Kamu
yang begitu jauh dan tak mudah untuk direngkuh, yang belum pernah kulihat
sebelumnya, yang membuat aku jatuh cinta.
Setiap
malam aku meyakinkan hatiku bahwa kamu tak mungkin tahu bahwa ada seorang
wanita yang hanya kamu sebut teman biasa, sungguh-sungguh biasa, mencintaimu
dengan begitu bodoh, mencintaimu dalam diam, dalam waktu yang tak mungkin bisa
kamu bayangkan.
Tapi
semakin aku berusaha meyakinkan, rasa untukmu semakin dalam tertanam. Ini memang
begitu menyiksa, menyeretku pada malam yang selalu dikelilingi wajahmu,
membawaku pada pilu saat rindu tak mampu bertamu kerumah mu, memaksaku menahan
tangis dalam malam untuk temu yang tak kau janjikan.
Apa
langit malam di kotamu tak pernah melukiskan wajahku? Apa angin malam yang selalu
mampu membuatku merindu tak pernah membisikan namaku?
Seandainya
kamu tahu aku menginginkan kamu, mengharuskan kamu tahu, mengharuskan kamu ada
disisiku, tapi kembali lagi pada kata awal dikalimat ini, ‘seandainya’.
Mencintai
dalam diam sungguh melelahkan, selalu disalahkan. Mungkin inilah yang paling
menyakitkan dimana ada konsep wanita tidak boleh menyatakan perasaan duluan.
Kamu
yang selalu mengagumkan, beri aku cara untuk sejenak melupakan, kamu dan dunia
mu yang selalu menginspirasiku. Atau beri aku kesempatan untuk bisa terbayang
dalam benak mu meski hanya semalam.
Karena
sungguh seharusnya kamu ada disini, agar mengerti rasanya mencintai seorang
diri. Bahkan saat hujan seharusnya ada kamu disisiku, menenangkan aku bahwa
sesungguhnya kamu sudah mencintaiku juga sejak dulu.
Kalimat
terakhir itu mimpi ku untukmu, mimpi seorang wanita yang jatuh cinta pada pria
diluar jangkaunnya. Namun, harapan padamu tak pernah mati, selalu tumbuh dan
tak pernah jenuh menunggu mu mengerti dan menjatuhkan hati.
Komentar
Posting Komentar