Langsung ke konten utama

My trip My friendship



Tak ada yang lebih dirindukan Rere selain menikmati cokelat panas di pinggir jendela kamarnya bersama Nadira. Sahabat baik nya sejak kecil itu sedang tidur dengan pulas, mungkin ini yang paling baik dari pada Nadira terus-terusan menahan sakit. Jika saja Rere tahu perjalanan itu akan merenggut nyawa sahabatnya, dia tidak akan pernah mengabulkan nya untuk Nadira.
…..
“Re ayolah, untuk yang pertama dan terakhir. Janji.” Pinta Nadia seraya mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah ke angkasa.
“Nggak bisa. Aku nggak mau ambil resiko, itu bahaya buat kamu Nad.” Jawab Rere tegas. Sudah lebih dari seminggu Nadira merayu Rere agar diijinkan ikut ke Lombok dan mendaki Gunung Rinjani, bukan merasa terganggu jika Nadira ikut, hanya saja Rere tahu kanker paru-paru yang diderita Nadira akan membahayakan bagi kesehatan sahabatnya itu. Tapi, bukan Nadira namanya kalau tidak bisa membuat orang menuruti permintaannya.  Dengan wajah sayu dan memelas Nadira mengeluarkan jurus andalannya, memanfaatkan penyakit yang dideritanya supaya segala ingin nya dituruti, dan itu memang permintaan terakhir Nadira.
“Janji Re aku nggak akan nyusahin siapapun disana. Ini permintaan terakhir aku setelah ini aku akan nurut semua yang kamu bilang.”
“Apaan sih Nad, sekali lagi kamu bilang permintaan terakhir aku nggak akan pernah ajak kamu pergi kemana-mana lagi.” Bentak Rere menahan tangis. Rere tahu kanker itu sudah hampir menjalar keseluruh tubuh Nadira, namun sahabat nya itu memang pintar merahasiakan derita. “Kamu boleh minta apa aja Nad, dan nggak ada yang namanya permintaan terakhir.” Tangis Rere seketika pecah, sedang Nadira merasa bersalah membuat satu-satunya orang yang begitu peduli padanya menangis karena ulahnya.
“Maaf Re, aku nggak akan ikut kalau kamu bilang jangan.” Sambil menggenggam tangan Rere hangat.
Helaan nafas terdengar berat dari mulut wanita pencinta gunung itu, tapi dia sudah bersumpah pada almarhum orang tua Nadia akan menjaga dan membuat Nadia bahagia semampu yang ia bisa. “Siapin ransel sekarang juga, bawa jaket, pakaian hangat yang banyak, sarung tangan dan kaos kaki jangan lupa. Sisanya aku yang urus. Sehabis sholat subuh kita berangkat.”
“Siap komandan. Renata Maharania kamu yang terbaik.” Ujar Nadira sebelum bergegas ke kamar nya untuk berkemas.
“Nad, bangun dong, sudah sampai. Hey, ayo bangun.” Paksa Rere dengan sedikit mengguncang tubuh Nadira yang kurus digerogoti penyakit. Badan Nadira sangat panas, tubuhnya berkeringat dan Rere baru sadar jika sahabatnya sudah sangat pucat.
“Re.” Ucap Nadira lirih. Perasaan Rere sudah kalut dan tak bisa menahan tangis. Rere terus menggenggam erat tangan Nadira seraya menguatkan. “Kamu harus kuat, kita sudah disini. Rinjani dan gili trawangan sudah dekat Nad.” Tangis Rere pecah, dibarengi dengan tatapan aneh penumpang kapal dari Bali-Lombok.
Dengan wajah yang sangat menyebalkan Nadira tersenyum dan berlagak sok kuat “Aku hanya bercanda Re, kamu tahu kan aku tidak akan mati sebelum dipuncak Rinjani.” Ujarnya dengan senyum kesakitan. Setelah itu Rere dibantu teman satu tim nya dalam ekspedisi Rinjani untuk tetap bisa membawa Nadira. Meskipun harus berdebat begitu lama Nadira akhirnya diijinkan mendaki dengan segala resiko yang Rere harus siap hadapi. Akhirnya tim ekspedisi Rinjani sampai di pos 3 dengan menggendong Nadira secara bergantian, dan setelah ini adalah jalur penyiksaan. Rere tahu Nadira sudah tersiksa sejak awal. Obat yang bisa meredakan kini sudah tidak berfungsi, Nadira sudah benar-benar kehilangan sadar, detak jantungnya samar-samar.
Udara tidak terlalu dingin, namun cukup untuk membuat sebagian pendaki menggigil. Rere terus saja mengajak Nadira bicara, Rere hanya pura-pura buta. Pendaki pria yang bersedia menggendong Nadira melihat Rere dengan sayu berusaha menguatkan. Semakin lama tanjakan semakin terjal dan berpasir. Senter yang membentuk titik cahaya terlihat di depan dan di belakang. Saat matahari muncul cukup membuat mata ingin selalu memandang. Ditengah langkah yang terseok-seok Rere berkali-kali berhenti menghapus air mata nya, menguatkan dirinya. Hingga deru angin kencang menemani suara kaki yang bergesakan dengan pasir dan kerikil dan mencapai puncak bukan lagi hal yang melegakan. Pagi ini puncak Rinjani berduka, dan kalimat yang tak pernah ingin Rere dengar terucap
Innailahi wa innaillahi ra’jiun.” Semua pendaki hanya melihat Rere prihatin, ada juga yang ikut mengeluarkan tangis.
“Naaaaaddddd.” Teriak Rere. “Kita sudah di puncak dan jika kamu lelah dan ingin beristirahat, tidurlah. Lepaskan segala yang sakit, segala yang mengganggu. Aku dan semua disini sudah mengikhlaskan.” Ucap Rere tegar dan membiarkan jasad Nadira Arianjani dimakamkan, seperti kata Nadira, bahwa dia adalah putri Rinjani dan akan mati di puncak Gunung Rinjani. Semua permintaan nya kini terkabul. Rere hanya ingin turun.
Perjalanan turun pun terasa lebih berat dari mendaki. Rere memutuskan untuk merosot diantara pasir meski menyebabkan rasa tak nyaman di kaki. Hati nya juga sedang tak nyaman, kosong dan gelap. Kabut menemani dengan begitu pekat.
Tim ekspedisi Rinjani memutuskan untuk bermalam sekali lagi di pos 3, mereka tahu kondisi Rere sedang begitu patah. Namun, bukan Rere jika bersedih begitu larut. Gili trawangan menjadi targetnya, ia ingin menghadiahi sunset gili trawangan untuk almarhumah sahabatnya. Mengabadikan dengan kamera Polaroid dan membiarkannya terbang bersama angin hingga sampai pada Nadira. Di belakang foto sunset itu tertulis kalimat paling tulus.
“Ini sunset terbaik di dunia, untukmu penikmat cokelat panas saat senja. Dan kamu akan selalu abadi, bukan teman atau sahabat. Tapi belahan jiwa.”

Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen dari Tiket.com dan nulisbuku.com #FriendshipNeverEnds #TiketBelitungGratis

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sembunyikan Saya

Kepada mu yang masih menyembunyikan saya dari seluruh dunia. Kita pernah sama-sama saling bersilang jalan. Pernah saling bersisian. Pernah saling pergi. Tapi, apa yang semestinya jadi satu pasti akan kembali.  Kita pernah pula saling melewatkan. Pernah juga dengan berat hati melepas genggaman. Tapi, apa yang semestinya jadi milik kita akan datang tanpa pernah memberi tahu. Kini, saya senang berada disini. Di tempat yang ingin saya tetapkan menjadi rumah. Tempat saya pulang dari segala lelah. Tempat yang tidak seorang pun tahu, karena kamu dengan begitu tenang menempatkan saya dengan begitu rahasia di situ. Di hatimu.  Maka dengan surat ini, kamu harus bertanggung jawab karena sudah membuat saya betah. Kamu harus menjaga saya agar tetap berada di sisimu. Meyakinkan saya untuk tidak membuka pintu. Membuat saya jatuh hati setiap hari padamu. Sebagai hadiah, kamu dapat menikmati senyum saya yang manis semau mu😄 #30HariMenulisSuratCinta

Thank You Mozaik

Hai, Mozaik Al Isamer, putra sulung Bapak Insan Asyik.  Sekitar tiga hari yang lalu aku berkunjung ke typoganteng.com dan membaca tulisan yang berjudul "Ayah, Kau Terbaik!". Dan karena ulahmu menuliskan itu berhasil membuatku menangis dan merindukan ayahku.  Yang paling bisa buat mata berkaca-kaca di bagian yang ini, "Gue anak nggak berguna, kalau dia nggak bisa nikmatin masa tua nya." Aku rasa apapun yang berhubungan dengan orang tua akan selalu bersinggungan dengan air mata.  Sebelumnya, aku akan memperkenalkan diri dengan sejelas-jelasnya karena ini bukan surat kaleng. Namaku Vici Kurnia Ayuningtyas, putri sulung Bapak Muazin. Kelahiran Lampung, 22 Mei 1995. Seperti yang kamu tuliskan sebelumnya bahwa setiap Ayah akan selalu punya "keren" nya masing-masing. Tapi, pandangan anak perempuan dan laki-laki tentang Ayah akan sangat berbeda menurutku. Seperti nama Ayahku; Muazin, yang katanya arti nama itu adalah pria yang mengumandangkan adzan. Ta...

Menyukai Seseorang

Bukankah menyukai seseorang adalah hal yang mudah? Hanya cukup dengan menyukai nya, tanpa perlu tahu siapa mantan kekasihnya, pekerjaannya, apa yang sedang ada dalam pikiran nya. Hidup akan baik-baik saja sepertinya. Hari-hari hanya akan ada perasaan baik, mendoakan, mengharapkan. Dalam menyukai kita selalu diperbolehkan berharap, tidak ada yang bisa membatasi rasa dan harapan itu karena semuanya milikmu. Rasa ingin tahu tentang nya adalah yang paling menguasi pikiran mu. Tentang hobi nya,  makanan dan film favorit nya, tipe pasangan yang menjadi impian nya. Padahal rasa ingin tahu itu bisa melukai. Tapi, tiap kali kamu menyukai seseorang seolah kamu merasa jadi manusia yang paling bisa menahan rasa sakit. Kamu merasa baik-baik saja saat orang yang kamu sukai muncul di timeline mu.  Hadir sesekali lewat instastory. Hanya dengan itu kamu merasa jadi yang paling tahu tentang diri nya. Kamu merasa hari mu dipenuhi tawa dengan melihat foto nya yang sedang tersenyum,...