Tidak setiap hari, namun saat dia datang, hari seketika menjadi lebih menyenangkan.
Tidak setiap waktu,
namun saat dia hadir, senyum selalu terukir.
Tidak selalu berbalas,
namun selalu ada harap yang semoga untuk kita menjadi nyata.
Ya, pesan-pesan singkat
dari-mu.
Bukan tak ingin
bertemu. Lagi-lagi jarak pemegang kendali penuh.
Ada sesuatu yang
mengganjal malam ini dan yang aku tahu, aku hanya perlu menuliskannya. Perkara
kamu mengetahuinya atau tidak itu bukan urusanku.
Katamu, aku harus
pandai membaca dan memahami sebuah pesan.
Supaya nantinya
dipermudah dalam perasan dan pernyataan.
Pesan-pesanmu selalu
sampai ke alamat yang tepat. Apa pesanku sampai dengan selamat di tempatmu?
Ini tidak adil bukan?
Namun aku percaya Allah
selalu tepat waktu. Pesan dariku akan sampai padamu nanti. Saat hatimu sudah
benar-benar tidak berpenghuni.
Sejak hari itu, tak
pernah ada pesanmu yang terhapus dari memoriku. Sejak kamu menjanjikan puisi
untuk hadiah ulang tahunku.
Aku tak pernah berharap
kamu membayar janjimu, supaya aku tetap menjadi alasan datangnya darimu
pesan-pesan.
Meski hanya
alasan-alasan mengapa puisi mu belum juga datang. Biarlah, aku menikmati segala
keterlambatan ini.
Karena aku tak ingin
puisi untukku beraroma pria belum mandi.
Tak ingin puisi untukku
mengandung riba.
Biarlah kamu selalu
mengulur waktu, mengalihkan perhatianku untuk sejenak melupakan puisi itu.
Karena saat bersamamu,
memperlambat waktu aku mau.
Kali ini, pesan dariku
ingin menceritakan beberapa pesan darimu.
Kopi dan hutang puisi.
Selalu ada disela pesan
yang terjadi. Terkadang kusengaja namun sesekali kamu yang mengungkitnya.
Gunung Munara, tempat
impianku melihat jutaan cahaya dari sinar buatan dan langit malam. Bersamamu
tentunya.
Masa lalumu. Bukan
mengingatnya, katamu. Namun, kopimu selalu menjadi teman saat diajak berkencan
dengan masa lalu. Karena bagimu masa lalu selalu seru dijadikan bahan empuk
untuk disalah-salahkan.
Tapi, sepertinya kamu
lupa. Kopi juga mampu mengaduk kenangan yang kau kencani berkali-kali.
Tentang ‘si botak’
moodboster ‘kita’ kurasa. Yang selalu mampu membuat tawa kita bersuara bersama.
Sedikit bagian pesan
yang begitu spesial untukku. Bukan karena begitu sering dibahas, namun karena
itu kamu, pengirim semua pesan penuh candu.
Jika bisa rindu ini
mengharuskan ada kamu.
Tapi, jika hanya pesan
yang mampu membayar segala kekalutan, aku rela seharian menunggu. Meskipun
terkadang tak berbalas.
Semua orang adalah
pembawa pesan yang ingin dipahami, seperti pesanmu yang aku paham tanpa ragu.
Begitu pun ingin ku, supaya pesan ini sampai pada pemilik yang seharusnya,
kamu.
Selayaknya rindu, pesan
pun selalu ingin berbalas dan sampai di alamat yang tepat, hatimu.
Karena jika diberi satu
permintaan. Aku akan minta supaya diberi keberanian untuk menyatakan perasaan.
Komentar
Posting Komentar