Langsung ke konten utama

Ini tetap cinta bukan? (2)



“Kan gue udah bilang jangan telepon Dodo dulu. Lo gak sabaran sih Diss.” Repet Citra dengan cepat. “Dodo itu tipe cowok yang paling gak suka sama pengagum rahasia, dia lebih suka kenalan secara terang terangan. Menurut dia  pengagum rahasia itu lemah. Gue juga barusan dapet infonya tadi waktu ketemu dia di studio musik pas banget saat lo nelepon dia.” Yang dijelaskan hanya memberikan tatapan kosong. “Terus gue harus gimana Cit?” Tanyanya dengan nada suara pasrah. Citra mengajak Dissya duduk di sofa ruang tamunya, Citra menjelaskan bahwa dia sudah memberi tahu secara detail mengenai sosok Dissya yang selama ini begitu mengaggumi pangeran ikan bergitar. Itulah sebutan Dissya untuk Dodo, setelah Dissya tahu Dodo mahasiswa jurusan budidaya perikanan.
“Dia welcome banget kok Diss waktu gue cerita soal lo. Dia cuma ngerasa keganggu sama surat dan lollypop misterius itu.” Tatap Citra lembut sambil mengusap punggung Dissya. “Saran gue sih, lo telepon dia nanti malam, terus ngomong deh semua yang lo rasain.”
“Masa gue yang ngomong suka duluan?” Tanggap Dissya cepat.
“Itu pilihan lo. Gue pulang ya. Tugas gue selesai. Gue ada jadwal kencan.” Pamit Citra dengan cengiran lebar di bibirnya, kemudian pergi menghambur ke luar gerbang.
“Cit.” Panggil Dissya cepat. “Gue suka sama Dodo dari acara akustik yang lo adain satu tahun lalu, dan selama itu juga gue cuma jadi orang lemah seperti yang Dodo bilang.” Semburat wajah sendu terlihat di wajah gadis Padang itu. Citra mengela napas dan memberikan senyuman yang tulus untuk sahabatnya. Ada rasa bersalah dalam hatinya, dia menyembunyikan suatu kebenaran bahwa Dodo sudah memiliki seorang tambatan hati.
“Seandainya gue tahu lebih awal Diss.” Ucap Citra dalam hatinya.
Malam itu bulan, bintang, serta balkon yang sunyi menjadi saksi keberanian seorang pengagum rahasia. Dissya pun menghela napas panjang meyakinkan diri bahwa malam ini adalah akhir dari penantiannya setelah banyaknya kertas orange bertuliskan kata penyemangat dan lollypop yang telah ia kirimkan untuk seorang pria yang berhasil membuat dunia nya hidup. Nada dering telepon pun tersambung. Detak jantung Dissya makin tak beraturan. “Halo.” Dengan suara yang tiba-tiba serak Dissya memberanikan diri.
“Halo, Dissya ya?” Tanyanya tanpa basa-basi. Darah gadis itu pun berdesir cepat. Pita suaranya pun seolah hilang. “Gue tahu dari Citra.” Sambung Dodo yang kali ini diakhiri dengan dehaman yang cukup keras. Pria itu berusaha menetralkan suasana yang cukup tegang. “Dan gue udah nunggu telepon lo dari tadi. Gue harus ngelurusin semuanya sama lo.” Sambung Dodo tanpa memberikan Dissya kesempatan untuk bicara. “Halo. Lo masih disitu kan?” Tanyanya, takut Dissya tiba-tiba menghilang.
“Iya, gue masih disini.” Jawab nya dengan nada suara menahan tangis. 
Studio musik milik pria itu pun malam ini terasa lengang. Dodo berniat menjelaskan semuanya kepada wanita yang selama ini menyukainya. Dia tak ingin memberi harapan lebih pada gadis yang baru diketahuinya dari Citra. “Gue ngerasa keganggu sama surat dan lollypop yang hampir setahun ini lo kirim ke gue. Gue lebih suka kalo lo terang-terangan deket sama gue, nggak kaya gini Sya.” Hati Dissya meleleh seketika mendengar Dodo memanggilnya dengan sebutan “Sya”. Baru kali ini ada yang memanggilnya dengan sebutan itu lebih lagi dipanggil oleh pangeran ikan bergitar pujaannya. “Gue paling nggak suka sama pengagum rahasia, menurut gue mereka lemah. Dan gue nggak mau lo jadi bagian dari orang-orang lemah itu. Kalo lo pikir gue cuek dan nggak mau bergaul sama orang diluar komunitas gue, lo salah. Gue selalu terbuka sama semua orang yang punya niat baik untuk deket sama gue. Citra udah cerita semuanya dan gue selalu simpen semua barang ataupun surat yang lo kasih buat gue. Gue ngehargain perasaan lo sya, tapi gak untuk bales perasaan lo.” Helaan napas terdengar setelah Dodo menyelesaikan kalimatnya.
