Langsung ke konten utama

Tolong Sembuhkan Saya

Hai Kak Bara,
Apa kabar? 
Semoga selalu dalam keadaan bahagia.

Sebelumnya perkenalkan, saya Vici pembaca buku mu yang tidak setia belakangan ini. Maafkan saya.

Saya tidak tahu mengapa surat ini pada akhirnya nya saya tuliskan untukmu. Karena mungkin ada pertanyaan yang memang tidak ada jawaban. Sesederhana itu. 

Untuk mengawali surat ini, saya akan menceritakan perasaan saya yang sudah bertahun-tahun saya pendam. Mungkin tidak ada hubungan nya denganmu. Tapi, saya tidak peduli. 
Dua tahun yang lalu saya mengenal seorang pria. Kami hanya saling mengenal, lalu Tuhan putar balikan hati saya hingga jatuh cinta. Tapi Tuhan lupa untuk memutar balikan hati pria itu. Saya jatuh cinta sendirian. Saya bertahan hingga detik saya menuliskan surat ini dan yang menguatkan saya adalah kekuatan rahasia yang saya sendiri tidak tahu apa itu. 

Tapi, di detik yang sama logika saya mulai bekerja. Menyadarkan saya dari kemungkinan yang selalu saya ciptakan. Saya lelah, tidak lagi kuat. Saya takut, tidak lagi berani. Saya ingin dibahagiakan, tidak lagi membahagiakan. Saya ingin di cari dan dirindukan. Saya ingin diakui keberadaannya. 

Kak Bara, jika saya pergi apa ada kemungkinan bahwa nanti nya pria itu akan mencari saya? 

Bahwa nanti pria itu akan merindukan saya? 

Mencintai saya? 

Ini yang membuat saya lelah. Bertaruh dengan kata "mungkin".

Dengan sampai nya surat ini padamu. Saya ingin belajar melepaskannya. Paling tidak untuk hari ini saja. 

Tidak tahu bagaimana dengan lusa. Karena saya pikir kita tidak akan pernah bisa memastikan sebuah perasaan. 

Maka, tolong bantu saya menyembuhkan perasaan ini. Sepertinya saya butuh puisi untuk menguatkan diri sendiri. Meskipun saya tahu kekuatan itu harusnya berasal dari dalam diri saya. Tapi, saya butuh seseorang untuk belajar melepaskannya. Bukan untuk menggantikan nya. Tapi, menguatkan saya. 

Saya rasa surat ini sudah harus berakhir. Semoga kamu sedia menolong saya. 
Terima kasih sudah dengan terpaksa menjadi penerima surat saya. Terima kasih sudah membuang waktu membaca surat saya. Terima kasih.

Semoga kamu selalu bahagia.

#PosCintaTribu7e

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sembunyikan Saya

Kepada mu yang masih menyembunyikan saya dari seluruh dunia. Kita pernah sama-sama saling bersilang jalan. Pernah saling bersisian. Pernah saling pergi. Tapi, apa yang semestinya jadi satu pasti akan kembali.  Kita pernah pula saling melewatkan. Pernah juga dengan berat hati melepas genggaman. Tapi, apa yang semestinya jadi milik kita akan datang tanpa pernah memberi tahu. Kini, saya senang berada disini. Di tempat yang ingin saya tetapkan menjadi rumah. Tempat saya pulang dari segala lelah. Tempat yang tidak seorang pun tahu, karena kamu dengan begitu tenang menempatkan saya dengan begitu rahasia di situ. Di hatimu.  Maka dengan surat ini, kamu harus bertanggung jawab karena sudah membuat saya betah. Kamu harus menjaga saya agar tetap berada di sisimu. Meyakinkan saya untuk tidak membuka pintu. Membuat saya jatuh hati setiap hari padamu. Sebagai hadiah, kamu dapat menikmati senyum saya yang manis semau mu😄 #30HariMenulisSuratCinta

Thank You Mozaik

Hai, Mozaik Al Isamer, putra sulung Bapak Insan Asyik.  Sekitar tiga hari yang lalu aku berkunjung ke typoganteng.com dan membaca tulisan yang berjudul "Ayah, Kau Terbaik!". Dan karena ulahmu menuliskan itu berhasil membuatku menangis dan merindukan ayahku.  Yang paling bisa buat mata berkaca-kaca di bagian yang ini, "Gue anak nggak berguna, kalau dia nggak bisa nikmatin masa tua nya." Aku rasa apapun yang berhubungan dengan orang tua akan selalu bersinggungan dengan air mata.  Sebelumnya, aku akan memperkenalkan diri dengan sejelas-jelasnya karena ini bukan surat kaleng. Namaku Vici Kurnia Ayuningtyas, putri sulung Bapak Muazin. Kelahiran Lampung, 22 Mei 1995. Seperti yang kamu tuliskan sebelumnya bahwa setiap Ayah akan selalu punya "keren" nya masing-masing. Tapi, pandangan anak perempuan dan laki-laki tentang Ayah akan sangat berbeda menurutku. Seperti nama Ayahku; Muazin, yang katanya arti nama itu adalah pria yang mengumandangkan adzan. Ta...

Menyukai Seseorang

Bukankah menyukai seseorang adalah hal yang mudah? Hanya cukup dengan menyukai nya, tanpa perlu tahu siapa mantan kekasihnya, pekerjaannya, apa yang sedang ada dalam pikiran nya. Hidup akan baik-baik saja sepertinya. Hari-hari hanya akan ada perasaan baik, mendoakan, mengharapkan. Dalam menyukai kita selalu diperbolehkan berharap, tidak ada yang bisa membatasi rasa dan harapan itu karena semuanya milikmu. Rasa ingin tahu tentang nya adalah yang paling menguasi pikiran mu. Tentang hobi nya,  makanan dan film favorit nya, tipe pasangan yang menjadi impian nya. Padahal rasa ingin tahu itu bisa melukai. Tapi, tiap kali kamu menyukai seseorang seolah kamu merasa jadi manusia yang paling bisa menahan rasa sakit. Kamu merasa baik-baik saja saat orang yang kamu sukai muncul di timeline mu.  Hadir sesekali lewat instastory. Hanya dengan itu kamu merasa jadi yang paling tahu tentang diri nya. Kamu merasa hari mu dipenuhi tawa dengan melihat foto nya yang sedang tersenyum,...