“Kan gue udah bilang jangan
telepon Dodo dulu. Lo gak sabaran sih Diss.” Repet Citra dengan cepat. “Dodo
itu tipe cowok yang paling gak suka sama pengagum rahasia, dia lebih suka
kenalan secara terang terangan. Menurut dia pengagum rahasia itu lemah. Gue juga barusan
dapet infonya tadi waktu ketemu dia di studio musik pas banget saat lo nelepon
dia.” Yang dijelaskan hanya memberikan tatapan kosong. “Terus gue harus gimana
Cit?” Tanyanya dengan nada suara pasrah. Citra mengajak Dissya duduk di sofa
ruang tamunya, Citra menjelaskan bahwa dia sudah memberi tahu secara detail
mengenai sosok Dissya yang selama ini begitu mengaggumi pangeran ikan bergitar.
Itulah sebutan Dissya untuk Dodo, setelah Dissya tahu Dodo mahasiswa jurusan
budidaya perikanan.
“Dia welcome banget kok Diss waktu gue cerita soal lo. Dia cuma ngerasa
keganggu sama surat dan lollypop misterius itu.” Tatap Citra lembut sambil
mengusap punggung Dissya. “Saran gue sih, lo telepon dia nanti malam, terus
ngomong deh semua yang lo rasain.”
“Masa gue yang ngomong suka
duluan?” Tanggap Dissya cepat.
“Itu pilihan lo. Gue pulang ya.
Tugas gue selesai. Gue ada jadwal kencan.” Pamit Citra dengan cengiran lebar di
bibirnya, kemudian pergi menghambur ke luar gerbang.
“Cit.” Panggil Dissya cepat. “Gue
suka sama Dodo dari acara akustik yang lo adain satu tahun lalu, dan selama itu
juga gue cuma jadi orang lemah seperti yang Dodo bilang.” Semburat wajah sendu
terlihat di wajah gadis Padang itu. Citra mengela napas dan memberikan senyuman
yang tulus untuk sahabatnya. Ada rasa bersalah dalam hatinya, dia
menyembunyikan suatu kebenaran bahwa Dodo sudah memiliki seorang tambatan hati.
“Seandainya gue tahu lebih awal
Diss.” Ucap Citra dalam hatinya.
Malam itu bulan, bintang, serta
balkon yang sunyi menjadi saksi keberanian seorang pengagum rahasia. Dissya pun
menghela napas panjang meyakinkan diri bahwa malam ini adalah akhir dari penantiannya
setelah banyaknya kertas orange bertuliskan kata penyemangat dan lollypop yang
telah ia kirimkan untuk seorang pria yang berhasil membuat dunia nya hidup.
Nada dering telepon pun tersambung. Detak jantung Dissya makin tak beraturan.
“Halo.” Dengan suara yang tiba-tiba serak Dissya memberanikan diri.
“Halo, Dissya ya?” Tanyanya tanpa
basa-basi. Darah gadis itu pun berdesir cepat. Pita suaranya pun seolah hilang.
“Gue tahu dari Citra.” Sambung Dodo yang kali ini diakhiri dengan dehaman yang
cukup keras. Pria itu berusaha menetralkan suasana yang cukup tegang. “Dan gue
udah nunggu telepon lo dari tadi. Gue harus ngelurusin semuanya sama lo.”
Sambung Dodo tanpa memberikan Dissya kesempatan untuk bicara. “Halo. Lo masih
disitu kan?” Tanyanya, takut Dissya tiba-tiba menghilang.
“Iya, gue masih disini.” Jawab
nya dengan nada suara menahan tangis.
Studio musik milik pria itu pun
malam ini terasa lengang. Dodo berniat menjelaskan semuanya kepada wanita yang
selama ini menyukainya. Dia tak ingin memberi harapan lebih pada gadis yang
baru diketahuinya dari Citra. “Gue ngerasa keganggu sama surat dan lollypop
yang hampir setahun ini lo kirim ke gue. Gue lebih suka kalo lo terang-terangan
deket sama gue, nggak kaya gini Sya.” Hati Dissya meleleh seketika mendengar
Dodo memanggilnya dengan sebutan “Sya”. Baru kali ini ada yang memanggilnya
dengan sebutan itu lebih lagi dipanggil oleh pangeran ikan bergitar pujaannya.
“Gue paling nggak suka sama pengagum rahasia, menurut gue mereka lemah. Dan gue
nggak mau lo jadi bagian dari orang-orang lemah itu. Kalo lo pikir gue cuek dan
nggak mau bergaul sama orang diluar komunitas gue, lo salah. Gue selalu terbuka
sama semua orang yang punya niat baik untuk deket sama gue. Citra udah cerita
semuanya dan gue selalu simpen semua barang ataupun surat yang lo kasih buat
gue. Gue ngehargain perasaan lo sya, tapi gak untuk bales perasaan lo.” Helaan
napas terdengar setelah Dodo menyelesaikan kalimatnya.
Diseberang telepon, diatas
balkon, dibawah langit berbintang seorang gadis menangisi takdirnya. Menyadari
bahwa cinta yang selama ini ia tunggu tak kan datang, justru terang-terangan
melangkah pergi. Isak tangisnya terdengar cukup kuat membuat rasa bersalah
menyelinap masuk kedalam hati Dodo. “Sya, lo enggak apa-apa kan? Gue mohon
jangan nangis.” Ujar Dodo tulus.