Diseberang telepon, diatas balkon, dibawah langit berbintang seorang gadis menangisi takdirnya. Menyadari bahwa cinta yang selama ini ia tunggu tak kan datang, justru terang-terangan melangkah pergi. Isak tangisnya terdengar cukup kuat membuat rasa bersalah menyelinap masuk kedalam hati Dodo. “Sya, lo enggak apa-apa kan? Gue mohon jangan nangis.” Ujar Dodo tulus.
“Thanks Do.” Jawabnya sambil mengusap air mata, menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya. Berharap lukanya juga terhembus pergi. “Gue minta maaf kalo surat dan lollypop gue justru buat lo kesel. Gue cuma bingung gimana ngungkapin semuanya. Gue bukan tipe orang yang gampang bergaul. Bahkan gue sering ngerasa takut sama bayangan gue sendiri. Tapi malam ini paling nggak semuanya udah jelas. Nggak ada lagi pertanyaan-pertanyaan yang ganggu tidur gue. Bahkan ini semua udah lebih dari cukup Do.” Jawabnya dengan suara bergetar.
“Gue gak bisa sya bales perasaan lo. Tapi, gue bisa jadi temen yang baik buat lo, seperti Citra.” Tambah Dodo membuat tangis Dissya kali ini pecah. “Kalo lo mau nangis, jangan ditahan deh, gue dengerin hehehe.” Ujarnya berusaha menghilangkan kecanggungan.
Dissya justru tertawa mendengar kalimat Dodo. Menangis dan tertawa dalam waktu yang bersamaan. Merasa bahagia dan sedih dalam satu waktu. “Do?” Panggil Dissya dengan suara sedikit serak. “Kalo lo nggak seperti yang gue pikir selama ini. Please say good night for me.” Pintanya dengan penuh harap.
Dehaman keras terdengar dari ujung telepon. “Sya, good night.” Ucap Dodo dengan suara tulus.
Tut tut tut
Dissya memutuskan teleponya. Malam ini dia belum sanggup bicara lebih banyak dengan pria yang telah mematahkan hatinya sekaligus membuat perasaannya sedikit lega. Yang ingin Dissya lakukan malam ini hanya menangis, melepaskan segala kekalutan yang membebaninya setiap malam. Esok hari semoga segalanya dimudahkan. Dissya menggenggam satu permen lollypop dan menggenggamnya erat. “Thanks Do.”
Citra menghampiri Dissya yang berdiri dibawah pohon beringin besar dengan bunga mawar biru dan pita orange yang membuatnya unik. “Eh, itu Dodo Diss, yuk cepetan.” Dengan sergap Citra menarik tangan Dissya yang sedikit gempal itu. “Lo mau foto berapa kali hehe.” Tanyanya disambung cengiran lebar.
“Hai Dodo. Waah.. selamat ya udah lulus. Ini bunga buat lo. Foto yuk.” Ajaknya dengan suara ringan dan tanpa kecanggungan.
“Wah, thanks ya Sya. Bunga lo unik. Tapi sejujurnya gak nyambung warnanya, yuk foto.” Ucap Dodo diikuti suara tawa yang kini bersahabat.
Klik.
“Sya, gue mau ngomong sebentar.” Pinta Dodo. Citra dengan sangat tahu diri pergi menjauh. “Gue punya ini buat lo.” Dodo memberikan sebuat kaset demo ciptaannya. “Mungkin ini hari terakhir kita ketemu, karena setelah ini gue bakal tinggal di Singapura untuk rekaman dan mengejar mimpi gue. Gue seneng bisa kenal lo. Dan lo harus tahu Sya, lo punya hati yang hebat dibanding para hati yang cuma bisa diem aja.” Dodo mengakhiri kalimatnya dengan sebuah pelukan persahabatan. Hati Dissya kembali bergejolak, rasa itu belum sepenuhnya hilang meski Dodo mematahkan. Tapi atas segala yang pernah terjadi, hari ini hari terbaik selama Dissya menyukai Dodo. Nikmat mana yang bisa Dissya dustakan setelah mendapat pelukan dan foto berdua plus album demo musik dari pangeran ikan bergitar.
“Sukses ya Do.” Senyum Dissya tulus. “Gue selalu disini dan oh, iya, salam ya buat tunangan lo disana.” Kalimat itu menjadi kalimat perpisahan. Dissya dan Citra melambai ke arah mobil Dodo yang melesat cepat keluar kampus. Citra menatap sahabatnya dengan tatapan sayang. “Diss, rasa adalah rasa. Cinta adalah cinta. Dikatakan atau tidak itu tetap cinta. Dan kalaupun ditolak itu tetap cinta, paling disebut dengan cinta tak sampai.” Ujar Citra mengutip dari buku Tere Liye. “Gue punya ini buat lo. Gue rasa buku ini cocok buat lo, yuk cabut, gue laper.” Tambahnya lagi setelah memberikan buku kumpulan sajak milik Tere Liye.
“Dikatakan atau tidak dikatakan itu tetap cinta.” Ujarnya lirih membaca sampul depan buku yang diberikan Citra. Dissya pun berlari mengejar Citra yang berjalan menuju arah parkir. “Thanks Cit, yuk gue traktrir makan.” Ucap Dissya diikuti dengan senyum mengembang dari keduanya.


