Langsung ke konten utama

Pencipta Lagu Sendu



*Terinspirasi dari lirik lagu dan musik video “Tanah Yang Sama” by Nanda Muhammad F. 

Dibalik lirik dan musik video yang katamu ditujukan untuk seorang teman, atau entah untuk siapa itu. Aku begitu menikmatinya, lirik tiap baitnya. Meski makna yang ku tangkap mungkin jauh dari apa yang coba kau ungkap. Tapi lagu itu begitu menginspirasi untukku. Aku membacanya dan memaknai artinya seperti ini,
Padamu pencipta lagu yang sendu, seluka itukah hingga gurat senja yang damai mampu membuatmu merasa kesepian, di tengah riuhnya para pemuja yang mulai berani menyatakan.
Pada hari bahagia yang dulu pernah ada kau dan dia, yang pernah berdiri di atas tanah yang sama, bahkan jutaan mimpi yang setengah mati coba diwujudkan bersama, justru terselip luka. Itulah waktu saat kau dipaksa mengingat hari dimana harusnya kau bahagia, yang kini tinggal ukiran sejuta rupa, katamu. Perihal kau yang selalu ingin didekatnya.
Namun kini, gelap dan pekat pun mencoba bersahabat. Menyamarkan jutaan mimpi yang pernah coba diperjuangkan tanpa henti. Coba melawan, namun daya tertahan pada kesunyian yang makin gemar menguasai harapan. Karena mungkin kamu kebingungan menerjemahkan dia, yang membuat malam terasa panjang dan pagi seperti senja yang tenggelam. 
Tapi, lagi-lagi doamu masih sama, semoga selalu bisa ada didekatnya.
Ingatkan dia pada lirik sendu ini.
“Tentang suka duka yang kita apungkan ke angkasa. Tentang kau si peracik tawa, peramu bahagia. Si penyedia bahu, pereda sendu.”
Bagaimana seorang pria pernah memenjarakan waktu, merelakan setiap detiknya demi untuk dilewati bersama. Bersama kenangan yang dipaksa berputar berirama mengelilinginya. Hingga kamu menyadari, kenangan tidak akan pernah pergi, akan selalu ada di tempatnya, untuk menunggu mu dewasa karenanya.
Pada akhirnya pilihanmu jatuh untuk tetap mengasihi, untuk kemudian melepaskan genggaman perihal segala yang menghalangi bahagia untuk hidupmu dan dia. Membiarkan dia meraih apa yang orang sebut sebagai impian.
Impian yang dibalut jutaan origami bintang yang terselip doa dalam ruang nyata. Merelakannya terus berjalan, melepaskannya pergi. Hingga dia lelah dan dia tahu yang dibutuhkannya adalah rumah untuk kembali. 
Dan ini tetes air mata terakhir, di detik selanjutnya hanya senyuman yang terukir. Karena bahagia yang nyata dirasa adalah saat kita tetap mencintai, mengasihi hingga waktu berkata cukup sampai disini. 

maaf jika ini tidak sesuai ekspetasi, ini hanya karya cipta dari penulis amatir. Kau hanya harus tahu, jika karyamu itu  cukup menginspirasi dan membuat imajinasi milikku berani berlari.



Tanah Yang Sama by Nanda Muhmmad F:


Yang terakhir terimakasih pemilik Matahari Abu Abu

Komentar

  1. Keren! Sangat! Setiap insan adalah inspirasi bagi insan lain, terlepas diketahui atau tidak. Terima kasih. :))

    BalasHapus
  2. Terimakasih kembali :)) Semoga saling terus menginspirasi.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sembunyikan Saya

Kepada mu yang masih menyembunyikan saya dari seluruh dunia. Kita pernah sama-sama saling bersilang jalan. Pernah saling bersisian. Pernah saling pergi. Tapi, apa yang semestinya jadi satu pasti akan kembali.  Kita pernah pula saling melewatkan. Pernah juga dengan berat hati melepas genggaman. Tapi, apa yang semestinya jadi milik kita akan datang tanpa pernah memberi tahu. Kini, saya senang berada disini. Di tempat yang ingin saya tetapkan menjadi rumah. Tempat saya pulang dari segala lelah. Tempat yang tidak seorang pun tahu, karena kamu dengan begitu tenang menempatkan saya dengan begitu rahasia di situ. Di hatimu.  Maka dengan surat ini, kamu harus bertanggung jawab karena sudah membuat saya betah. Kamu harus menjaga saya agar tetap berada di sisimu. Meyakinkan saya untuk tidak membuka pintu. Membuat saya jatuh hati setiap hari padamu. Sebagai hadiah, kamu dapat menikmati senyum saya yang manis semau mu😄 #30HariMenulisSuratCinta

Thank You Mozaik

Hai, Mozaik Al Isamer, putra sulung Bapak Insan Asyik.  Sekitar tiga hari yang lalu aku berkunjung ke typoganteng.com dan membaca tulisan yang berjudul "Ayah, Kau Terbaik!". Dan karena ulahmu menuliskan itu berhasil membuatku menangis dan merindukan ayahku.  Yang paling bisa buat mata berkaca-kaca di bagian yang ini, "Gue anak nggak berguna, kalau dia nggak bisa nikmatin masa tua nya." Aku rasa apapun yang berhubungan dengan orang tua akan selalu bersinggungan dengan air mata.  Sebelumnya, aku akan memperkenalkan diri dengan sejelas-jelasnya karena ini bukan surat kaleng. Namaku Vici Kurnia Ayuningtyas, putri sulung Bapak Muazin. Kelahiran Lampung, 22 Mei 1995. Seperti yang kamu tuliskan sebelumnya bahwa setiap Ayah akan selalu punya "keren" nya masing-masing. Tapi, pandangan anak perempuan dan laki-laki tentang Ayah akan sangat berbeda menurutku. Seperti nama Ayahku; Muazin, yang katanya arti nama itu adalah pria yang mengumandangkan adzan. Ta...

Menyukai Seseorang

Bukankah menyukai seseorang adalah hal yang mudah? Hanya cukup dengan menyukai nya, tanpa perlu tahu siapa mantan kekasihnya, pekerjaannya, apa yang sedang ada dalam pikiran nya. Hidup akan baik-baik saja sepertinya. Hari-hari hanya akan ada perasaan baik, mendoakan, mengharapkan. Dalam menyukai kita selalu diperbolehkan berharap, tidak ada yang bisa membatasi rasa dan harapan itu karena semuanya milikmu. Rasa ingin tahu tentang nya adalah yang paling menguasi pikiran mu. Tentang hobi nya,  makanan dan film favorit nya, tipe pasangan yang menjadi impian nya. Padahal rasa ingin tahu itu bisa melukai. Tapi, tiap kali kamu menyukai seseorang seolah kamu merasa jadi manusia yang paling bisa menahan rasa sakit. Kamu merasa baik-baik saja saat orang yang kamu sukai muncul di timeline mu.  Hadir sesekali lewat instastory. Hanya dengan itu kamu merasa jadi yang paling tahu tentang diri nya. Kamu merasa hari mu dipenuhi tawa dengan melihat foto nya yang sedang tersenyum,...