“Thanks Do.” Jawabnya sambil
mengusap air mata, menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya. Berharap
lukanya juga terhembus pergi. “Gue minta maaf kalo surat dan lollypop gue
justru buat lo kesel. Gue cuma bingung gimana ngungkapin semuanya. Gue bukan tipe
orang yang gampang bergaul. Bahkan gue sering ngerasa takut sama bayangan gue
sendiri. Tapi malam ini paling nggak semuanya udah jelas. Nggak ada lagi
pertanyaan-pertanyaan yang ganggu tidur gue. Bahkan ini semua udah lebih dari
cukup Do.” Jawabnya dengan suara bergetar.
“Gue gak bisa sya bales perasaan
lo. Tapi, gue bisa jadi temen yang baik buat lo, seperti Citra.” Tambah Dodo
membuat tangis Dissya kali ini pecah. “Kalo lo mau nangis, jangan ditahan deh,
gue dengerin hehehe.” Ujarnya berusaha menghilangkan kecanggungan.
Dissya justru tertawa mendengar
kalimat Dodo. Menangis dan tertawa dalam waktu yang bersamaan. Merasa bahagia
dan sedih dalam satu waktu. “Do?” Panggil Dissya dengan suara sedikit serak.
“Kalo lo nggak seperti yang gue pikir selama ini. Please say good night for
me.” Pintanya dengan penuh harap.
Dehaman keras terdengar dari
ujung telepon. “Sya, good night.” Ucap Dodo dengan suara tulus.
Tut tut tut
Dissya memutuskan teleponya.
Malam ini dia belum sanggup bicara lebih banyak dengan pria yang telah
mematahkan hatinya sekaligus membuat perasaannya sedikit lega. Yang ingin
Dissya lakukan malam ini hanya menangis, melepaskan segala kekalutan yang
membebaninya setiap malam. Esok hari semoga segalanya dimudahkan. Dissya
menggenggam satu permen lollypop dan menggenggamnya erat. “Thanks Do.”
Citra menghampiri Dissya yang
berdiri dibawah pohon beringin besar dengan bunga mawar biru dan pita orange
yang membuatnya unik. “Eh, itu Dodo Diss, yuk cepetan.” Dengan sergap Citra
menarik tangan Dissya yang sedikit gempal itu. “Lo mau foto berapa kali hehe.”
Tanyanya disambung cengiran lebar.
“Hai Dodo. Waah.. selamat ya udah
lulus. Ini bunga buat lo. Foto yuk.” Ajaknya dengan suara ringan dan tanpa
kecanggungan.
“Wah, thanks ya Sya. Bunga lo
unik. Tapi sejujurnya gak nyambung warnanya, yuk foto.” Ucap Dodo diikuti suara
tawa yang kini bersahabat.
Klik.
“Sya, gue mau ngomong sebentar.”
Pinta Dodo. Citra dengan sangat tahu diri pergi menjauh. “Gue punya ini buat
lo.” Dodo memberikan sebuat kaset demo ciptaannya. “Mungkin ini hari terakhir
kita ketemu, karena setelah ini gue bakal tinggal di Singapura untuk rekaman
dan mengejar mimpi gue. Gue seneng bisa kenal lo. Dan lo harus tahu Sya, lo
punya hati yang hebat dibanding para hati yang cuma bisa diem aja.” Dodo
mengakhiri kalimatnya dengan sebuah pelukan persahabatan. Hati Dissya kembali
bergejolak, rasa itu belum sepenuhnya hilang meski Dodo mematahkan. Tapi atas segala
yang pernah terjadi, hari ini hari terbaik selama Dissya menyukai Dodo. Nikmat
mana yang bisa Dissya dustakan setelah mendapat pelukan dan foto berdua plus
album demo musik dari pangeran ikan bergitar.
“Sukses ya Do.” Senyum Dissya
tulus. “Gue selalu disini dan oh, iya, salam ya buat tunangan lo disana.”
Kalimat itu menjadi kalimat perpisahan. Dissya dan Citra melambai ke arah mobil
Dodo yang melesat cepat keluar kampus. Citra menatap sahabatnya dengan tatapan
sayang. “Diss, rasa adalah rasa. Cinta adalah cinta. Dikatakan atau tidak itu
tetap cinta. Dan kalaupun ditolak itu tetap cinta, paling disebut dengan cinta
tak sampai.” Ujar Citra mengutip dari buku Tere Liye. “Gue punya ini buat lo.
Gue rasa buku ini cocok buat lo, yuk cabut, gue laper.” Tambahnya lagi setelah
memberikan buku kumpulan sajak milik Tere Liye.
“Dikatakan atau tidak dikatakan
itu tetap cinta.” Ujarnya lirih membaca sampul depan buku yang diberikan Citra.
Dissya pun berlari mengejar Citra yang berjalan menuju arah parkir. “Thanks Cit,
yuk gue traktrir makan.” Ucap Dissya diikuti dengan senyum mengembang dari
keduanya.
Tamat.
#NulisRandom2015
Komentar
Posting Komentar