Selamat mengulang tahun, Happy birthday coffee addict. Happy birthday kamu yang menjadikan kopi
diatas segala yang maha membuat tenang, namun tidak menduakan Tuhan.
Katamu coffee is
language.
Semoga hari ini
ditanggal yang sama setiap tahunnya selalu spesial untukmu dan ‘untukku’,
semoga yaa.
Aku terlalu takut
menunjukkan rupa-rupa doa bahagia penuh harap untukmu.
Akhirnya aku hanya
harus merasa puas mengutarakan semunya disini, dalam pikiranku sendiri.
Apa kopimu pagi ini
sudah memberimu selamat atas berkurangnya umurmu yang akan kau habiskan mungkin
tanpa aku. Hari ini aku ingin sekali menjadi bagian dari segala yang kau
kerjakan.
Menjadi selimut yang
menghangatkanmu dari angin pagi
Menjadi handphone mu,
benda yang pertama kau sentuh saat terbangun.
Menjadi sikat gigimu
yang dapat memerangkapmu dalam dunia hening tanpa pengganggu.
Menjelma menjadi
secangkir kopi kesukaanmu yang akan mengendap dalam pikiranmu dan membuat candu
untukmu.
Menjelma menjadi semut
yang menyukai sisa kopi di cangkirmu. Semut itu beruntung menurutku,
dijadikanmu fokus dalam ketenanganmu.
Entah ini perasaan apa,
tidak ada keberanian meski hanya sedikit dariku untuk melantunkan doa secara
langsung untukmu. Bukan karena kamu menakutkan, tapi karena begitu spesial.
Saat aku mengirimkan
pesan singkat untukmu yang berisi banyak doa, percayalah aku harus seharian
memberanikan diri mengirimnya, meski harus mati-matian terlihat biasa. Apa kamu
memperhatikan doa yang kukirim malam itu, kataku, mendoakanmu adalah hobiku.
Namun sepertinya kamu menangkap maksud berbeda dari apa yang coba ku ungkap.
Katamu aku memiliki
hobi bagus, mendoakan kebaikan banyak orang. Aku, sedikit patah hati. Tapi
sudahlah kebahagianmu di hari spesial ini sudah menutupi segala duka ku.
Selamat ulang tahun ru,
semoga kesehatan selalu sejalan dengan langkah kakimu. Kemudahan selalu
mengiringi segala urusanmu. Kesuksesan berjalan beriringan denganmu. Tetap
mengagumkan ya seperti puisimu yang selalu kujadikan favorit.
Bisa buka hatimu
sedikit? Aku kesusahan berjalan kesana karena jalanya terlalu sempit. Aku sudah
tidak mau lagi menjadi teman ‘biasa’ mu.
Bukan waiters, tapi
wanita yang secara perlahan kau cintai dengan begitu tenang, seperti kopi di
harimu.
Atas segala percakapan
yang pernah terjadi diantara dua cangkir kopi yang dingin, aku mencintai kopi
yang kuracik sendiri dan melantunkan harap agar dapat meracik kopi yang kau
cintai.
Bodoh!!
Aku menulis sepanjang
ini dan kamu mungkin tak akan pernah tahu aku menulis ini untukmu. Aku selalu
cemburu pada kopi yang setiap hari kau kencani. Katamu, minum kopi seperti
mencintai, bagaimana mungkin bisa berhenti sedang dia yang paling mampu
menenangkan hati. Tapi ru, apa kamu tahu, yang paling mampu menenangkan juga
paling mampu melemahkan.
Lucunya, kamu selalu
mengingatkan ku untuk tidak terlalu banyak mendekati kopi, padahal kamu sendiri
tidak bisa berhenti.
Sudahlah, aku tidak
ingin berlama-lama mengingat kamu dan secangkir kopimu yang candu itu, terlalu
menyedihkan rasanya.
Selamat ulang tahun my
coffee. Semoga kamu bisa seperti kopi yang dinanti dan dapat meningkatkan
kualitas hari. Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun om kopi. Selamat ulang
tahun juragan ayam. Selamat ulang tahun pak guru.
Aku menuliskan ini tiga belas hari setelah ulang tahunmu, 16 Juni. Bukan tak ingin kamu tahu hanya ingin mempersiapkan diri untuk segala resiko yang terjadi setelah ini.
Aku menuliskan ini tiga belas hari setelah ulang tahunmu, 16 Juni. Bukan tak ingin kamu tahu hanya ingin mempersiapkan diri untuk segala resiko yang terjadi setelah ini.
Komentar
Posting Komentar