Langsung ke konten utama

Ini, tetap cinta bukan?



Kau adalah hidupku
Lengkapi diriku
Oh sayangku kau begitu.. sempurna
Bait terakhir lagu Sempurna dari Andra and the Backbone berhasil membuat para gadis berteriak histeris. Bahkan banyak gadis yang berani maju ke depan panggung untuk memberikan bunga kepada si empunya suara merdu berparas tampan itu. Di tribun paling atas Dissya hanya mampu meremas tangannya menahan gejolak yang orang sebut sebagai rasa. Vinda  menatapnya dengan tatapan heran.
“Lo kenapa? Nahan pipis?” Dengan raut muka yang menyebalkan. Yang ditanya malah sibuk membidik Dodo si penyanyi sekaligus pemain gitar tampan itu dengan kamera i-phone nya. Merasa tidak ditanggapi Vinda pun mendengus kesal dan membiarkan Dissya sibuk dengan aktivitasnya. Hari itu ada rasa yang mencoba mencuat ke permukaan, namun seorang gadis berdarah Padang mencoba merahasiakannya.
“Pagi pak Jumar.” Sapa dua orang gadis saat memasuki pelataran kampus untuk yang ke enam kalinya. Dengan adegan mirip detektif dua gadis itu mencari satu-satunya motor vespa berwarna merah muda di kampus. Setelah menemukan yang dicari salah satu gadis mengeluarkan secarik kertas berwarna orange dan satu buah permen lollypop.
“Buruan tempelin sebelum Pak Jumar curiga.” Desak gadis berpostur gemuk.
“Ya sabar dong, butuh skill nih gue. Lo awasin Pak Jumar aja.” Yang ini komentar gadis yang lebih kurus. Setelah berhasil menempelkan kertas dan lollypop dua gadis tersebut bersembunyi dibalik pohon besar yang tak jauh dari tempat parkir. “Lama banget Dodo keluar nya?” Keluh kedua gadis tersebut. Sudah lebih dari sepuluh menit mereka bersembunyi yang ditunggu belum muncul juga. Justru Pak Jumar  yang berjalan ke arah motor vespa merah muda dan membaca kalimat yang ada di kertas orange yang kemudian berlalu diikuti dengan senyuman dan decakan. Dua gadis itu hanya bisa menghela napas lega.
“Lo sejak kapan naksir Dodo?” Tanya Citra dengan tatapan ala medusa. Yang ditanya justru sibuk membongkar tas nya mencari sesuatu. Belum sempat Dissya memberikan alasan, mata Citra membulat saat melihat orang yang ditunggu keluar dari gedung kuliah menuju tempat parkir. Dissya sudah siap dengan kameranya membidik ekspresi pria yang di tunggu sedari tadi. Citra juga was-was menunggu apa yang terjadi saat Dodo menemukan surat dan lollypop di jok vespanya. “Gue duluan ya bro.” Sapa temannya saat melewati Dodo yang masih memperhatikan sesuatu yang tertempel di jok motornya dan langsung memasukkannya ke dalam jaket. Dissya berhasil mendapatkan beberapa pose Dodo yang katanya berekspresi tapi menurut gue datar tanpa nyawa.
“Siapa sebenernya yang nempelin surat dan lollypop ini? Gue itung-itung udah tiga puluh delapan kali kalo nggak salah si inisial D ngirim beginian.” Celoteh Dodo kesal. Surat dan lollypop itu pun tergeletak dilantai begitu saja saat Dodo melihat gitar kesayangannya.
Drt…Drt.. Drt
Ponsel Dodo bergetar heboh, mengganggu konsentrasinya saat berlatih di studio musik miliknya. “Halo.” Sapanya dengan ramah.
Diseberang sana seorang gadis mengumpulkan keberanian untuk membalas sapaan si pemain gitar tampan itu. “Halo.” Suaranya terdengar serak. “Ini Dodo? Gue Dissya.” Lanjutnya dengan detak jantung yang tak beraturan. “Gue ganggu?” Sergapnya lagi dengan cepat.
Dodo menatap layar handphone nya dengan heran, kemudian menjawab pertanyaan gadis diujung telepon itu. “Iya gue Dodo. Disna siapa ya?” Tanyanya cuek.
Helaan napas Dissya terdengar cukup kuat membuat Dodo mengernyitkan alis mata. “Gue Dissya, bukan Disna. Dissya, Dissya.” Ulangnya lagi dengan lebih jelas. Dodo tak menjawab untuk beberapa saat kemudia telepon terputus.
Tut tut tut.
Sialan. Dissya membanting handphone nya diatas kasur kemudian meracau tidak jelas. “Gue kan cuma mau kenal, cuma mau bilang kalo gue yang tadi nempel surat sama lollypop, apa susahnya ngomong sih, kenapa malah dimatiin teleponnya. Ngeselin ba-.” Kalimat Dissya terhenti saat wanita paruh baya membuka pintu kamarnya.
“Kamu kenapa?” Tanya mama nya dengan tatapan penuh selidik.
“Eh, mama, ketuk pintu dulu dong ma. Eh, enggak ma, ini lagi latihan buat teater minggu depan. Serius.” Jawabnya seraya mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah ke udara. “Kenapa ma?” Sergahnya sebelum mamanya makin curiga.
“Tuh ada Citra dibawah.” Tanpa aba-aba Dissya sudah melesat keluar menemui sahabatnya.
“Cit, ada ap-.” Sebelum Dissya menyelesaikan kalimatnya, Citra sudah lebih dulu memukul kepala gadis dengan postur tubuh yang lebih besar darinya. “Aw, apa-apaan sih lo. Sakit tahu.” Sergahnya sambil mengusap kepalanya dan berusaha melayangkan balasan.

