Hai Re,
Apa kabar? Masihkah kebencian kamu kembang biakan?
Saya harus bagaimana supaya maaf saya kamu terima.
Hari ini saya ingin sekali pergi keluar. Menikmati jalanan. Berkeliling.
Tapi, saya tidak mau sendiri.
Seandainya kamu sedang tidak marah tentu saja kita sudah berada di tepi pantai saat ini.
Kenyataannya, dari pagi hingga detik saya menuliskan surat ini, saya masih berada di ruangan 4×4 yang begitu dingin. Saya berlindung di bawah selimut, padahal cuaca di luar sedang bersenang-senang.
Demam kali ini menyebalkan sekali, dan kamu salah satu penyebabnya.
Saya tidak tahu kamu sekarang dimana. Sedang apa. Memikirkan saya atau tidak. Atau memang saya sudah tidak ada artinya di hidupmu. Menyedihkan melihat foto kita berdua. Senyum yang biasanya selalu ada, kini tenggelam di lautan paling dalam.
Bahkan untuk menghubungimu pun saya mulai takut. Ternyata kehilangan kamu lebih menyakitkan di banding ketiadaan seseorang yang selalu saya ceritakan.
Lemas sekali badan saya, Re.
Saya butuh kamu sekarang.
Kamu tidak perlu melakukan ini harusnya, hanya untuk memberi tahu saya bahwa kamu lebih berarti dari keegoisan saya.
Dan saat ini, Re. Rindu saya begitu besar dari ego. Bahkan ego saya yang katamu tak mampu di tampung dunia ini mengakui kerinduan ini.
Re, maafkan saya.
Saya rindu, Re.
#30HariMenulisSuratCinta
Apa kabar? Masihkah kebencian kamu kembang biakan?
Saya harus bagaimana supaya maaf saya kamu terima.
Hari ini saya ingin sekali pergi keluar. Menikmati jalanan. Berkeliling.
Tapi, saya tidak mau sendiri.
Seandainya kamu sedang tidak marah tentu saja kita sudah berada di tepi pantai saat ini.
Kenyataannya, dari pagi hingga detik saya menuliskan surat ini, saya masih berada di ruangan 4×4 yang begitu dingin. Saya berlindung di bawah selimut, padahal cuaca di luar sedang bersenang-senang.
Demam kali ini menyebalkan sekali, dan kamu salah satu penyebabnya.
Saya tidak tahu kamu sekarang dimana. Sedang apa. Memikirkan saya atau tidak. Atau memang saya sudah tidak ada artinya di hidupmu. Menyedihkan melihat foto kita berdua. Senyum yang biasanya selalu ada, kini tenggelam di lautan paling dalam.
Bahkan untuk menghubungimu pun saya mulai takut. Ternyata kehilangan kamu lebih menyakitkan di banding ketiadaan seseorang yang selalu saya ceritakan.
Lemas sekali badan saya, Re.
Saya butuh kamu sekarang.
Kamu tidak perlu melakukan ini harusnya, hanya untuk memberi tahu saya bahwa kamu lebih berarti dari keegoisan saya.
Dan saat ini, Re. Rindu saya begitu besar dari ego. Bahkan ego saya yang katamu tak mampu di tampung dunia ini mengakui kerinduan ini.
Re, maafkan saya.
Saya rindu, Re.
#30HariMenulisSuratCinta
orangya baca ga nih? semoga segera berbalas ya
BalasHapus-Ikavuje