Kereta malam ini lengang sekali tapi
hati saya sesak. Meskipun hal baik datang, hal buruk belum mau terlupakan. Saya
masih memandang foto pria yang begitu terang-terangan menyakiti hati saya. Masih
terselip harapan semoga dia kembali dan berubah pikiran. Saya tahu, itu akan
menjadi hal bodoh. Tapi jika saya merelakan nya apakah saya dulu tidak
sungguh-sungguh mencintai nya?
Banyak sekali pertanyaan yang menunggu
untuk di jawab. Saya hanya tidak siap mengeluarkan jawaban yang berbeda dengan
kenyataan. Saya masih termenung. Perjalanan sebentar lagi usai, hanya tinggal
tiga stasiun dan saya bisa menangis kuat untuk yang terakhir kali nya. Saya sudah
tidak mau merasakan nyeri ini lagi. Malam ini semuanya harus selesai.
Getar ponsel genggam menahan air mata
saya yang sudah hampir tidak bisa ditahan. Nama Fauzan yang tertera pada layar
ponsel. Jika ini masalah pekerjaan, sungguh saya akan mengutuk Fauzan.
“Vi, jadi mau ikut ke Jogja nggak? Gue
udah dengar kabar dari pak Rizal nih. Besok gue udah harus pesan tiket pesawat.”
Terang Fauzan jelas.
“Saya masih boleh ikut?” Tanya saya
meyakinkan.
“Pak Rizal yang suruh.” Jawab Fauzan
mulai kehilangan kesabaran.
“Oke. Saya ikut.”
“Yes, gitu dong. Kirimin KTP lu ya,
biar gue bisa data. Bye.”
Saya sampai di pemberhentian bersamaan
dengan putus nya sambungan telepon Fauzan. Mungkin ini memang rencana Allah
untuk membahagikan saya setelah disakiti salah satu hambaNya.
“Berarti saya bisa bertemu Art.” Ujar saya
pada diri sendiri. Saya berhenti sejenak dan menyadari apa yang baru saja saya
pikirkan. Saya ikut ke Jogja untuk menenangkan diri dari perasaan bukan untuk
Art. Kenapa dia yang justru hadir di pikiran saya. Buru-buru saya mengusir
apapun yang menyangkut Art.
Rencana yang sudah tersusun rapi hari
ini berubah begitu saja. Air mata yang sudah saya tahan dari perjalanan
tiba-tiba saja hilang. Saya justru tersenyum mengingat apa yang sudah saya
lakukan hari ini dengan melibatkan Art. Wajah saya memerah. Saya malu, tapi
tidak tahu karena apa.
Bagaimana bisa pria itu mengubah
perasaan saya secepat ini?
Atau Allah yang sedang ingin
menunjukkan kuasa bahwa Dia mampu membolak-balikkan hati manusia?
Malam ini saya tidak jadi menangis. Semua
sakit itu belum sepenuhnya hilang. Tapi segalanya mulai ringan.
Terima kasih, Art. Terima kasih Allah.
#Cerbung Part4
kak, dilanjut secepatnya ya.. :)
BalasHapusWah terima kasih sudah membaca ya. Diusahakan ada part selanjut nya 😊
BalasHapus