bersambung..

#NulisRandom2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sembunyikan Saya

Kepada mu yang masih menyembunyikan saya dari seluruh dunia. Kita pernah sama-sama saling bersilang jalan. Pernah saling bersisian. Pernah saling pergi. Tapi, apa yang semestinya jadi satu pasti akan kembali.  Kita pernah pula saling melewatkan. Pernah juga dengan berat hati melepas genggaman. Tapi, apa yang semestinya jadi milik kita akan datang tanpa pernah memberi tahu. Kini, saya senang berada disini. Di tempat yang ingin saya tetapkan menjadi rumah. Tempat saya pulang dari segala lelah. Tempat yang tidak seorang pun tahu, karena kamu dengan begitu tenang menempatkan saya dengan begitu rahasia di situ. Di hatimu.  Maka dengan surat ini, kamu harus bertanggung jawab karena sudah membuat saya betah. Kamu harus menjaga saya agar tetap berada di sisimu. Meyakinkan saya untuk tidak membuka pintu. Membuat saya jatuh hati setiap hari padamu. Sebagai hadiah, kamu dapat menikmati senyum saya yang manis semau mu😄 #30HariMenulisSuratCinta

Thank You Mozaik

Hai, Mozaik Al Isamer, putra sulung Bapak Insan Asyik.  Sekitar tiga hari yang lalu aku berkunjung ke typoganteng.com dan membaca tulisan yang berjudul "Ayah, Kau Terbaik!". Dan karena ulahmu menuliskan itu berhasil membuatku menangis dan merindukan ayahku.  Yang paling bisa buat mata berkaca-kaca di bagian yang ini, "Gue anak nggak berguna, kalau dia nggak bisa nikmatin masa tua nya." Aku rasa apapun yang berhubungan dengan orang tua akan selalu bersinggungan dengan air mata.  Sebelumnya, aku akan memperkenalkan diri dengan sejelas-jelasnya karena ini bukan surat kaleng. Namaku Vici Kurnia Ayuningtyas, putri sulung Bapak Muazin. Kelahiran Lampung, 22 Mei 1995. Seperti yang kamu tuliskan sebelumnya bahwa setiap Ayah akan selalu punya "keren" nya masing-masing. Tapi, pandangan anak perempuan dan laki-laki tentang Ayah akan sangat berbeda menurutku. Seperti nama Ayahku; Muazin, yang katanya arti nama itu adalah pria yang mengumandangkan adzan. Ta...

Menyukai Seseorang

Bukankah menyukai seseorang adalah hal yang mudah? Hanya cukup dengan menyukai nya, tanpa perlu tahu siapa mantan kekasihnya, pekerjaannya, apa yang sedang ada dalam pikiran nya. Hidup akan baik-baik saja sepertinya. Hari-hari hanya akan ada perasaan baik, mendoakan, mengharapkan. Dalam menyukai kita selalu diperbolehkan berharap, tidak ada yang bisa membatasi rasa dan harapan itu karena semuanya milikmu. Rasa ingin tahu tentang nya adalah yang paling menguasi pikiran mu. Tentang hobi nya,  makanan dan film favorit nya, tipe pasangan yang menjadi impian nya. Padahal rasa ingin tahu itu bisa melukai. Tapi, tiap kali kamu menyukai seseorang seolah kamu merasa jadi manusia yang paling bisa menahan rasa sakit. Kamu merasa baik-baik saja saat orang yang kamu sukai muncul di timeline mu.  Hadir sesekali lewat instastory. Hanya dengan itu kamu merasa jadi yang paling tahu tentang diri nya. Kamu merasa hari mu dipenuhi tawa dengan melihat foto nya yang sedang tersenyum,...