Tamat.
#NulisRandom2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sembunyikan Saya

Kepada mu yang masih menyembunyikan saya dari seluruh dunia. Kita pernah sama-sama saling bersilang jalan. Pernah saling bersisian. Pernah saling pergi. Tapi, apa yang semestinya jadi satu pasti akan kembali.  Kita pernah pula saling melewatkan. Pernah juga dengan berat hati melepas genggaman. Tapi, apa yang semestinya jadi milik kita akan datang tanpa pernah memberi tahu. Kini, saya senang berada disini. Di tempat yang ingin saya tetapkan menjadi rumah. Tempat saya pulang dari segala lelah. Tempat yang tidak seorang pun tahu, karena kamu dengan begitu tenang menempatkan saya dengan begitu rahasia di situ. Di hatimu.  Maka dengan surat ini, kamu harus bertanggung jawab karena sudah membuat saya betah. Kamu harus menjaga saya agar tetap berada di sisimu. Meyakinkan saya untuk tidak membuka pintu. Membuat saya jatuh hati setiap hari padamu. Sebagai hadiah, kamu dapat menikmati senyum saya yang manis semau mu😄 #30HariMenulisSuratCinta

Thank You Mozaik

Hai, Mozaik Al Isamer, putra sulung Bapak Insan Asyik.  Sekitar tiga hari yang lalu aku berkunjung ke typoganteng.com dan membaca tulisan yang berjudul "Ayah, Kau Terbaik!". Dan karena ulahmu menuliskan itu berhasil membuatku menangis dan merindukan ayahku.  Yang paling bisa buat mata berkaca-kaca di bagian yang ini, "Gue anak nggak berguna, kalau dia nggak bisa nikmatin masa tua nya." Aku rasa apapun yang berhubungan dengan orang tua akan selalu bersinggungan dengan air mata.  Sebelumnya, aku akan memperkenalkan diri dengan sejelas-jelasnya karena ini bukan surat kaleng. Namaku Vici Kurnia Ayuningtyas, putri sulung Bapak Muazin. Kelahiran Lampung, 22 Mei 1995. Seperti yang kamu tuliskan sebelumnya bahwa setiap Ayah akan selalu punya "keren" nya masing-masing. Tapi, pandangan anak perempuan dan laki-laki tentang Ayah akan sangat berbeda menurutku. Seperti nama Ayahku; Muazin, yang katanya arti nama itu adalah pria yang mengumandangkan adzan. Ta...

Menyukai Seseorang

Bukankah menyukai seseorang adalah hal yang mudah? Hanya cukup dengan menyukai nya, tanpa perlu tahu siapa mantan kekasihnya, pekerjaannya, apa yang sedang ada dalam pikiran nya. Hidup akan baik-baik saja sepertinya. Hari-hari hanya akan ada perasaan baik, mendoakan, mengharapkan. Dalam menyukai kita selalu diperbolehkan berharap, tidak ada yang bisa membatasi rasa dan harapan itu karena semuanya milikmu. Rasa ingin tahu tentang nya adalah yang paling menguasi pikiran mu. Tentang hobi nya,  makanan dan film favorit nya, tipe pasangan yang menjadi impian nya. Padahal rasa ingin tahu itu bisa melukai. Tapi, tiap kali kamu menyukai seseorang seolah kamu merasa jadi manusia yang paling bisa menahan rasa sakit. Kamu merasa baik-baik saja saat orang yang kamu sukai muncul di timeline mu.  Hadir sesekali lewat instastory. Hanya dengan itu kamu merasa jadi yang paling tahu tentang diri nya. Kamu merasa hari mu dipenuhi tawa dengan melihat foto nya yang sedang tersenyum,...