah. Kamu marah pada semuanya, menyalahkan sesuatu atas hal yang belum kamu
mulai. Saya mulai tidak nyaman dengan kamu yang mulai terbiasa dengan rasa
malas dan keterlambatan. Saya ingin kamu yang dulu, yang selalu tepat deadline.
Terkadang saya ingin menghukum kamu dengan pergi dari ragamu minimal dua hari
lamanya, tapi justru saya yang dihukum Tuhan nantinya, karena bermain-main
dengan nyawa anak yang paling disayangNya. Saya hanya sudah terbiasa Vi dengan
kamu yang tekun dan cepat dalam menyelesaikan masalah. Saya bosan jika hanya
kamu ajak bangun, makan, menulis surat cinta ini, dan berkhayal. Saya ingin
sesuatu yang menantang Vi, seperti kembali berkutat dengan lembar-lembar cerita
yang kita buat bersama.
Yang
paling saya syukuri dari perubahan sikapmu adalah rasa malas itu tidak menjalar
pada waktu kamu harus menemui penciptamu. Kamu tetap berbicara dan memohon padaNya
dengan khusyuk, sedang saya juga tetap memanjatkan doa untukmu padaNya. Doa itu
masih tetap sama. Saya meminta padaNya supaya kamu dikembalikan pada masa
dimana kamu punya semangat untuk impianmu.
Saya
tahu kamu lelah dengan berbagai cobaan, mulai dari penolakan naskah yang tak
pernah selesai sampai pergolakan hati yang tidak berhenti. Tapi, saya benci
melihat kamu hanya mengeluh tanpa ada niatan untuk memperbaiki sesuatu yang
belum gagal. Namun, kamu selalu melebih-lebihkan dalam mengartikan kegagalan.
Vi,
hidup bukan hanya perihal meratapi kegagalan, tapi juga kemauan untuk terus
mengejar sesuatu yang sudah kamu mimpikan sejak dulu.
Saya
tahu, kamu membutuhkan seseorang untuk diajak bicara. Bicaralah Vi, karena
sesungguhnya kamu hanya ingin berbincang dengan dirimu sendiri, meluapkan
segala kekalutan, ketakutan yang entah dari mana tiba-tiba datang.
Saya
selalu ingat setiap kali kamu bersemangat, menasehati rimbawan tinggimu untuk
menyelesaikan skripsi nya. Sayangnya, itu tidak kamu lakukan pada dirimu
sendiri. Kamu sibuk memberi dukungan untuk orang lain, padahal dirimu lah yang
paling membutuhkan.
Lawan
lah Vi, rasa malas itu. Dia akan pergi jika kamu tidak memanjakannya. Jemput lagi
Vi, mimpi mu yang sempat terhenti dipersimpangan itu, lanjutkan lagi perjalanan
ini, masih panjang dan banyak kelokan. Jangan takut, karena ada saya disini Vi,
didalam dirimu, didalam tubuhmu yang tak akan pernah pergi sekalipun keadaan
membuatmu terpuruk sendiri.
Jika
nanti kamu kembali pada masa menyedihkan seperti ini, baca surat ini lagi Vi.
Karena surat ini sesungguhnya dari dirimu sendiri dan tak akan pernah sampai
pada siapa pun kecuali kamu, tempat Tuhan menitipkan saya pada wanita penuh
talenta.
#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-13
Sedikit menghilangkan penat dengan tumpukan aksara yang tersusun rapi dalam suratmu :)
BalasHapusSyukurlah :) semoga segala penat mu cepat memuai dan hilang yaa :) . Lagi-lagi terimakasih
BalasHapus