Kepadamu yang sedang
mensyukuri sakit yang datang. Katamu, nikmatnya rasa sakit ini, mengingatkanmu
tentang dosa-dosa.
Dari pesanmu aku tahu,
sehat sedang tidak berada didekatmu.
Sepertinya kamu
kelelahan, dari ceritamu melalui pesan singkat malam itu.
Kesibukanmu dengan
acara #Bukber45Akbar , yang aku tau kamu ditempatkan di sie acara hingga
sibukmu mendapatkan tempat lebih dari yang lain.
Kesibukanmu dengan
kerja praktek dari kampusmu yang menempatkanmu pada Madrasah Ibtidaiyah (MI)
atau sekolah dasar yang harus kamu selesaikan dalam kurun waktu sekitar dua
bulan.
Kesibukanmu dengan kopi
dan puisi yang membuatmu lupa cara tidur malam karena tenagamu terserap habis
untuk semua penat yang kamu kerjakan dengan penuh tanpa mengeluh.
Kamu bingung mengapa
pengetahuan ku tentangmu berlebih?
Bukan karena aku
menguntitmu atau seharian mengamati akun media sosialmu. Tapi karena itu kamu,
bukan karena apapun.
Mungkin catatan kecil
ini tidak akan menyembuhkanmu, tidak akan membuat nikmat sakitmu berkurang. Sedang
rasa yang menumpuk ini tidak akan memulihkanmu.
Namun, aku ingin sekali
menemanimu, ikut merasakan nikmat sakitmu, ingin memelukmu lewat bait-bait doa.
Menjagamu dalam heningku karena hanya lewat itu aku bisa merasa memilikimu.
Pada ragamu yang sedang
lemah, pada tubuhmu yang sedang penuh peluh kamu harus kuat untuk tetap ingat
bahwa aku mencintaimu dengan segala yakin, dengan segala harap, dengan segala
semoga supaya kamu mengerti rasanya mencintai seorang diri.
Aku adalah hati yang
menunggu mu disini.
Aku ingin menjadi
alasan kamu bertahan untuk tetap sehat.
Aku ingin menjadi
alasan kamu menunggu hujan karena tahu aku pecinta hujan.
Aku ingin menjadi
alasan ketika ibumu heran senandung lagu terdengar dari kamarmu.
Aku ingin menjadi
alasan mengapa kamu harus beralasan.
Karena aku ingin sekali
menjadi bagian yang harus kamu perhitungkan dalam rencana hidupmu. Menjadi bagian
dari sedih dan bahagiamu.
Lagi-lagi aku tidak
yakin catatan ini mampu membuatmu pulih dari sakit. Namun,setidaknya jika suatu
saat nanti kamu membacanya, ini dapat membuatmu tersenyum. Ya, suatu saat
nanti.
Saat hatimu merasa
lelah dan ia tahu yang ia butuh adalah rumah.
Meski aku tak bisa
memelukmu, tak bisa menemani sepanjang rasa sakitmu, tapi aku selalu disini
untukmu.
Mencintaimu setiap hari
dalam hening hati. Mencintaimu dalam diam dalam pikiranku sendiri.
Semoga utuh senyummu
membawa pada kesembuhan tubuhmu.
Komentar
Posting Komentar