
Tentang kehilangan
Percayalah pada apa apa
yang tak mampu tersebutkan
Kehilangan adalah hal
yang paling menyakitkan
Tentang secangkir kopi
juga fadilah malam malam penuh puisi
Tak ada romansa cinta,
hanya sebait pahala di malam malam Ramadhan
Dimana skenario Tuhan
sedang berjalan, menabur benih cinta di hati dua insan.
Namun sayangnya, salah
satu hati sengaja dikubur dilautan samudra terdalam, sengaja ditutup
Sedang hati lainnya
merapalkan bait penuh harap dalam tahajud
Bersama kantuk yang
tertahan
Menggumamkan kegelisahan
untuk seorang pria dipulau seberang
Malam yang dingin,
bulir kristal yang mengalir
Perempuan bisu dengan
cinta yang malu malu
Selalu memilih luka
atas jawaban dari doa doa
Selalu memilih sepi
untuk dinikmati sendiri
Selalu membiarkan rindu
mengendap, membusuk, dan berkarat
Menumpuk tentang apa
yang tak bisa diungkapkan
Bergelung peluh tentang
angan kebingungan, karena kodratinya mengawali cinta itu bagian pria
Sedang si wanita hanya
mampu bahagia diam diam mencintainya
Tak peduli pada musim
yang mengganti dirinya sendiri
Karena musim atas
hatinya adalah rahasia perihal rindu bisu, pedih, dan kerelaan
Selalu berputar hingga
fajar bosan memandang wanita dengan senyum berharap pelukan di sudut jendela
rumah nomor dua belas
Hingga langit tertawa
dan menjatuhkan hujan
Menyiksa wanita di
sudut jendela dengan harap dan kenang
Musim ini bukan lagi
favoritnya
Sejak semoga atas
mimpinya tiada
Hingga terciptalah dua
hujan petang itu
Langit malan dan mata
perempuan bisu
Begitu pilu, deras, dan
sakit.
Ria tak lagi ada setelah
sengaja si pria mematahkan sesuatu dalam dada kirinya
Pagi raya tak pernah
terjadi setelah si pria terang terangan pergi
Ini bukan lagi bait
puisi
Ini sajak kehilangan
Tentang terhapusnya
kata yang paling ia sukai
Tentang perasaan yang tak berbalas
Tentang pernyataan yang
tak akan pernah tuntas
Tentang perjuangan dan
menunggu
Tentang abaian dan
hirauan
Tentang berhenti dan
cukup sampai disini
Ini sajak kehilangan
Perihal pilihan wanita
di sudut jendela menganga
Membiarkan luka
melebarkan rongga rongga
Mengikhlaskan dirinya
dilalap habis rayap, waktu, dan usia
Menghentikan kerja nadi
dan hati
Hingga hujan
menghentikan siksa, harap dan kenang masih jua tak henti bersua
Mata perempuan bisu
kini buta
Karena gelap oleh
semoga dan semoga
Ini sajak kehilangan
Tentang rindu yang tak
pernah bosan berusaha selamat dari abaian yang begitu jahat
Kehilangan harapan pada
bait doa yang malam lantunkan
Kehilangan yang
tak pernah dimiliki
Kehilangan pria di
pulau seberang yang semoga membaca sajak ini.
Komentar
Posting Komentar